BANYUMAS. Sungai Serayu Banyumas menjadi saksi bahwa seni terus lestari. Di bawah naungan mentari yang mengarah ke barat, para performence unjuk kegigihan dan bakat. Dari Banyumas menyapa Indonesia bahkan dunia. Beragam pementasan kesenian menghiasi dan mengakrabi panggung Manggala di Bisik Serayu Festival 2026. Sejak Sabtu dan Minggu, 29-30 Agustus 2026, panggung yang berada di Rianto Dance Studio dipenuhi dengan pertunjukan kesenian dari dalam negeri maupun luar negeri.
Pada Minggu sore, salah satu penampilan yang mewarnai Bisik Serayu Festival adalah pertunjukkan tari dari SMK N 3 Banyumas. Mereka menampilkan tarian yang penuh keharmonisan dan keserasian dengan alam. Tarian tersebut bernama Tari Ropyan. Kata “Ropyan” sendiri berasal dari tradisi lokal yang berarti syukuran atau hajatan. Tarian ini memadukan unsur gerak gaya Banyumasan dan kontemporer yang menggambarkan prosesi membawa sesaji, berdoa, hingga keceriaan panen.
Berkostum dominan hijau dengan membawa tudung tumpeng, mereka menggetarkan suasana sore di Desa Kaliori, Banyumas. Tudung tumpeng tersebut, bergambar wortel, cabai, nasi kuning, dan timun. Gambar-gambar tersebut menunjukkan perlambangan atas rasa syukur akan melimpahnya hasil panen.
Ketujuh personil mereka, kompak dalam melangsungkan tarian dalam setiap gerak-geriknya. Kemantapan dalam setiap langkah kaki maupun lambaian tangan menunjukkan mereka sangat antusias. Sebelum mereka berpentas di sini sudahlah lebih dulu menyiapkannya jauh-jauh hari. Dengan demikian mereka all out dalam mementaskan Tari Ropyan.
Salah satu penarinya, Hikmah Maulida Yolinka Resti Asmoro mengungkapkan, “Kami mempersiapkan pementasan tari ini kurang lebih satu sampai dua minggu sebelum pentas.” Tuturnya sesaat setelah diwawancara.
Selanjutnya dia juga mengutarakan bahwa pesan utama dari Tari Ropyan adalah ungkapan rasa syukur. Tarian yang menggambarkan kegembiraan rakyat, doa bersama, dan rasa syukur atas rezeki hasil bumi yang melimpah. “Pesan utama dari pertunjukkan tari ini tak lain adalah rasa syukur atas keberlimpahan hasil panen,” ungkap Yolinka.
Matahari sore terus menemani Bisik Serayu Festival 2026 berikut dengan para penampil maupun penontonnya. Cuaca yang tidak terlalu panas membuat para penari dari SMK N 3 Banyumas tampil secara maksimal. Yolinka menyampaikan kesenangan dan harapannya untuk Bisik Serayu Festival, “kami merasa senang bisa tampil di acara yang meriah ini. Kami berharap, ke depan Bisik Serayu Festival terus tambah meriah dan jaya.”
Selanjutnya, pertunjukkan setelah Tari Ropyan – dari SMK N 3 Banyumas – adalah Tari Leungiteun. Tarian ini dibawakan oleh teman-teman dari Sanggar Domas asal Desa Klapagading, Kec. Wangon, Kab. Banyumas. Sebanyak delapan penari diterjunkan untuk memeriahkan Panggung Manggala di Bisik Serayu Festival 2026. Mereka mengenakan kostum dominan berwarna ungu dengan selendang merah di pinggulnya.
Tari Leungiteun ini merupakan repertoar Tari Jaipongan kreasi asal Jawa Barat yang diciptakan oleh seniman Agus Gandamanah. Tarian ini menggambarkan kegelisahan, kesedihan, serta keprihatinan manusia terhadap kerusakan lingkungan alam akibat ulah manusia. Tarian ini bertujuan untuk menjaga tradisi agar tetap hidup sekaligus bentuk apresiasi terhadap perpaduan unsur tari tradisional dan modern.
Salah satu penari dari Sanggar Domas, Fairuz menyebutkan “Kami mempersiapkan tari ini untuk pentas di Bisik Serayu Festival 2026 sejak satu minggu sebelum tampil. Menjadi kebanggan tersendiri bagi kami atas diberikannya ruang dan waktu untuk ikut serta memeriahkan acara ini,” ungkap Fairuz saat ditemui setelah tampil.
Selain itu dia juga memberikan kesan dan harapan atas penyelenggaran Bisik Serayu Festival 2026. “Kami sangat merasa bahagia pada sore hari ini. Kami berharap Bisik Serayu Festival senantiasa sukses dan jauh lebih meriah lagi,” tambah Fairuz menutup perbincangan.
Dari pipir Sungai Serayu Banyumas, kesenian terus diupayakan untuk lestari. Mengingat dalam kesenian tari ada banyak pesan dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Baik dalam tiap langkah maupun gerak-geriknya. Begitupula dalam kostum yang dipakainya, ada makna-makna terselubung yang memiliki pesan tersembunyi, selain keindahan yang nampak melekat padanya.
Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara Bisik Serayu Festival 2026.Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini. Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.


