BANYUMAS. Gemericik air Sungai Serayu meromantisasi nuansa pertunjukan panggung terbuka pada malam itu. Keindahan malam itu dihiasi oleh deretan pertunjukan yang memanjakan mata dan telinga penonton. Hembusan angin malam menyertai langkah penari di panggung Bisik Serayu Festival 2026.
Memasuki tahun ketiganya, Bisik Serayu Festival digelar pada tanggal 29-30 Agustus 2026. Bertempat di pipir Sungai Serayu, Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Festival dituangkan melalui interaksi nyata antara penonton dan karya yang ditampilkan. Karya yang ditampilkan menjunjung nilai tradisi serta menyatu selaras dengan alam.
Bisik Serayu Festival 2026 terlahir dari harmoni air, bumi, dan svara peradaban. Perpaduan yang dibentuk melalui interaksi manusia dengan alam sekitarnya. Alam bukan hanya sebagai wadah, namun menjadi suatu ritme ekosistem di dalamnya. Konsep tersebut membentuk kesadaran manusia untuk menjaga dan melestarikan tempat peradaban terbentuk.
Berlandaskan tiga pilar utama yaitu Svara Tirta, Prajna Pertiwi, dan Manunggaling Warga. Svara tirta atau bisik air diyakini sebagai peradaban yang menyimpan memori bumi. Air yang menjadi asal usul kehidupan sebagai sumber daya dan kebutuhan pokok. Air sungai ditampung dan terhubung kepada manusia melalui bumi. Prajna Pertiwi atau pijak bumi merupakan penyeimbang kehidupan sebagai tempat tinggal manusia.
Tanah sebagai alas dan penghubung dengan air yang aman dan nyaman. Perasaan yang dibangun manusia dalam satu rumpun warga menjadi Manunggaling Warga. Ketulusan yang terbentuk dalam kepedulian pada pelestarian alam. Interpretasi tersebut disalurkan melalui panggung festival yang dibalut oleh seni dan budaya.
Panggung festival memberikan nuansa hangat nan akrab dengan konsep tanpa jaraknya. Mengusung konsep panggung terbuka, pertunjukan festival berinteraksi secara langsung dengan alam. Panggung utama Manggala di Joglo Gayatri diciptakan tanpa sekat, panggung tinggi, serta pemisah jarak. Keakraban didukung oleh panggung ekologis jajaran bambu yang menyajikan pertunjukan menyatu dengan alam.
Pertunjukan tersebut merupakan karya seni yang dituangkan melalui gerak, musik, dan busana. Perpaduan tersebut melahirkan esensi yang berbeda namun saling melengkapi. Esensi tersebut bermuara pada pelestarian budaya dan ekosistem Sungai Serayu. Festival menjaga tradisi tetap hidup dan meluaskannya hingga mancanegara. Sungai Serayu sebagai ruh pertunjukan menjadi pusat perhatian dalam kepedulian terhadap lingkungan.
Pertunjukan hari pertama dihiasi berbagai macam karya dan penampilan yang memukau. Acara dimulai siang hari pukul 13.00 WIB yang berlangsung hingga malam hari. Rangkaian pementasan pada malam hari dibuka oleh penampilan Sanggar Sanggita Kencana Budaya. Mereka menampilkan Tari Balian Dadas Bawo yang kental dengan nuansa Tari Dayak.
Tak berhenti di situ, pementasan dilanjutkan oleh Sakti Kidung dan Restu Hendri. Kedua penari asal Yogyakarta tersebut menyajikan Beksan Lesmana Indrajit. Tarian yang membawakan kisah dalam epos Ramayana. Akasa Sakti Kidung, lebih akrab disapa Sakti merupakan pelajar SMA di Surakarta. Sakti berasal dari Kulonprogo itu menjadi sosok Putra Sulung Rahwana. Dikenal sebagai Indrajit, seorang putra mahkota kerajaan alengka. Sakti menampilkan tarian yang beradu dengan rekan satu komunitasnya. Komunitas yang dikenal dengan Kalagerak (@kalagerak.co) itu eksis tampil di Sky Lounge.

