Yogyakarta, September 2026 – Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Teams Games Tournament (TGT) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, materi Iklan, Slogan, dan Poster, di kelas VIII G SMP Negeri 1 Sewon. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan praktik mengajar mahasiswa dengan melibatkan murid secara aktif melalui kerja sama tim dan kompetisi antar teman.
Cooperative Learning merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berlandaskan pada pendekatan konstruktivisme. Cooperative Learning menggabungkan murid dalam kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan berbeda. Anggota dalam kelompok-kelompok tersebut harus bekerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas. Cooperative Learning dikatakan belum selesai jika masih terdapat teman satu kelompok yang belum menguasai pelajaran.
Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe dari Cooperative Learning. Model pembelajaran ini menggabungkan murid dalam kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan berbeda untuk menyelesaikan tugas bersama yang disajikan dalam bentuk permainan dan pertandingan dalam pembelajaran. Model ini dirancang untuk meningkatkan partisipasi murid dalam kegiatan pembelajaran, meningkatkan kerja sama, meningkatkan motivasi belajar murid, dan meningkatkan pemahaman belajar. Dengan adanya elemen permainan dan pertandingan, murid cenderung lebih termotivasi untuk ikut aktif dalam kegiatan pembelajaran. Murid juga belajar untuk saling bekerja sama, berkomunikasi, dan memberikan dukungan bagi teman sekelompoknya.
Model Cooperative Learning tipe Teams Games Tournament (TGT) memiliki tahapan atau langkah-langkah. Langkah yang pertama adalah pembentukan tim, dilanjutkan dengan pemaparan materi, selanjutnya persiapan tim, lalu permainan dan pertandingan, dan yang terakhir penilaian dan pemberian umpan balik. Tahapan atau langkah-langkah pembelajaran tersebut harus dilaksanakan secara berurutan. Guru juga dapat memberikan reward kepada kelompok dengan nilai tertinggi.
Sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan, model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) yang dipilih telah dikonsultasikan terlebih dahulu dengan guru pamong untuk menyesuaikan kegiatan, materi yang diajarkan, karakteristik murid, dan juga tujuan pembelajaran. Penggunaan model Teams Games Tournament (TGT) dalam kegiatan pembelajaran dilakukan sebagai salah satu upaya menghadirkan kegiatan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan berkualitas sebagai salah satu bentuk kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan yang ke-4 terkait dengan pendidikan bermutu.
Pembelajaran dimulai dengan penyampaian tujuan pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan asesmen diagnostik untuk mengetahui pengetahuan awal murid mengenai materi yang akan diajarkan, yakni materi Iklan, Slogan, dan Poster dengan elemen menyimak. Pengerjaan asesmen diagnostik menggunakan web Kahoot! yang membuat murid seolah-olah sedang berkompetisi untuk memperebutkan posisi teratas. Hasil dari asesmen diagnostik akan digunakan sebagai dasar pembentukan kelompok atau tim saat permainan dan pertandingan dimulai.
Pemaparan materi secara singkat disampaikan oleh mahasiswa Praktik Kependidikan, dengan diawali pertanyaan pemantik untuk memantik rasa ingin tahu murid. Setelah itu, murid membentuk kelompok atau tim berdasarkan hasil asesmen diagnostik. Setiap kelompok memiliki kesempatan untuk memahami materi dan berdiskusi sebelum permainan dan pertandingan dimulai.
Pada tahap games atau permainan, tiap tim menyimak teks iklan komersial dan nonkomersial yang diperdengarkan, kemudian mengerjakan soal untuk mendapatkan poin. Pengerjaan soal dilakukan secara bergantian dengan tujuan setiap murid dalam kelompok berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Hasil dari tahap games atau permainan akan digunakan kembali dalam tahap tournament atau pertandingan untuk menentukan peringkat kelompok atau tim.
Mahasiswa Praktik Kependidikan berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya permainan dari awal hingga akhir, memberikan penjelasan, serta memastikan setiap murid mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam permainan dan pertandingan. Selain berperan sebagai fasilitator, mahasiswa Praktik Kependidikan juga melakukan pengamatan terhadap keterlibatan murid selama proses pembelajaran berlangsung.
Keterlibatan murid terlihat melalui kegiatan diskusi bersama tim serta partisipasi dalam permainan dan pertandingan. Setiap murid memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi terhadap perolehan poin timnya. Sistem pembelajaran tersebut tidak hanya menekankan hasil akhir berupa perolehan nilai, tetapi juga proses kerja sama dan keterlibatan setiap anggota tim dalam memahami materi yang dipelajari.
Penerapan Teams Games Tournament (TGT) membuat suasana pembelajaran berlangsung lebih interaktif dibandingkan dengan penggunaan metode konvensional. Murid tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi, saling membantu anggota tim memahami materi, serta berkompetisi secara sehat dalam permainan.
Dari kegiatan tersebut, murid memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, dan bertanggung jawab terhadap tim. Hal tersebut sejalan dengan prinsip pendidikan bermutu dalam SDGs ke-4 yang mendorong terciptanya lingkungan belajar yang efektif, inklusif, dan memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk terlibat dalam proses pembelajaran.
Model Cooperative Learning tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu model yang berhasil membangun kegiatan pembelajaran interaktif. Melalui penerapan model tersebut, mahasiswa Praktik Kependidikan, guru, dan pengajar diharapkan dapat terus berinovasi dalam kegiatan pembelajaran agar pendekatan, model, atau metode yang dipilih sesuai dengan kebutuhan murid.
Kegiatan pembelajaran menggunakan model Teams Games Tournament (TGT) ini juga diharapkan menjadi pengalaman bagi mahasiswa Praktik Kependidikan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pemahaman materi, tetapi juga mendorong keterlibatan dan kolaborasi para murid. Ke depannya, variasi model pembelajaran yang aktif dan menyenangkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya mendukung peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.





