Purwokerto – Jumat (26/6/2026) Alun-Alun Purwokerto mendadak riuh dan dipenuhi energi perubahan. Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam BEM Banyumas Raya menggelar aksi Mimbar Bebas sebagai bentuk penyaluran aspirasi, kritik, sekaligus refleksi sosial atas kondisi bangsa saat ini. Aksi kreatif dan damai ini menjadi bukti nyata bahwa nalar kritis mahasiswa di daerah tidak pernah mati demi mengawal kebaikan NKRI.
Dipimpin oleh Setiawan selaku Koordinator Lapangan (Korlap), aksi ini mengusung konsep yang jauh dari kesan monoton atau anarkis. Mahasiswa memilih jalur kebudayaan dan edukasi literasi untuk menyentuh hati masyarakat serta menyuarakan kegelisahan mereka.

Perlawanan Lewat Seni dan Seni Berpikir
Mimbar Bebas kali ini dikemas apik melalui berbagai penampilan seni yang sarat akan pesan kritik sosial. Suasana Alun-Alun dibuat bergetar lewat beberapa agenda utama:
- Orasi Ilmiah & Bakar Semangat: Pekikan takbir dan tuntutan keadilan menggema membelah alun-alun, mengingatkan penguasa agar tidak abai pada nasib rakyat kecil.
- Teater Timbang Unsoed: Penampilan teaterikal yang memukau dari mahasiswa Unsoed berhasil menggambarkan ketimpangan sosial dan matinya keadilan dalam visualisasi yang menyayat hati. Menampilkan satu orang yang monolog dengan make up seperti badut.
- Musikalisasi Puisi & Akustik: Alunan musik dan bait-bait puisi yang dibawakan menjadi refleksi tajam, membuktikan bahwa seni bisa menjadi senjata paling ampuh untuk melawan kebebalan struktural. Adapun yang tampil dalam kesempatan ini adalah @firecrakers_oifficial
Aksi Nyata: Lapak Baca dan Pasar Gratis
Tidak hanya berteriak di podium, BEM Banyumas Raya juga menunjukkan kepedulian konkret terhadap basis massa rakyat lewat dua agenda humanis:
Pertama, Lapak Baca Gratis: Upaya nyata mahasiswa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa di tengah mahalnya akses pendidikan dan buku berkualitas.
Kedua, Pasar Gratis: Sebuah tamparan keras sekaligus bantuan alternatif bagi masyarakat yang kian terhimpit beban ekonomi. Siapapun boleh mengambil, siapapun boleh mendonasikan barang di sini. Salah satu barang yang dijajakan di sini adalah pakaian bekas layak pakai.

“Aksi hari ini adalah panggilan moral. Kami bergerak bukan untuk merusak, melainkan untuk merawat akal sehat bangsa yang mulai terkikis. Melalui seni, literasi, dan solidaritas pangan di Pasar Gratis, kami ingin menyatu dengan rakyat Purwokerto,” ujar Setiawan di sela-sela aksi.
Gerakan humanis seperti ini semestinya mendapatkan ruang publik yang luas. Ketika saluran formal kerap kali tersumbat, Mimbar Bebas di Alun-Alun Purwokerto ini menjadi oase sekaligus pengingat kuat: bahwa di tangan pemuda dan mahasiswa, harapan untuk kebaikan bangsa ini akan tetap terus menyala.