Rekan komunitasnya Restu Hendry Pratama, biasa disapa Hendry. Hendry adalah seorang mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dari Purworejo. Hendry membawakan peran Lesmana, sosok putra Raja Dasarata Kerajaan Kosala. Lesmana merupakan adik tiri Sri Rama yang menjadi pengikut setianya.
Mereka membawakan kisah sengit antara musuh bebuyutan di medan perang. Mengenakan kostum wayang dua penari itu membawa penonton mendalami emosi yang dibawakan. Jarik dan sampur menambah kesan khas keanggunan gerak dalam budaya Jawa. Bersenjata gada dan panah menambah keseruan pada perseteruan antara Lesmana dan Indrajit.
Ditemui setelah penampilannya, dua penari muda menyalurkan kesan pesan mendalamnya. Perasaan kagum disampaikan oleh Hendri dan Sakti tentang keseruan dan antusiasme penonton. Hendri mengungkapkan merasa senang dan bangga dapat terlibat di Serayu Festival 2026.
Selain itu, festival berskala Internasional ini membuka jaringan relasi yang lebih luas. Melalui penampilan memukaunya, Hendry dan Sakti merangkum keseruannya dengan kata “jos jis”. Sakti mengungkapkan bahwasanya mereka tidak sempat Latihan bersama sebelumnya. Hal ini dikarenakan jadwal yang bertabrakan dengan berbagai pemantasan lain sebelumnya. Meskipun terjadi miskomunikasi dan kendala audio, senyum dan gerakan luwesnya menarik audiens.
Hendry dan Sakti mengungkapkan pertama kali tampil di Banyumas melalui Festival Bisik Serayu. Dua penari muda itu terhibur dengan logat “ngapak” yang unik dan lucu. Mereka terkesan akan panggung festival yang menyatu dengan alam. Jika ada kesempatan, mereka berharap dapat kembali tampil di tahun depan. Tentunya dengan persiapan yang lebih matang dan membawa lebih banyak anggota.
Harapan kedepannya disampaikan oleh Hendry mengenai perluasan promosi festival. Karenanya festival yang mendatangkan banyak seniman mancanegara, namun belum dikenal banyak orang. Selain itu, harapannya akan akses jalan menuju panggung yang di tingkatkan. Sakti mengungkapkan sependapat dengan Hendry, ia menutupnya melalui kata “jos jis”.
Dilanjutkan oleh Prasika Dewi Nugra, penari cantik berasal dari Sumatra Selatan. Seorang koreografer sekaligus performer itu membawakan nuansa rumit dalam penampilannya. Menyajikan karya tari Ritme Sisa, yang menyorot batasan ruang kehidupan perempuan.

Tari yang dibawakan mempresentasikan realita dibalik pandangan terhadap perempuan. Mengenakan busana hitam memberi kesan misterius namun sederhana. Gerakan repetitif dengan membawa objek dan ekspresi yang dibawakan sukses mengundang perhatian. Dua penari itu melangkah berinteraksi dengan bangku, sapu dan seikat kain putih. Melalui tariannya, penonton dibawa memikirkan teori dan kisah dibaliknya.
Beralih pada pementasan selanjutnya, membawakan tari Jejak Ngabungbang 1935 oleh Yana Endrayanto. Sosok koreografer dan seniman tari muda yang berbasis di Bandung. Ia merupakan Lulusan Magister Pendidikan Seni Universitas Pendidikan Indonesia. Yana Endrayanto aktif berkaya di berbagai forum seni nasional maupun internasional. Melalui Festival Serayu, ia membawakan tarian dengan konsep unik dan menarik.

Tari yang dibawakan dikenal sebagai tari tradisional Sunda. Ngabungbang dipahami sebagai tradisi terjaga semalaman dengan tujuan pembersihan atau penyucian diri. Dengan kemeja berlengan pendek yang tak dikancing sempurna, dan celana pendek hitamnya. Dihiasi dasi dan kaus kaki merah nyentrik ia berlenggak lenggok mengambil topengnya.
Topeng merah dengan rambut panjang mengembangnya menambah nuansa yang tak terdefinisikan. Tarian tersebut sukses mengundang tepuk tangan meriah para penonton. Ia mengakhiri penampilannya dengan keluar panggung melalui tengah penonton dan melepas topengnya. (NK)
Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara Bisik Serayu Festival 2026.Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini. Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.


