(Kiri ke kanan: Plt. Dinporabudpar Banyumas, Ir. Junaidi, M.T, Rianto, Restu Gunawan, Andi F Noya, Nisa Rengganis)
“Semoga ada Rianto-Rianto lain, yang mungkin juga bisa mengangkat kesenian Banyumasan,” tegas Rianto penuh harap.
BANYUMAS. Di pipir Sungai Serayu yang tenang di Desa Kaliori, Banyumas, panggung kebudayaan membentang penuh khidmat. Temaram cahaya malam dan embusan angin sungai menyambut ratusan pasang mata yang memadati area festival pada Sabtu malam, (29/08/2026).
Dari pipir sungai inilah, hamparan riak air seolah menjadi saksi penuturan kisah keberagaman bangsa. Perhelatan bertajuk Bisik Serayu Festival 2026 resmi dibuka dengan menghadirkan perpaduan penampilan seni lokal, nasional, hingga mancanegara.
Rangkaian acara diawali dengan prakata dari para figur yang menjadi tombak kegiatan, kemudian dilanjut dengan prosesi ritual umbul donga sebagai wujud rasa syukur dan permohonan berkah kepada Sang Pencipta. Alunan gending berstruktur lambat mengiringi langkah enam penari yang bergerak secara magis membawakan selendangnya.
Suasana kian hening saat prosesi dilanjutkan dengan penuangan air gabungan yang diberi nama tirto manunggal. Ritual tersebut disimbolkan sebagai bentuk penyatuan tradisi, peradaban, serta pengembalian energi kebajikan kepada alam.
Inisiator sekaligus penari maestro Banyumas, Rianto, menyampaikan bahwa gagasan utama tahun ini berpusat pada konsep dualisme lingga-yoni. Ia menegaskan bahwa konsep tersebut diwujudkan melalui lambang bunga wijayakusuma.
“Jujur, ya, hari pertama ini membuat saya itu sangat bahagia sekali karena ternyata antusias dari para penonton itu luar biasa,” tuturnya hangat.
Rianto mengungkapkan rasa bahagianya saat melihat sambutan hangat dari masyarakat dan penikmat seni. Ia menambahkan bahwa festival ini mengusung peleburan antara masyarakat, seni, dan elemen alam.
“Kita mengangkat dualism atau lingga-yoni yang melebur menjadi satu dalam bentuk wijayakusuma,” tambah Rianto menjelaskan dengan pelan.
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, perhelatan ini merangkai kerja keras selama dua bulan penuh demi menyiapkan konsep artistik dan teknis yang matang. Di tapak arena perhelatan, seniman daerah dan warga setempat melebur dalam semangat gotong royong mendirikan panggung serta menyiapkan seluruh perlengkapan acara.
“Persiapan untuk membuat artistik ini malah justru dari awal bulan Agustus, tetapi persiapan untuk membuat gethek dan lain sebagainya juga kita saling berkolaborasi dengan para seniman dan juga masyarakat,” Rianto menceritakan.
Kehadiran para tokoh kebudayaan dan pejabat publik di pipir sungai Serayu malam itu menegaskan besarnya dukungan moral bagi perhelatan ini. Dalam deretan tamu undangan, Anggota DPR RI, Siti Mukaromah menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi dan dedikasi para penggerak seni Banyumas yang terus menyalakan api tradisi.
Di tengah gempuran modernisasi, ia mengingatkan pentingnya merawat identitas kebudayaan daerah agar tidak perlahan lenyap tergerus zaman. Siti Mukaromah menaruh harapan besar agar panggung kebudayaan ini mampu memantik kesadaran generasi muda untuk mencintai serta melestarikan warisan leluhur mereka.
“Semoga ini menjadi pemantik kepada Gen Z dan Gen Alpha untuk memelihara budaya dan kekayaan Banyumas, salah satunya melalui Bisik Serayu Festival Banyumas,” ucapnya.
