“Sejarah dan arsip bukanlah masa lalu yang mati, melainkan jembatan hidup yang terus menyatukan komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga identitas budaya di wilayah Banyumas Raya”.
PURWOKERTO. Menandai 130 tahun hadirnya jalur kereta api uap Lembah Serayu (Serajoedal Stoomtram Maatschappij / SDS), gelaran Banjoemas Heritage Week (BHW) 2026 siap dihelat pada 10–13 September 2026 di Hetero Space Purwokerto (Jl. Jend. Gatot Subroto No. 67, Purwokerto). Acara ini diselenggarakan oleh Banjoemas History & Heritage Community (BHHC) serta Rumah Arsip Banjoemas.
Eksibisi ini merupakan muara dari riset mendalam sejak tahun 2009 yang menyajikan rekam jejak bentang alam Banyumas Raya serta khazanah arsip dari Indonesia hingga Belanda. Pengunjung dapat menyaksikan langsung gambar kerja teknik dan foto-foto otentik masa pembangunan hingga era operasional kereta uap SDS. Selain pameran dokumerter, BHW 2026 dihadirkan sebagai wadah kolaborasi, temu komunitas, dan sarana peningkatan literasi sejarah bagi masyarakat.

Rangkaian Acara Banjoemas Heritage Week 2026
Selama empat hari berturut-turut, BHW 2026 menyajikan beragam kegiatan menarik, mulai dari pameran arsip, talkshow, workshop, hingga jelajah sejarah:
1. Pembukaan dan Pameran Arsip (Kamis, 10 September 2026)
- 18.00 – 19.00 WIB: Registrasi tamu undangan.
- 19.00 – 19.45 WIB: Acara Pembukaan dan Pertunjukan Tari oleh Yayasan Lengger Bicara Banyumas.
- 19.45 – 21.00 WIB: Gallery Tour perdana dipandu langsung oleh Kurator.
- Pameran Arsip dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB.
2. Hari Kedua (Jumat, 11 September 2026)
- 13.30 – 15.30 WIB: Workshop #1: Rebuild 3D Bangunan Heritage Stasiun SDS.
- 16.00 – 17.30 WIB: Sharing Session: Cerita dari Leiden.
- 19.30 – 20.30 WIB: Talkshow #1 (Kandhah Kuna) bersama Komunitas Pecinta Kereta Api.
- Gallery Tour dijadwalkan dua kali (15.00 – 15.30 WIB & 19.00 – 19.30 WIB).
3. Hari Ketiga (Sabtu, 12 September 2026)
- 08.00 – 11.00 WIB: Jelajah Edisi SDS Land.
- 10.00 – 12.00 WIB: Workshop #2: Blooming in History bersama Thera Art Space.
- 13.00 – 14.30 WIB: Workshop #3: Kepenulisan Reportase bersama bilfest.id.
- 16.00 – 17.30 WIB: History Creators Meet-Up 2026.
- 19.00 – 20.30 WIB: Talkshow #2 (Kandhah Kuna): Warisan Kereta Api Kolonial di Daerah.
4. Hari Penutupan & Malam Penganugerahan (Minggu, 13 September 2026)
- 09.00 – 11.00 WIB: Playdate Hompimpaa: Dolanan Sepur.
- 13.00 – 14.30 WIB: Workshop #4: Vintage Travel Journaling bersama Mainful Club.
- 15.00 – 16.30 WIB: Workshop #5: Play, Craft & Explore History bersama STIKOM Yos Sudarso.
- 19.00 – 21.00 WIB: Closing Ceremony yang dimeriahkan oleh:
- Malam Penganugerahan Kostha Sanggraha.
- Pertunjukan Pantomim oleh Sedulur Pantomim.
- Penampilan Musik oleh Gendhit.
Informasi selengkapnya bisa melalui instagram Banjoemas Heritage Week (BHW) 2026.

Opening Ceremony Banjoemas Heritage Week 2026
Perhelatan tahunan Banyumas Heritage Week (BHW) 2026 yang digagas oleh Banyumas History and Heritage Community (BHHC) resmi dibuka secara meriah dalam sebuah opening ceremony yang sarat akan pesan sejarah dan nilai-nilai kebudayaan lokal pada Kamis malam. Mengusung momentum besar peringatan 130 tahun hadirnya ‘Serajoedal Stoomtram Maatschappij’ (SDS) perusahaan kereta api swasta era Hindia Belanda yang pernah menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas masyarakat Banyumas Raya rangkaian acara pembukaan ini tak sekadar menjadi ajang seremoni, melainkan sebuah refleksi mendalam atas identitas kolektif daerah yang mulai tergerus zaman.
Acara pembukaan diawali dengan pidato sambutan yang penuh gairah dari Ketua BHHC. Di hadapan para tamu undangan dan masyarakat yang memadati area pameran, Grytje Gregory Hadiwono, yang akrab disapa Gery, melontarkan pemicu diskusi mendalam mengenai sejauh mana kepedulian masyarakat hari ini terhadap warisan sejarah di sekitarnya. Secara khusus, ia menyoroti nasib situs-situs bersejarah yang kini telah beralih fungsi dan lenyap dari ingatan publik.
“Mau sampai di mana ketidakpedulian kita terhadap warisan sejarah yang merupakan identitas kita? Identitas Banyumas terbentuk dari dinamika sejarah Kota Purwokerto ini. Melalui pameran yang diselenggarakan hingga Minggu, 13 September 2026 ini, BHHC mengajak kita semua minimal untuk mulai mendokumentasikan dan membagikannya ke media sosial sebagai wujud kepedulian. Kami ingin mendorong generasi muda untuk menjadi motor penggerak perubahan yang lebih mencintai sejarah,” ungkap Gery, yang juga menceritakan perjalanan panjangnya mengabdi sebagai sukarelawan selama satu dekade sebelum akhirnya dipercaya memimpin komunitas tersebut.
Suasana malam pembukaan semakin hidup dan menyentuh ketika panggung utama menampilkan pertunjukan seni pertunjukan bertajuk “Sepur Klutuk Serayu”. Pertunjukan terpadu ini digarap oleh Bagus Satria selaku pelatih sanggar seni dari Yayasan Lengger Bicara. Melalui waktu latihan singkat sebanyak dua kali pertemuan, Bagus berhasil merangkai berbagai potensi anak-anak cilik mulai dari pembacaan puisi, nyanyian, tari, hingga permainan alat musik menjadi satu jalinan narasi yang utuh.
“Di tengah gempuran tren individualisme pada anak-anak masa kini, saya sangat salut mereka masih mau berkolaborasi menciptakan pertunjukan bersama. Pelestarian seni dan sejarah memang tugas kita orang dewasa, namun hari ini anak-anak ini belajar berkesenian sekaligus mengenal sejarah tempat tinggal mereka melalui karya sederhana namun berkesan,” tutur Bagus Satria saat diwawancarai usai pementasan.
Puncak acara ditandai dengan sesi pengantar pameran arsip oleh Founder BHHC, Jatmiko Wicaksono, sebelum membuka galeri secara resmi untuk kunjungan perdana (galeri tour). Dalam penyampaiannya yang emosional, Jatmiko mengenang masa kecilnya saat mendengarkan kisah kereta uap atau sepur klutuk dari sang nenek, Ibu Saliati. Kenangan manis itulah yang memicu gairah risetnya selama bertahun-tahun melacak sisa-sisa jalur kereta api dari Maos, Sokaraja, Purwokerto, Banjarsari, hingga Wonosobo.
Gairah kepenulisan dan riset sejarah tersebut memuncak pada tahun 2025 ketika Jatmiko berhasil meraih kesempatan fellowship riset dari Lingling Wiyadharma di Belanda. Selama tiga bulan membelah Eropa, Jatmiko berkesempatan membedah puluhan ribu arsip langka di perpustakaan Universitas Leiden, Nationaal Archief di Den Haag, serta Spoorwegmuseum di Utrecht. Dari sana, ia menemukan fakta mengejutkan mengenai betapa majunya peradaban transportasi perkeretaapian di wilayah Banyumas Raya pada akhir abad ke-19.
Jatmiko memaparkan bahwa wilayah Banyumas Raya masa lalu merupakan salah satu kawasan paling makmur di Jawa dengan hadirnya pabrik-pabrik gula besar seperti Pabrik Gula Kalibagor (1839), Klampok (1888), Kalimanah (1891), Purwokerto, hingga Kalirejo di Sumpiuh. Selain gula, industri tembakau, tapioka di Sokaraja, serta minyak di Banjarnegara menjadikan kebutuhan moda transportasi modern berupa SDS sangat krusial saat itu. Bahkan, teknologi konstruksi jembatan kereta SDS kala itu jauh melampaui pembangunan jembatan jalan raya umum.
Pameran arsip BHW 2026 ini menghadirkan pengalaman tak biasa bagi pengunjung. Pameran ini memajang arsip-arsip asli dan reproduksi dengan izin khusus dari lembaga kerasipannya di Belanda yang belum pernah dipublikasikan luas di internet. Seluruh arsip tersebut bercerita tentang morfologi kota dan bagaimana kehadiran kereta api menjadi faktor kunci perpindahan pusat peradaban hingga terbentuknya Kota Purwokerto modern seperti sekarang.
Antusiasme tinggi langsung terlihat dari raut wajah para pengunjung saat melangkah masuk ke galeri pameran. Faqih, salah satu pengunjung asal Wonosobo dari kalangan Generasi Z, menyampaikan kekagumannya setelah mengikuti tur galeri bersama kurator. Menurutnya, melihat peta jaringan rel lama dan foto-foto peradaban lintas generasi memberikan gambaran visual yang nyata tentang masa lalu wilayahnya.
“Melihat peta rute kereta dari Banyumas sampai ke tanah kelahiran saya di Wonosobo yang sekarang sudah tidak aktif itu rasanya seperti menembus ruang waktu. Pameran ini sangat edukatif untuk Gen-Z seperti kami, memberi gambaran betapa pesatnya perkembangan zaman. Sebagai generasi muda, kita punya tugas untuk nguri-nguri atau melestarikan sejarah ini agar cerita peradaban Banyumas Raya tidak terputus dan tetap dipahami oleh anak cucu kita kelak,” ungkap Faqih pada saat diwawancarai.
Pameran arsip dan rangkaian kegiatan edukatif dalam Banjoemas Heritage Week 2026 ini dipastikan masih akan berlangsung meriah di Purwokerto hingga Minggu, 13 September 2026 mendatang. Panitia mengundang seluruh lapisan masyarakat, akademisi, hingga anak muda untuk hadir menyaksikan rekam jejak visual peradaban Banyumas dari dekat.
Workshop Kepenulisan Berita: Dari Pewarta Untuk Pembaca
Rangkaian perhelatan Banjoemas Heritage Week 2026 terus berlanjut. Pada Sabtu siang, acara dimulai dengan gallery tour pameran arsip dan sejarah dilanjutkan workshop kepenulisan. Sebelum memasuki area pameran, peserta melakukan pembukaan di ruang rembug dipimpin oleh panitia. Pembukaan sederhana ini menandai dimulainya kegiatan pada siang itu. Tak berselang lama, peserta memasuki area pameran. Dipimpin langsung oleh Jatmiko Wicaksono, sebagai kurator. Selama gallery tour, peserta memasuki area pameran dengan tertib.
Kereta uap lembah Serayu (Serajoedal Stoomtram Maatschappij) atau SDS menjadi topik utama yang diangkat pada gallery tour ini. Peserta mendengarkan satu persatu penjelasan dan arahan dari sang kurator. Sembari memahami gambar dan arsip sejarah, peserta menikmati pameran yang disajikan dengan saksama.

Jatmiko Wicaksono menjelaskan pembangunan jembatan kereta api sudah lebih dulu ada dibandingkan jembatan-jembatan transportasi lain. Pada prosesnya, membangun jembatan kereta api membutuhkan banyak sekali biaya dan effort yang tak main-main. Mereka harus membelah gunung, membangun jembatan di atas tanah berliku, dan menyusun pemberhentian kereta api di stasiun dengan aman. Mereka juga melakukan percobaan pada setiap lintasan apakah layak atau tidak bagi kereta api ketika melintasnya.
Pada masa itu, SDS diprioritaskan untuk mengangkut barang dan hasil bumi. Baru pada tahun 1896 SDS mengangkut penumpang. Tak hanya bercerita, Jatmiko Wicaksono juga menunjukkan gambar sebagai arsip sejarah yang dijaga sampai saat ini.
Setelah berkeliling di area pameran peserta melanjutkan workshop kepenulisan berita di ruang rembug. Workshop ini dilaksanakan dengan dua sesi, yaitu teori dan praktik. Dimulai dengan perkenalan, Rahmi Wijaya, pegiat literasi di Banyumas itu menyapa peserta dengan bercerita. Ia menceritakan awal mula terjun di dunia literasi dan jurnalis. “Aku bukan berasal dari kalangan penulis, justru aku adalah seseorang yang suka membaca. Aku kagum dengan orang-orang pintar di sekitarku yang terlihat keren. Hingga aku berpikir, kok bisa ya orang-orang pada pinter dan bisa seperti itu?” Ungkap Rahmi saat memulai ceritanya.
Ia menjelaskan bahwa jurnalis dimulai dengan tiga hal sederhana: Pertama, ketertarikan. Kedua, jurnalis sebagai induk dari ide yang lain. Ketiga, membaca dan mengamati sekitar kemudian mengolahnya melalui tulisan. Ketertarikannya pada manusia pintar di sekelilingnya membawanya menulis peristiwa. Dengan kaidah 5W+1H Rahmi menjelaskan tulisan berita akan memiliki nyawa. Ia juga menuturkan sebuah berita memiliki sudut pandang yang berbeda tergantung penulisnya. Berangkat dari jurnalis, Ia mengungkapkan lahirnya ide baru yang dapat dieksekusi dan bermanfaat bagi orang lain. Melalui pengamatan dan membaca peristiwa di lapangan, nantinya akan lahir sebuah tulisan berdasarkan fenomena yang kita lihat.
Setelah sesi satu selesai, workshop dilanjutkan dengan sesi praktik difasilitatori oleh Fikri Kuncen. Praktikum ini diisi dengan konsep yang menyenangkan. Sembari berkenalan, peserta diminta untuk membuat kelompok yang berisi 3 orang. Setiap kelompok ini nantinya akan berdiskusi mengenai berita yang menjadi inti materi workshop. Fikri Kuncen menjelaskan hal yang penting dalam dunia jurnalis adalah menghidupkan suasana dan mengawetkan isu. “Dalam menuliskan berita bagaimana kita bisa mengawetkan isu yang terjadi pada masa kini, agar tetap bisa dibaca pada masa yang akan datang,” ujar Fikri Kuncen saat menyampaikan materi.
Dalam sesi kedua ini Fikri juga menjelaskan bahwa seorang jurnalis mempunyai kewajiban mendasar. Kewajiban itu adalah membaca, terutama majalah, berita dan bacaan lain agar menambah kosakata baru dalam tulisan. “Dari membaca, kita akan tahu kata-kata baru yang dapat menjadi inventaris bagi tulisan kita,” jelas Fikri.
Sebagai seorang jurnalis ada beberapa hal yang dapat menambah value individu saat menulis berita. Ia menegaskan tulisan-tulisan yang lahir harus berdasarkan fakta lapangan. Selain itu, menggunakan asas keberimbangan dan mematuhi kode etik jurnalis juga menambah nilai bagi jurnalis. Berpihak pada kebenaran, melakukan riset dan wawancara menjadi kemampuan dasar yang patut dimiliki bagi seorang jurnalis. Dengan kemampuan itu akan menambah kemudahan saat menulis berita.
Workshop kepenulisan berita diselenggarakan secara terbatas. Dengan kuota yang terbatas inilah, peserta berlomba-lomba mendaftar agar dapat mengikuti workshop. Termasuk Gita Aulia Romadona, salah satu peserta workshop kepenulisan yang menceritakan bagaimana ia mendapatkan kursi peserta ini. “Awalnya ngga bisa daftar, tapi setelah dicoba kembali akhirnya bisa dan alhamdulillah masih dapat kuota,” ucap Gita saat ditemui setelah workshop selesai.
Gita menjelaskan workshop ini sangat bermanfaat dan mampu membawa vibes positif bagi dirinya. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagiku. Karena tidak hanya belajar menulis, tapi juga mengetahui teori-teori baru yang mampu menambah pengetahuan bagiku. Aku sangat tertarik mengikuti workshop ini sebagai langkah untuk belajar jurnalistik dan membawa vibes positif bagi diriku,” jelas Gita.

Workshop kepenulisan berita menjadi kegiatan baru pada Banjoemas Heritage Week tahun ini. Saat ditemui selepas kegiatan, salah satu pegiat di Banjoemas Heritage Week, Amoura mengungkapkan adanya workshop kepenulisan sebagai ikhtiar penggerak bagi penulis untuk menuliskan karya di bidang sejarah. Ia juga menambahkan minimnya arsip sejarah berupa tulisan tentang sejarah menjadi awal mula workshop dilaksanakan. “Kami merasa kepenulisan tentang sejarah itu penting. Kami juga ingin mendorong lebih banyak tulisan-tulisan di bidang sejarah lokal itu sendiri. Melalui workshop kepenulisan di Banjoemas Heritage Week ini diharapkan dapat menambah insight baru bagi peserta tentang sejarah serta menambah pengalaman,” tutur Amoura pada sesi wawancara.
Workshop kepenulisan ini berlangsung dengan lancar. Dibarengi dengan kegembiraan peserta yang sekaligus dapat menikmati arsip sejarah dari jarak dekat. Suasana menyenangkan turut mewarnai kegiatan pada siang menjelang sore. Ditutup dengan foto bersama, workshop kepenulisan berita ini membawa cerita baru bagi setiap peserta yang hadir.
Malam Penutupan, Penganugerahan dan Blues dari Gendhit
Suasana hangat dan penuh khidmat menyelimuti arena Hetero Space Banyumas pada Minggu malam, 13 September 2026. Rangkaian acara Banjoemas Heritage Week (BHW) 2026 yang mengusung tema peringatan 130 Tahun Serajoedal Stoomtram Maatschappij secara resmi memasuki malam puncaknya. Kegiatan pameran kebudayaan dan kearsipan yang telah berlangsung selama empat hari berturut-turut sejak Kamis, 10 September 2026 berhasil menyedot antusiasme masyarakat, pegiat sejarah, hingga budayawan lokal dan luar daerah.
Rangkaian acara penutupan diawali dengan sambutan dari pihak pemerintah daerah yang disampaikan oleh Agus Anggraito, selaku Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Banyumas. dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penyelenggara dan seluruh elemen masyarakat yang terlibat. Beliau menekankan pentingnya mengubah persepsi publik terhadap bidang kearsipan. “Bahwa arsip tidak boleh lagi dipandang sebagai tumpukan kertas kusam yang “diarsipkan” dan dilupakan, melainkan sebagai fondasi identitas peradaban yang harus diturunkan kepada generasi penerus”.
Lebih lanjut, Kepala Dinarpusda Banyumas juga menggarisbawahi keunikan sejarah dan administratif Kabupaten Banyumas yang jarang dimiliki daerah lain di Indonesia, seperti keberadaan dua Kejaksaan Negeri, dua Pengadilan Negeri, dan dua Pengadilan Agama. Semua bukti perjalanan tata pemerintahan tersebut terdokumentasi dalam arsip-arsip sejarah. Beliau mengajak masyarakat untuk menerapkan prinsip “tertib arsip adalah tertib hidup”. Di samping itu, Pemkab Banyumas bersama Rumah Arsip Banjoemas juga tengah memperjuangkan penetapan Batik Banyumasan sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB), berlandaskan bukti dukungan berupa 149 dokumen sejarah otentik. Mengakhiri sambutannya, beliau turut mengundang masyarakat untuk menghadiri serta memeriahkan Festival Literasi Banyumas yang akan digelar pada 14–16 September 2026 di kantor Dinarpusda.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Yayasan Lestari Banyumas Raya, Rizki Dwi Rahmawan, sebagai lembaga formal yang memayungi Banyumas History Heritage Community (BHHC). Dalam kesempatan ini, Rizky mepaparkan rasa syukur atas terselenggaranya BHW 2026 serta pentingnya mengangkat narasi-narasi lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Benda dan dokumen bersejarah yang dipamerkan bukanlah hal asing yang jauh dari jangkauan, melainkan artefak yang berada di lingkungan sekitar, seperti foto lama Kantor Kereta Api Purwokerto hingga jejak rel di Jalan Berkoh. Relevansi inilah yang terbukti mampu menyentuh ingatan kolektif publik dan menghidupkan kembali kesadaran sejarah di tengah masyarakat.
Kemudian sambutan selanjutnya disampaikan oleh Jatmiko Wicaksono, selaku Founder BHHC. Dalam penyampaiannya, Jatmiko mengilas balik perjalanan panjang komunitas yang diinisiasinya sejak tahun 2011 atau 15 tahun lalu. Beliau mengungkapkan betapa gerakan pelestarian sejarah lokal ini berawal dari dedikasi individu dan kecintaan sederhana terhadap masa lalu daerah. Apa yang dahulu kerap dipandang sekadar hobi atau useless knowledge, kini terbukti mampu memberikan kontribusi nyata serta dampak positif bagi pelestarian warisan budaya di Banyumas Raya. Dari pergerakan kecil komunitas tersebut, lahirlah Rumah Arsip Banjoemas pada tahun 2018 hingga lahirnya ajang tahunan BHW sejak tahun 2025.
Memasuki agenda utama penutupan Banjoemas Heritage Week (BHW) 2026, panitia juga menggelar prosesi Penganugerahan “Koshta Sangraha 2026”. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan tinggi kepada individu dan komunitas independen yang berdedikasi menjaga kearsipan serta membagikan pengetahuan sejarah lokal kepada publik. Penghargaan diserahkan langsung oleh Founder BHHC, Jatmiko Wicaksono, didampingi Kepala Dinarpusda Kabupaten Banyumas.
Penerima penghargaan Koshta Sangraha 2026 pertama diberikan kepada Riad Ginanjar, pendiri sekaligus ketua komunitas Cilacap History. Riad dinilai konsisten mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, melalui jelajah sejarah, aksi bakti sosial perawatan cagar budaya, serta pendokumentasian arsip sejarah Cilacap. Dalam pesan singkatnya, Riad juga mengungkapkan bahwa pergerakan mereka banyak mencontoh dedikasi para senior di BHHC dan menekankan pentingnya sinergi antar-komunitas sejarah demi kemajuan budaya bangsa.

Penghargaan kedua dianugerahkan kepada Faishal Ammar, kreator dan pengelola platform digital Roda Sayap. Platform independen ini konsisten menyelamatkan arsip foto lawas, dokumen operasional lokomotif, hingga literatur kearsipan kereta api Indonesia agar tidak tergerus oleh algoritma zaman. Bertepatan dengan hari jadi Roda Sayap yang ke-9, Faisal Amar menyampaikan rasa haru dan terima kasihnya. Ia menganggap penghargaan Koshta Sangraha ini bukan sekadar bentuk apresiasi, melainkan sebuah “pecut” atau pengingat moral untuk terus menjaga konsistensi, semangat, dan kolaborasi dalam merawat ingatan sejarah perkeretaapian.

Malam penutupan Banjoemas Heritage Week 2026, kemudian diakhiri dengan penampilan kesenian dari Sedulur Pantomim dan pertunjukan musik blues oleh Gendhit. Rangkaian acara ini mempertegas pesan utama bahwa, sejarah dan arsip bukanlah masa lalu yang mati, melainkan jembatan hidup yang terus menyatukan komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga identitas budaya di wilayah Banyumas Raya. (Nuun, IAN)
Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara Banjoemas Heritage Week 2026.Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini. Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.



One thought on “BHHC Gelar Pameran Arsip, Diskusi dan Workshop dalam Rangkaian Banjoemas Heritage Week 2026”