Bisik Serayu Festival 2026 sukses menyampaikan pesan pelestarian alam melalui pementasan inklusif seniman difabel dan mancanegara. Festival ini menyatukan kolaborasi internasional dari Singapura, Prancis, hingga Australia di tepi Sungai Serayu.
BANYUMAS. Sinar bulan yang berpendar lembut menjadi pembuka manis festival hari kedua. Harmonisasi derak bambu dan gema calung melebur dalam semangat seniman malam itu. Kehangatan yang kian terasa bergelora menyatukan seniman, warga, alam, dan tradisi. Waktu bergulir mengabadikan karya seni dalam detak pelestarian tradisi dan alam. Karya-karya indah nan menawan disuguhkan melalui Bisik Serayu Festival 2026.
Bisik Serayu Festival hadir menjelang usianya yang ketiga pada 29-30 Agustus 2026. Kembali digelar di pipir Sungai Serayu, Desa Kaliori, Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Festival menghadirkan ruang interaksi antara penonton dengan karya yang ditampilkan. Deretan karya seni memeriahkan malam kedua yang kembali mengguandang tepuk tangan penonton. Festival ini mengusung filosofi “Nirwana Air: Harmoni Air, Bumi, dan Svara Peradaban. Bertujuan membangkitkan perasaan warga untuk menjaga dan melestarikan sungai dan alam sekitarnya. Dibuka dengan Jargon Svara Tirta, Prajna Pertiwi, Manunggalling Warga festival semakin meriah.
Festival Serayu bertempat di Rianto Dance Studio, yang didirikan oleh Rianto. Rianto merupakan maestro tari Lengger Banyumas serta seorang koreografer dan penari internasional. Rianto adalah pencetus awal berdirinya Bisik Serayu Festival. Ia berperan sebagai direktur artistik pada Bisik Serayu Festival. Melalui karya seni dan budaya, Rianto ingin membangun kesadaran pelestarian alam.
Festival hari pertama berakhir sukses dengan penonton yang tetap tinggal hingga akhir. Suasana semakin memanas memasuki hari kedua sekaligus hari terakhir. Pertunjukan festival kembali disajikan lewat panggung bundar yang dikenal sebagai Joglo Gayatri. Memiliki jarak yang dekat dengan penonton, panggung itu memberikan keakraban yang nyata. Dimulai pada 13.30 WIB, festival berlangsung hingga malam.
Sampai di penghujung acara, festival berlanjut setelah break, ketika matahari menarik sinarnya. Kembali bersama Master of Ceremony (MC) Willy dan Ayi, melanjutkan rangkaian pertunjukan. Festival dimulai kembali dengan pementasan Tari Potret Samar oleh Gandrung Dance Studio. Dilanjutkan deretan penampilan lainnya hingga pertunjukan oleh talent mancanegara.
Penampilan DADC Maya Dance Theater, grup asal Singapura yang membawakan random chapter. Ditamilkan oleh enam penari yang menyajikan pendalaman akan realitas hidup tentang ketidakpastian. Para penari difabel dan non difabel tampil bersama menyatu dengan selaras. Perbedaan bukanlah suatu keterbatasan, penari difabel menunjukan bagaimanya merayakan apa adanya tubuh. Perpaduan kostum warna keemasan dengan warna merah menambah kemanisan dan kehangatan. Melalui tari random chapter, mereka menyampaikan keterbatasan merupakan bentuk kemanusiaan yang harus dirayakan.

Suasana kian meriah yang dilanjut penampilan oleh Zarlor oleh Florence Boyer. Ia merupakan koreografer, performer, dan peneliti asal Prancis. Sosok pendiri Artmayage Cance Company di pulau reunion. Perempuan prancis itu telah mengulik minatnya selama dua puluh tahun. Ia mengembangkan karya yang memadukan tari kontemporer, warisan kreol, dan penelitian antropologinya. Tarian yang diciptakannya merupakan karya dengan alam sebagai sumber kreasinya. Berkaitan dengan tema alam festival, properti yang digunakan berupa air dalam wadah. Ia didampingi oleh dua orang, pemuda pemudi yang melengkapi panggung dengan selaras. Dibalut busana berwarna putih dan cokelat, menambah nuansa anggun nan elegan. Zarlor berakar pada tari Maloya, merupakan tari tradisional peninggalan para budak afrika. Gerakan khas mengusapkan air pada dahi diketahui mempresentasikan pembersihan dan penyembuhan spiritual.
Pertunjukan lintas negara selanjutnya berasal dari Australia oleh Thamizhvanan Narayanasamy (Veshnu). Ia membawakan “Scribbling Images, Pilgrimage” yang mengeksplorasi hubungan manusia dengan alam. Memiliki garis keturunan India, Veshnu diketahui lahir dan besar di Singapura. Saat ini ia sedang menempuh studi doctoral (PhD) di University of Melbourne. Ia merupakan penari professional yang telah meraih deretan penghargaan nasional maupun internasional.

Ditemui setelah penampilannya, Veshnu mengungkapkan suasana panggung yang antusias menaikkan semangatnya dalam pentasnya malam itu. Meskipun setelahnya terasa lelah, tarian memukaunya memberi kepuasan dan melebur lelahnya. Berbalut terusan merah polos dan rambut panjangnya, ia menyajikan aura feminism didalamnya. Mendekati akhir penampilannya, ia melepas terusan itu dan menyisakan tampilan laki laki dengan celana merahnya. Veshnu menyampaikan bahwa melalui penampilannya, ingin menyampaikan konsep feminitas. Namun feminitas yang ia maksud tidaklah memandang atribut fisik perempuan. ia menyampaikan bahwa menjadi feminim merupakan cara manusia memahami hidup yang sesungguhnya. Berlandaskan “Tantra” filosofi dibalik feminitas sebagai energi atau kekuatan utama dalam hidup. Ia menjelaskan bahwa inti dari filosofinya adalah bagaimana feminim energi membawa orang menjadi diri sendiri dan original. ia menyampaikan bahwa “it’s not human, but it’s to be on human”. Bahwasanya, untuk menjadi manusia maka perlu menjadi bagian dari alam. Menjadi bagian alam artinya manusia sama dengan semua hal di dunia, Veshnu menyampaikan karyanya merupakan bagian dari 3 segmen dalam riset gelar doktornya. Selama empat tahun ia mendalami dan satu tahun terakhir ia menyatukan semuanya. Ia meneliti melalui field trip-nya di india dan menciptakan rekaman orisinalnya. Rekaman tersebut menjadi iringan pertunjukan yang dibantu oleh beberapa temannya dalam realisasinya.
Bertemu dengan Rianto di Melbourne, Veshnu menyanggupi ajakannya untuk tampil di festival. Ia mengungkapkan pertama kalinya datang ke Banyumas dan hadir di Bisik Serayu Festival. Ia mengungkapkan sebelumnya pernah bekerja dan melakukan pertunjukan bersama Rianto. Sehingga dalam kesempatan ini, Veshnu mengenalkan tariannya melalui Bisik Serayu Festival 2026. Ia mengungkapkan harapan kedepannya adalah untuk menambah wawasan yang lebih luas. Selain itu, ia menambahkan tentang mengenalkannya kepada generasi muda. Dengan harapan mereka dapat menjadi human being dan menjadi diri sendiri.(NK)
Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara Bisik Serayu Festival 2026.Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini. Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.