Senada dengan hal tersebut, wartawan senior Andy F. Noya membagikan kesannya mengenai alasan personal menetap di Banyumas. Ia menilai keunikan seni dan bahasa Banyumas memiliki daya pikat serta potensi ekonomi yang besar.
“17 tahun yang lalu hati saya jatuh di Banyumas,” terang Andy dengan senyumnya.
Andy F. Noya menceritakan awal mula keterikatan batinnya dengan tanah Banyumas saat mengantar keluarga. Menurutnya, keragaman seni pertunjukkan seperti lengger, ebeg, dan kentongan adalah aset diplomasi budaya.
“Dari pipir Sungai Serayu, kita bisa menyaksikan Indonesia yang sebenarnya, kekayaan dan perbedaan adalah keindahan Indonesia yang sebenarnya,” ucapnya dengan meringah.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya akulturasi dan kolaborasi antardaerah, seperti kolaborasi tari Bali dan Jawa yang tampil pada malam pembukaan. Bagi Andy, kehadiran seniman lintas negara menjadi bukti bahwa seni lokal mampu menembus panggung global.
“Ini tahun ketiga dari waktu ke waktu saya melihat ada perkembangan yang menarik sekali, penari yang semakin sempurna, pesertanya juga semakin beragam,” ujarnya.
Direktur Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menatap perhelatan malam itu sebagai pembuktian nyata atas daya hidup sebuah tradisi. Bagi Restu, kebudayaan tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai penanda identitas, melainkan sebagai mesin penggerak perekonomian yang mampu menghidupkan tanah Banyumas.
Lewat seruan yang dilontarkannya, Restu mengajak warga untuk tidak jemu menjadi penerus bagi tradisinya. Pembelajaran dan pelestarian yang konsisten dianggap sebagai benteng terdepan agar warisan leluhur tetap relevan dan berdaya saing di era modern.
Menyaksikan pembukaan Bisik Serayu Festival 2026, Andy mencatat adanya lompatan kualitas yang terasa kian matang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pengamatan itu mengalir saat ia menyaksikan kematangan teknis para penari di panggung hingga semakin beragamnya latar belakang peserta yang terlibat.
“Ini tahun ketiga. Dari waktu ke waktu saya melihat ada perkembangan yang menarik sekali penari yang semakin sempurna, pesertanya juga semakin beragam,” terangnya.
Bagi Rianto, hadirnya pengisi acara dari skala nasional hingga internasional, seperti dari Jepang, Prancis, Singapura, dan Australia merupakan bentuk motivasi bagi warga desa. Masyarakat di kawasan pedesaan kini dapat menikmati pertunjukkan berkelas dunia secara langsung di lingkungan mereka.
“Semoga ada Rianto-Rianto lain, yang mungkin juga bisa mengangkat kesenian Banyumasan,” tegas Rianto penuh harap.
Rianto berharap festival ini dapat melahirkan regenerasi pelaku seni baru di tingkat lokal. Ia meyakini bahwa panggung ini menjadi ruang edukasi dan inspirasi bagi generasi penerus.
Di akhir, Andy juga menaruh optimisme besar pada perintisan panjang yang diusung penari maestro Rianto bersama para seniman lokal. Dari pinggir Sungai Serayu yang tenang, ia melayangkan harapan agar gerakan kebudayaan ini terus bergaung luas, menembus batas daerah hingga merebut pengakuan di panggung dunia.
“Mudah-mudahan dengan apa yang dilakukan atau dirintis oleh Mas Rianto dan teman-teman bisa semakin mendorong pengakuan dari masyarakat di Banyumas itu sendiri, Indonesia, dan tentu saja global,” pungkasnya dengan yakin.
Malam pembukaan Bisik Serayu Festival 2026 pun ditutup dengan riuh tepuk tangan ratusan penonton yang memenuhi sekitaran panggung Manggala. Di balik temaram lampu panggung, arus Sungai Serayu terus mengalir membawakan bisikan harmoni dan harapan bagi kebudayaan nusantara. (NA)
Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara Bisik Serayu Festival 2026.
Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini.
Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.



