Sabrina Khisan Aulia: Dari Pekuncen ke Arena Kosegu, Juara Perunggu yang Tak Pernah Menyerah

Pekuncen, (26/10)– Rona bahagia terpancar dari wajah Sabrina Khisan Aulia saat ia mengangkat medali perunggu di ajang Kejurda Tapak Suci Kosegu Championship XIV 2025 yang berlangsung di Tanjung, 24–26 Oktober 2025. Ia mewakili MA Muhammadiyah Pekuncen dan berada di kelas X — sebuah capaian yang tak hanya membanggakan sekolah, tetapi juga menjadi kisah perjuangan tak mudah di usia yang masih muda.

Latar Belakang dan Perjalanan

Diketahui bahwa Kejurda Kosegu ini diikuti puluhan kontingen dari berbagai daerah — menurut data, sekitar 518 peserta dari 60 kontingen di wilayah Banyumas yang ikut bertanding. Sabrina, sebagai salah satu peserta dari sekolah Muhammadiyah, memulai persiapannya jauh hari sebelumnya: latihan rutin, berdedikasi, dan menghadapi tantangan fisik maupun mental.

“Semoga keberhasilan ini menjadi motivasi untuk tidak berhenti berusaha dan terus berkembang,” tulis pihak sekolah melalui spanduk ucapan selamat yang diterbitkan di media sosial. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa upaya Sabrina layak diacungi jempol — bukan hanya karena medali yang diraih, tetapi juga karena prosesnya.

Tantangan di Arena

Di arena Kosegu (gulat tangan kosong dalam sistem bela diri Tapak Suci Putera Muhammadiyah), Sabrina menghadapi lawan-lawan yang telah berpengalaman dan datang dari berbagai kabupaten. Meski demikian, ia memilih untuk tidak gentar. Latihan pembinaan bela diri yang diterapkan oleh Tapak Suci — yang menekankan disiplin, teknik, dan karakter — menjadi modal penting bagi atlet-muda seperti Sabrina.

Momen paling emosional terjadi ketika Sabrina, meski sempat tertinggal dalam sebuah ronde, berhasil bangkit dan menampilkan gerakan kuncian yang kuat, disambut tepuk tangan pendukung dari sisi arena. Perjuangan itu menunjukkan bahwa kemenangan bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah — melainkan hasil dari niat kuat, darah keringat, dan strategi yang matang.

Makna dan Harapan ke Depan

Bagi MA Muhammadiyah Pekuncen, prestasi Sabrina menjadi bukti bahwa pembinaan siswa tidak hanya soal akademis, tetapi juga pengembangan karakter dan potensi di luar kelas. Prestasi ini juga diharapkan menjadi pemicu semangat bagi siswa lainnya untuk “terus berusaha dan terus berkembang”, seperti yang tertulis di pesan sekolah.

Sabrina sendiri menyampaikan — melalui unggahan sekolah — rasa syukurnya kepada guru pembina, pelatih Tapak Suci, dan keluarga yang tak berhenti memberi dukungan. Dengan medali perunggu ini, ia bertekad untuk mengejar medali emas di kejuaraan berikutnya, memperkuat mental juara, dan menjaga nama baik sekolah serta persyarikatan Muhammadiyah.

Kisah Sabrina mengingatkan kita bahwa di balik setiap medali ada perjalanan panjang dan perjuangan yang sering tak terlihat. Keberhasilan di arena olahraga, khususnya bela diri seperti Tapak Suci, bukan hanya soal teknik dan kekuatan fisik, tetapi juga soal mental, disiplin, dan kegigihan. Semoga langkahnya menjadi inspirasi dan membuka jalan bagi lebih banyak prestasi dari sekolah-sekolah Muhammadiyah di Tanah Air.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *