Potret Penyair yang Mencintai (dengan) Kata

Cinta adalah kata yang tak bisa selesai kutulis
Sebab ia terus tumbuh dalam diam
(Abdul Wachid B.S., dalam Penyair Cinta)

Cinta memang tak pernah habis untuk diceritakan, mengakar dalam jiwa dan iman manusia. Demikian ungkap lirih seorang penyair yang mengabadikan cinta sebagai “zikir”. Gambaran ini banyak tertuang dalam karya milik Abdul Wachid B.S., yaitu Penyair Cinta (Jejak Pustaka, 2022). Buku ini menyajikan puisi-puisi yang mengalir dengan tenang dan memiliki makna mendalam.

Sang penyair sendiri, yakni Abdul Wachid Bambang Suharto atau yang akrab disapa Abdul Wachid B.S., lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 7 Oktober 1966. Ia adalah alumnus Program Studi Sastra Indonesia S-1 dan Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), menjadi dosen negeri di Universitas Islam Negeri Prof. Dr. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, dan lulus Program Studi Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Saat ini, ia telah dikukuhkan sebagai guru besar (profesor) di bidang ilmu Pendidikan Bahasa Indonesia. Ia juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Yayasan Kebudayaan Nusantara Raya (Y.K. NuRa).

Ada pula buku-buku lain karya sastrawan kondang Banyumas dan Yogyakarta ini, di antaranya: buku puisi Rumah Cahaya (1995), buku esai Sastra Melawan Slogan (2000), buku kajian sastra Religiositas Alam: dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (2002), buku puisi Ijinkan Aku Mencintaimu (2002), buku puisi Tunjam-Mu Kekasih (2003), buku puisi Beribu Rindu Kekasihku (2004), buku kajian sastra Membaca Makna: dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (2005), buku esai Sastra Pencerahan (2005), buku kajian sastra dan tasawuf Gandrung Cinta (2008), buku kajian sastra Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (2009), buku puisi Yang (2011), buku puisi Kepayang (2012), buku puisi Hyang (2014), buku puisi Nun (2017), dan masih banyak lagi karya-karya terbaru yang dihasilkannya.

Sajak-sajak yang terkumpul dalam buku Penyair Cinta memiliki rentng tarikh dari tahun 1991 sampai 2020. Wachid, panggilan akrabnya, memilah-menghimpun kembali dari arsip kepenyairannya. Melalui judulnya, Penyair Cinta, buku ini jika dimaknai secara sepintas, barangkali disarankan bagi mereka yang menghamba pada cinta, pada kekasih—atau bisa jadi pada Cinta dan Kekasih dengan “C” dan “K” kapital?—yang bersemayam di kedalaman hati tiap manusia. Namun, bila ditilik lebih mendalam seperti dalam epilognya, Wachid tampaknya ingin menegaskan posisi sajaknya sebagai karya sufi-penyair yang merepresentasikan posisi pentingnya Tuhan sebagai “Kekasih”, dan pencitraan peleburan cinta melalui pencitraan cinta lawan jenis. Sebab, aktivitas cinta tersebut merupakan gambaran paling mewakili dari kebersamaan cinta yang dapat dikenali oleh manusia.

Refleksinya ialah refleksi mendalam tentang cinta dalam berbagai bentuk—bukan hanya cinta romantis, tetapi juga cinta spiritual, cinta terhadap sesama, dan cinta yang terkungkung oleh norma sosial. Buku ini sangat relevan dengan konteks hari ini, karena menggambarkan bagaimana cinta tetap menjadi tema universal yang terus diuji oleh zaman, aturan, dan realitas sosial. Di era digital, cinta bisa diekspresikan lebih luas, tapi juga lebih diawasi dan dihakimi. Puisi ini mengajak kita merenungo batasan-batasan itu. Di tengah dunia yang serba cepat dan materialistik, puisi ini mengingatkan bahwa cinta sejati memerlukan kedalaman, kesabaran, dan kejujuran. Beberapa puisi menyentil bagaimana cinta dan relasi manusia dikomodifikasi, sesuatu yang sangat terasa di era media sosial dan budaya instan.

Membaca Penyair Cinta karya Abdul Wachid B.S. ini, terasa seperti sedang membuka halaman-halaman hati seseorang yang pernah jatuh cinta, terluka, lalu mencoba memahami makna dari semuanya. Buku ini tidak menggurui, tidak berusaha tampil megah, tetapi justru menyentuh lewat kesederhanaannya. Itulah sebabnya, banyak pembaca merasa terhubung dengan puisinya  Ada beberapa keunggulan dari buku ini yang membuatnya istimewa dan layak direnungkan, di antaranya penggunaan gaya bahasa yang khas, mengandung ekspresi emosi yang jujur, menggugah pikiran dan perasaan untuk berpikir lebih dalam, imaji yang kuat, serta banyaknya amanat dan nilai-nilai moral yang ada jika kita gali dari penyampaian yang subtil. Kita bisa menemukannya, misalnya dalam kutipan puisi “Puteri” berikut.

Kau aku dipertemukan oleh hujan
dan di dalam hujan kau aku sama terpesona
irama yang dinyanyikan masakecil
berlarian, bertelanjang diri

Dalam kutipan tersebut, Wachid tidak menggunakan kata yang terlalu dipuitis-puitiskan,  namun citra yang dihasilkannyalah yang justru menghasilkan efek puitik itu.

Keunggulan yang kedua ialah sudut pandang yang personal. Penyair Cinta dipenuhi dengan ekspresi emosi yang asli.  Misalnya, bagaimana ia merasakan cinta, kesedihan, kegembiraan, atau kekecewaan. Jika ada puisi tentang patah hati, mungkin pembaca bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang di alaminya. Selain itu, buku Penyair Cinta juga menggugah pikiran dan perasaan untuk berpikir lebih dalam, menjadi teman setia bagi mereka yang suka merenungkan makna hidup atau melakukan introspeksi diri. Penggunaan imaji yang kuat dan menggugah indra, juga patut dijadikan sebagai keunggulan dari buku Wachid ini. Melalui bahasanya, penyair dapat membangun imaji yang kuat seolah-olah pembaca bisa mendengar, melihat, dan mencium. Indra kita dipancing untuk terlibat dalam puisi. Sebagai contoh, berikut kutipan puisi “Aku Airmata” yang menggunakan imaji kuat dan menggugah indra.

Melalui telepon aku mengenal kebaikanmu
setidaknya kebaikan suaramu
tanpa cinta jarak Purwokerto Yogyakarta
sejauh Jakarta Papua

Jika kita gali, moralitas yang ada dalam buku karya Wachid ini juga sangat sarat. Seperti yang diungkapkan oleh Nurgiantoro dalam Surmasilah (2017), bahwa nilai-nilai moral dalam karya sastra dapat diartikan sebagao hikmah yang diperoleh pembaca melalui sastra. Dalam hal ini, nilai-nilai moral disejajarkan dengan amanat dalam karya sastra yang dinyatakan secara terselubung atau implisit.Berdasarkan pernyataan tersebut, maka kita menyadari betapa pentingnya nilai-nilai moral dalam karya sastra.

Dalam buku Penyair Cinta karya Wachid ini, tidak hanya disajikan puisi-puisi romantis yang indah, tetapi juga menyimpan dan menyentuh. Nilai-nilai ini tercermin melalui tema, gaya bahasa, dan pengalaman batin penyair dalam menafsirkan cinta secara lebih spiritual, sosial, dan manusiawi. Beberapa nilai moral yang ada dalam buku ini, di antaranya rasa ketulusan dan kesetiaan, keikhlasan dalam mencintai, penghormatan dan empati terhadap sesama, kejujuran dan pengorbanan, juga keteguhan hati. Cinta di sini bukan sekadar emosi, melainkan jalan untuk belajar ikhlas, jujur, setia, dan berempati, baik kepada manusia maupun kepada Sang Pencipta.

Di samping keunggulan-keunggulannya, terdapat penggunaan gaya bahasa yang berlebihan atau terlalu (di)puitis(kan), sehingga kadang menciptakan keabstrakan yang menjadikan puisi tersebut susah ditangkap maknanya, terutama bagi pembaca awam. Gaya bahasa yang puitis memang sangat diperlukan dalam penulisan puisi, sehingga mampu menyihir pembaca dengan elemen-elemen yang simbolik. Seperti yang diungkapkan oleh Pradopo (2009: 103), bahwa bahasa puisi tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai alat estetika untuk menimbulkan efek rasa, citraan, dan renungan mendalam. Namun di sisi lain, bagi pembaca awam yang mengharapkan makna secara langsung, puisi ini bisa terasa seperti teka-teki tanpa kunci jawaban.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Damono (1984) juga, bahwa puisi bukan sekedar permainan bunyi dan kata-kata, tapi juga harus bisa menyampaikan makna pada pembaca. Jika puisi terlalu larut dalam keindahan bentuk tanpa memperhatikan keterpahaman, maka fungsi komunikasinya menjadi kabur. Buku Wachid ini terlampau banyak memperindah kata hingga lupa memberikan jalan pengungkapan dan permenungan makna bagi pembaca. Misalnya, dalam kutipan “di rumah rindu langit dan lampunya 5 watt ini” dan “hidup ditiup angin dan makin meredup”,memang terlihat sangat puitis dan menciptakan nuansa mistik kuat, namun juga dapat membingungkan pembaca yang tidak familiar dengan kata-kata simbolik.  Selain itu,  menurut A. Teeuw (1984), keseimbangan antara ekspresi dan komposisi dalam puisi juga penting diperhatikan. Jika puisi terlalu simbolik, maka kemungkinan pembaca menemukan makna dalam puisi tersebut akan mengecil pula.

Ya, kita juga harus memberikan catatan dalam hal ini, bukan bukan berarti penggunaan bahasa yang abstrak itu salah dalam puisi. Dalam banyak tradisi sastra, misalnya puisi modern, gaya seperti ini justru digunakan sebagai cara untuk merenung dan menyampaikan makna yang mendalam. Akan tetapi, penyair tetap ditantang untuk membuat abstraksi itu mampu menyentuh dan bermakna, bukan membuat pembaca kebingungan.

Melalui sajak-sajak Abdul Wachid B.S. dalam Penyair Cinta, kita tidak hanya hanya dipertemukan dengan rangkaian kata, melainkan juga kehadiran cinta dalam wujud yang jujur, mengundang kepekaan. Buku ini menjadi saksi bagaimana cinta biasa, hidup lewat bahasa yang halus dan menggugah, serta sebagai representasi pengabdian cinta melalui zikir penyair dalam puisi-puisinya.

Judul : Penyair Cinta
Penulis : Abdul Wachid B.S.
Tahun terbit : 2022
Ketebalan : xvi + 116 hlm.
Penerbit : Jejak Pustaka
ISBN : 978-623-5287-86-7
E-ISBN : 978-623-5287-54-1

Referensi:
Damono, Sapardi Djoko. (1984). Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan. Jakarta: Gramedia.
Mumtaz, Fairuzul. (2020). “Abdul Wachid B.S.”, diakses pada 19 Juni 2025 melalui laman https://sukusastra.com/abdul-wachid-b-s/
Pradopo, Rachmat Djoko. (2009). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Suharto, Abdul Wachid Bambang. (2022). Penyair Cinta. Yogyakarta: Jejak Pustaka.
Sumarsilah, Siti. (2017). Pengkajian Puisi. Malang: MNC Publishing.
Teeuw, A. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Nely Nur Safitri

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *