Memori: Pameran Arsip dan Menyelami Hulu Hilir Kepenulisan Catatan Reportase

PURWOKERTO. Bukan kemuliaan imperium, melainkan arsip lokal, memori, dan memelihara kekayaan tanah leluhur. Nama Serajoedal Stoomtram Maatschappij atau SDS disebutkan oleh kurator sekaligus founder acara Pameran Arsip & Foto Sejarah, Jatmiko Wicaksono. Pameran tersebut bertempat di Hetero Space Banyumas.

Jatmiko Wicaksono lebih dari 15 tahun menekuni riset sejarah perkeretaapian, bangunan, dan warisan sejarah di wilayah Banyumas Raya. Melalui Banjoemas History Heritage Community, ia aktif membagikan hasil risetnya kepada publik melalui pameran, tur sejarah, dan berbagai kegiatan edukasi lainnya. Pada tahun 2025, Mas Jatmiko, sapaannya, menerima Lingling Wiyadharma Fellowship dari Leiden University dan berkesempatan melakukan riset terkait perkeretaapian di Lembah Serayu, termasuk sejarah Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS). Dari ruang galeri, ia membuat sejarah tetap hidup dan relevan bagi peserta workshop kepenulisan.

Kegiatan workshop kepenulisan reportase ini digelar di tengah rangkaian Banjoemas Heritage Week 2026, sebuah perayaan yang mengangkat tema “130 Tahun Serajoedal Stoomtram Maatschappij”.

Pada hari kedua gelaran pameran tersebut, Sabtu, 12 September 2026, workshop kepenulisan reportase dilangsungkan pada siang hari. Sesi tur galeri yang dijadwalkan oleh panitia untuk peserta workshop kepenulisan menjadi awal kegiatan. Peserta yang berjumlah belasan dan berasal dari berbagai kalangan ini masuk ke dalam galeri Pameran Arsip & Foto Sejarah. Mereka kemudian diajak melihat dan mendengarkan sejarah perkeretaapian, bangunan, dan warisan sejarah di Banyumas Raya, dipandu langsung oleh Jatmiko.

Keinginan Menulis dan Sebuah Ketertarikan

Pegiat literasi dari BIL Fest, Rahmi Wijayanti, sebagai pemateri workshop kepenulisan reportase menyapa peserta dengan cerita sederhana dan penuh kerendahhatian. “Keinginan menulis bukanlah soal bakat yang dibawa sejak lahir, ia adalah keterampilan yang diajarkan, diuji, dipotong, dan akhirnya dipertanggungjawabkan,” terang wanita lulusan pertanian ini saat membagi banyak pengalaman mengenai literasi, terutama tentang kepenulisan reportase.

Alih-alih workshop yang kaku dan terlalu formal, para pemateri menyajikan materi dengan cerita singkat penuh tawa. Peserta pun mendapatkan poin-poin yang bisa dicatat sebagai rujukan untuk berlatih menulis reportase.

Selanjutnya, Rahmi membagikan bagaimana reportase bisa disajikan ke dalam tulisan yang mampu membawa para pembaca masuk ke dalam sebuah peristiwa atau momen yang layak disampaikan.

Pertama adalah munculnya ide reportase. “Sebuah ide bisa muncul tatkala kita menyukai atau tertarik pada sebuah objek yang patut kita catat,” singkatnya.

Kedua adalah konsep 5W+1H. Dalam dunia jurnalistik, ini dikenal sebagai unsur kelengkapan berita atau news elements yang menjadi fondasi dasar setiap penulisan berita, termasuk reportase. Selanjutnya, penulis harus bisa membaca lingkungan sekitar, atau yang dalam praktik jurnalistik sering disebut observasi lapangan (field observation) dan pengamatan langsung (direct observation). Lebih jelasnya, ini adalah keterampilan yang membedakan reportase mendalam dari sekadar laporan faktual.

Kemudian yang terakhir, Rahmi mengistilahkan Intellectual Property. Karya jurnalistik adalah hasil intelektual, bukan sekadar “informasi”, karena di dalam proses jurnalistik melibatkan pencarian, pengolahan, verifikasi, dan penyajian informasi yang menuntut pengorbanan tenaga, waktu, dan biaya, imbuh Rahmi di sesi awal workshop.

Kalimat Efektif

Beberapa saat kemudian, Fikri Kuncen membersamai peserta workshop dalam posisinya sebagai Editor-in-Chief di media bilfest.id. Ia memaparkan dengan sangat padat bagaimana sebuah reportase disusun. Ia menyodorkan secuil lembaran kertas bertuliskan judul “Antara Martabat dan Ngojek, Berita Tempo edisi 12 Agustus 1989”.

Fikri mengajak peserta untuk berkelompok dan membedah teks tersebut dengan konsep 5W+1H. Kemudian, Fikri memantik peserta untuk bisa melihat secara jernih sebuah berita agar mampu memahami secara cerdas kedaulatan diri serta otentisitas sebuah berita yang ditampilkan.

Melompat ke kasus dalam berita tersebut, tampaknya reportase membutuhkan kejelian dalam melihat dan mencatat hal-hal yang krusial, pemilihan diksi, kalimat efektif, serta penulis yang harus banyak membaca, tambah Fikri di akhir sesi.

Semua yang disampaikan merupakan sebuah kesegaran dalam menulis reportase, bahkan bisa menjadi modal untuk jenis tulisan lain seperti esai, opini, dan mukadimah—sebuah kesegaran yang otentik sebagaimana misi bilfest.id yang akurat dan berimbang.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Maulana Bayu Isnarofik

Maulana Bayu Isnarofik adalah pembelajar dan pengajar yang aktif bermaiyah. Ia tinggal di Patikraja, Banyumas. Bisa diisapa melalui instagram: @maulanabayui__

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *