Menatap Keseimbangan Semesta di Bisik Serayu Festival Lewat Tari Lengger Soiling dan Bumi Langit

BANYUMAS. Sore di pipir Sungai Serayu, pantulan cahaya matahari yang menyapa bumi dari ufuk barat perlahan melebur bersama gemericik air sungai. Di tepian aliran air yang menyimpan ribuan kisah spiritual tersebut, panggung Bisik Serayu Festival hari kedua mulai memanggil puluhan pasang mata untuk meresapi pertunjukan seni tradisi, Minggu, (30/08/2026).

Kehadiran puluhan penonton disambut oleh olah gerak tubuh tradisional yang menyatu secara harmonis dengan alunan gending. Suasana magis langsung membungkus tepian sungai saat lima penari dari Rumah Seni Tegal menghentakkan kaki lewat pertunjukan Tari Dangiang.

Dengan selendang merah yang terikat anggun di tubuh para penari, gerakan energik dan bertempo cepat itu berhasil membuka gerbang perenungan budaya. Lemparan gerak tubuh yang dinamis menjadi pengantar awal sebelum panggung memasuki eksplorasi filosofis yang lebih mendalam.

Keheningan tempat tersebut berlanjut ketika panggung diambil alih oleh tiga penari yang membawakan Tari Bumi Langit. Menggunakan busana berwarna biru berselimut kain batik di pinggang serta gelang kain di kaki, ketiga penari menghentakkan kaki tanpa beralaskan alas kaki.

Tarian tersebut menyajikan perpaduan tempo pelan dan cepat yang penuh dengan gerakan elok serta memancarkan nuansa magis. Pertunjukan ini menghadirkan sebuah eksplorasi gerak kosmologis yang menggambarkan secara erat hubungan antara alam semesta dan manusia.

Melalui olah tubuh para penarinya, tarian tersebut menyimbolkan keseimbangan antara pijakan bumi yang kokoh dan cita-cita langit yang menjulang tinggi. Pertunjukan ini seolah mengingatkan manusia akan pentingnya menjaga keselarasan hidup dengan alam semesta.

Selain menyimpan makna kosmologis, gerakan tegas dalam Tari Bumi Langit rupanya juga mengambil inspirasi dari karakter ksatria yang penuh semangat. Ketegasan ritme dan gerak tari tersebut sengaja dirancang untuk memancarkan aura ketangguhan seorang ksatria Jawa.

Seniman tari asal Tegal, Ahmad Faizal Ghani, menjelaskan bahwa proses penggarapan tari tradisi Jawa Timur ini membutuhkan persiapan latihan yang cukup intensif selama satu minggu. Pria yang akrab dipanggil Marian tersebut menuturkan bahwa tarian ini sejatinya akan terasa jauh lebih megah apabila ditarikan secara kolosal.

“Untuk penari memang dari kita hanya tiga, sebenarnya bisa ditarikan lebih dari tiga karena penggambaran ksatria ini mungkin lebih bagus lagi kolosal atau rame-rame,” ujar Ahmad saat ditemui usai penampilan.

Ahmad juga menegaskan bahwa karakter utama dari tarian ini terletak pada ketegasan tempo yang dibawakan oleh para penarinya. Menurutnya, ketegasan gerakan tersebut merupakan lambang mutlak dari sosok ksatria yang senantiasa memiliki semangat membara.

Ia menambahkan bahwa panggung di pipir aliran sungai ini bukan sekadar wadah untuk menunjukkan keahlian menari di depan audiens. Lebih dari itu, festival ini menjadi ruang pembelajaran dan perjumpaan antar pelaku seni.

“Bisik Serayu ini sangat bermanfaat bagi saya, karena di sini saya bisa mengenal banyak seniman, banyak maestro-maestro, dan senior-senior tari,” pungkas Ahmad dengan sumringah.

Selepas pertunjukan Tari Bumi Langit selesai diiringi tepuk tangan penonton, suasana panggung perlahan berganti menjadi lebih intensif dan sarat ritual. Daffa Nur Rifqi kemudian melangkah naik ke atas panggung untuk membawakan sajian Tari Topeng Lengger Soiling khas Wonosobo.

Dibalut busana berdominasi warna hitam dan putih, tarian ini dibawakan oleh sepasang penari pria dan wanita. Penari wanita tampil anggun membawakan selendang putih, sedangkan penari pria melangkah tegas mengenakan kumis buatan serta menyelipkan keris di pinggangnya.

Alunan gending gamelan yang bertabuh pelan namun tegas mengiringi setiap lekuk gerakan tubuh kedua penari di atas panggung. Tarian ini merupakan sajian keindahan khas yang berhasil memadukan wibawa penutup wajah atau topeng dengan dinamisme lenggeran.

Di balik gerakan yang dibawakan, tarian ini membawa pesan mendalam mengenai penyucian diri serta penjelajahan rasa kebatinan manusia. Pertunjukan tersebut menggambarkan proses transformasi jiwa penari dalam meleburkan karakter manusia dengan alam.

Pada pertengahan babak tarian, suasana berubah dramatis saat penari pria mengenakan topeng berwarna merah. Pergantian tata visual ini memperkuat pesan dualisme yang hendak disampaikan penari kepada para penonton.

Daffa Nur Rifqi, sebagai penari lengger, mengungkapkan bahwa pemaknaan tarian Lengger Soiling tidak dapat dilepaskan dari akar kata tari Lengger itu sendiri. Ia menjelaskan bahwa kata Lengger berakar dari petuah Elingger yang mengajak manusia untuk senantiasa mawas diri.

“Lengger kan berarti Elingger, itu dipetik dari kata Eling-nya untuk selalu mengingat Tuhan dan mengingat yang menciptakan semesta,” terang Daffa menjelaskan.

Daffa menambahkan bahwa gerakan dalam tari gagah Lengger Wonosobo umumnya diawali dengan pola gerak solo atau kiprah oleh penari pria. Setelah gerakan pembuka tersebut selesai dibawakan, barulah penari wanita masuk menyusul ke tengah panggung.

Mengenai penggunaan topeng merah di pertengahan tarian, Daffa menyebutkan bahwa topeng merupakan simbol visual dari sisi dualitas yang melekat pada diri setiap manusia. Menurutnya, tidak ada manusia yang sepenuhnya terbebas dari dua sisi kehidupan yang saling bertolak belakang.

“Topeng sendiri kan menyimbolkan dualisme dalam setiap diri manusia, jadi manusia itu sejatinya memiliki dua sisi, seperti baik dan buruk,” ujarnya dengan penuh yakin.

Setiap judul tarian Lengger Wonosobo memiliki keunikan tersendiri pada iringan musik gamelannya. Walaupun perangkat gamelan yang digunakan sama, komposisi gending yang ditabuh selalu disesuaikan untuk memperkuat karakter tarian.

Melalui Bisik Serayu Festival, denyut seni tradisi Banyumasan dan sekitarnya terbukti masih memiliki ruang dada yang lapang untuk bernapas. Event ini berhasil merekatkan kembali hubungan antara manusia, karya seni, dan alam pemukimannya.

Daffa berharap festival kebudayaan semacam ini tidak hanya berhenti sebagai ajang tahunan yang dipertahankan keberadaannya. Ia menginginkan agar kualitas penyelenggaraan festival seni dapat terus berkembang dan semakin maju di masa depan.

“Saya harap untuk dipertahankan acara-acara yang seperti ini dan tidak hanya dipertahankan, mudah-mudahan bisa lebih maju setiap tahunnya,” tutur Daffa menutup pembicaraan.

Matahari sore akhirnya benar-benar tenggelam di balik cakrawala Sungai Serayu, meninggalkan jejak perenungan mendalam bagi para penonton. Dari panggung megah dan magis di pipir sungai ini, bisikan tradisi telah menyampaikan pesannya tentang keseimbangan semesta dan hakikat diri manusia. (NA)

Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara Bisik Serayu Festival 2026.Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini. Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tim Redaksi

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu ujian kesabaran pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *