Manten Gethek Enom dan Sepuh Berlayar di Bisik Serayu Festival 2026

Ketiga wilayah melambangkan keharuman (Banyuwangi), kilauan (Banyumas), serta ketenangan (Banten).

BANYUMAS. Kerumuan penonton mengiringi kirab Manten Gethek dari Daharan Nusantara menuju tepian Sungai Serayu. Sore itu kami berdiri bersama penonton dari berbagai kalangan bercampur baur mengikuti arak-arakan. Angin berembus cukup kencang, tetapi suasana justru semakin hidup ketika audio mengisi sepanjang perjalanan. Dari barisan depan hingga rombongan paling belakang, kemeriahan kirab terasa tanpa putus.

Barongsai, kentongan calung, lengger siswa SMK N 3 Banyumas, dokar pembawa pasangan manten, warga Kaliori, hingga peserta workshop berjalan menuju lokasi ritual. Namun, riuh itu perlahan mereda ketika rombongan memasuki prosesi Manten Gethek. Suasana berubah menjadi hening dan khidmat.

Dari panggung Mandala, kami mengamati dua pasangan manten bergerak menuju pipir Sungai Serayu. Empat gethek disiapkan untuk membawa manten enom dan manten sepuh. Manten enom perempuan mengenakan pakaian adat Jawa kutu baru, sementara manten sepuh menggunakan beskap dan kebaya Banyumasan. Di atas gethek, sebagian orang bertugas mendayung, sementara lainnya menyebarkan sesajen berupa bunga dan pandan.

Sungai Serayu sore itu begitu tenang. Cahaya matahari menyentuh permukaan sungai dengan hangat, tidak menyengat dan tidak pula membuat tubuh kami menggigil. Empat gethek bergerak berputar sebelum kemudian berjejer. Di tengah pergerakan tersebut, seorang lengger lanang, Rianto, menari diiringi musik genggong.

Gerakannya lihai sekaligus lembut. Tarian itu menjadi ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Memberi.

Perlahan, prosesi di atas sungai tidak lagi sekadar terlihat sebagai pertunjukan. Ia menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali hubungan manusia dengan alam.

Kami berbincang dengan salah seorang pelaku yang memerankan manten enom perempuan. Ia bernama Lintang. Saat itu ia menjelaskan bahwa Manten Gethek merepresentasikan keseimbangan alam. Salah satu wujudnya adalah menyatukan tiga air dari mata air yang berasal dari Banyuwangi, Banyumas, dan Banten. Pemilihan wilayah tersebut tidak terlepas dari ikatan yang dimiliki Rianto dengan daerah-daerah tersebut.

Meski membawa unsur tradisi Banyumasan, Manten Gethek merupakan ritual baru. Pelaku manten enom perempuan mengatakan ritual tersebut melanjutkan konsep Kawin Banyu yang diangkat pada penyelenggaraan sebelumnya.

Kebaruan itu juga tidak sepenuhnya terputus dari tradisi lama. Pelaku manten enom laki-laki yaitu Janu menjelaskan bahwa dahulu terdapat prosesi pengantin Banyumas berupa larungan Kembar Mayang di Sungai Serayu sebelum pernikahan. Gagasan tersebut kemudian dicoba dikorelasikan dengan hubungan antara air, bumi, dan ekosistem sungai dalam Manten Gethek.

Kirab yang mengawali ritual pun mengambil gambaran dari pesta pengantin pada masa lalu. Dokar menjadi bagian dari arak-arakan karena pengantin zaman dahulu diarak menggunakan kendaraan tersebut. Namun, bagi pelaku manten enom laki-laki, kirab juga membawa nuansa euforia pesta pengantin.

Di tengah mandala, tiga air menjadi bagian penting dari prosesi. Bagi Rianto, air merupakan sumber kehidupan dan memiliki kedudukan spiritual dalam kehidupan masyarakat Jawa.

“Air dari timur, air dari barat dan air dari tengah. Semua di tanah Jawa ini kekuatannya bersumber dari situ,” ujar Rianto.

Tiga sumber air itu kemudian dimaknai melalui tiga wilayah. Banyuwangi membawa harapan tentang keharuman -agar perbuatan manusia memberikan manfaat dan berkah. Banyumas dimaknai sebagai kilauan yang memancarkan cahaya ketika manusia melakukan kebaikan. Sementara Banten atau banyu anteng menjadi simbol ketenangan, kewaspadaan, kesabaran, serta hati yang bersih dan ikhlas.

Bagi Rianto, tiga unsur tersebut merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipatahkan. Penyatuan itu sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur dan upaya mempertemukan kembali kekuatan dari tiga penjuru.

Makna penyucian juga hadir melalui Joged Manten yang memuat istilah ruwat. Dalam pemaknaan pelaku manten enom perempuan, ruwat berarti menyucikan sekaligus menjadi bagian dari upaya tolak bala. Dalam konteks Manten Gethek, ruwat diarahkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Gagasan tersebut sejalan dengan filosofi Bisik Serayu Festival 2026 yang menempatkan Tirta, Bhumi, dan Janma sebagai tiga pilar: air dan sungai sebagai pembawa kehidupan, bumi sebagai penopang kehidupan, serta manusia sebagai penggerak pertemuan. Festival ini sendiri membawa manifesto “Agresi Budaya: Dari Air, Untuk Bumi, Menyapa Masa Depan” dan menempatkan Sungai Serayu sebagai bagian penting dari perjalanan kehidupan dan peradaban.

Bagi Rianto, Manten Gethek merupakan cara untuk mengajak manusia melihat kembali hubungan tersebut. Sungai, menurutnya, tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang berada di belakang kehidupan manusia. Ia justru menjadi perjalanan menuju masa depan -seperti alirannya yang kadang tenang, deras, banjir, atau surut.

“Sebuah perjalanan aliran yang kadang-kadang tenang, kadang-kadang deras, kadang-kadang banjir, kadang-kadang surut tanpa adanya air. Jadi itulah sebenarnya kita dibuat untuk merefleksikan diri kita,” kata Rianto.

Di dalam Manten Gethek, hubungan itu juga diwujudkan melalui simbol Lingga dan Yoni. Keduanya melambangkan laki-laki dan perempuan dalam perspektif Hindu dan Buddha. Dalam ritual ini, simbol tersebut dimaknai sebagai pengantin laki-laki dan perempuan yang dipertemukan dalam Manten Gethek.

Pada akhirnya, perjalanan empat gethek di atas Serayu bukan hanya tentang membawa dua pasangan manten menuju tepian sungai. Ada upaya untuk mempertemukan tradisi dan kebaruan, manusia dan alam, serta kehidupan masa lalu dengan kesadaran hari ini.

Rianto berharap masyarakat yang menyaksikan ritual tersebut tidak sekadar pulang membawa kesan atas sebuah pertunjukan. Mereka diharapkan membawa kesadaran untuk merawat lingkungan, terutama Sungai Serayu, sekaligus menjaga kebudayaan yang hidup di sekitarnya.

Sore itu, Serayu tetap mengalir dengan tenang. Di atas permukaannya, gethek perlahan bergerak dan berjejer. Sebuah ritual baru telah selesai digelar, tetapi pesannya diarahkan jauh melampaui tepian sungai bahwa manusia diminta kembali mengingat bahwa alam yang menghidupinya juga membutuhkan perawatan. (RUM)

Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara Bisik Serayu Festival 2026.Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini. Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tim Redaksi

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu ujian kesabaran pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *