PURWOKERTO – Sesi Bincang Inspiratif dalam rangkaian acara Banyumas International Literacy Festival (BILFest) 2026 berlanjut pada hari kelima yang membahas mengenai Mendoan dalam kajian sejarah lokal Masyarakat Banyumas. Sesi ini diisi oleh Eta Farida lulusan Ilmu sejarah Universitas Diponegoro dipandu oleh moderator Susanto, yang merupakan Jurnalis Senior dari Harian Umum Suara Merdeka Biro Banyumas, Senin, (15/06/2026).
Melalui diskusi ini, selembar mendoan hangat tidak lagi dipandang sebagai urusan pengisi perut semata. Ia ditarik jauh ke belakang, menguak lapisan sejarah yang getir mengenai benturan kelas, strategi bertahan hidup di masa lampau, krisis ekonomi global Malaise, hingga hantu ketakutan massal akibat tragedi racun tempe bongkrek.
Diskusi dibuka oleh Eta Farida dengan sebuah kegelisahan metodologis yang mendasar mengenai bagaimana sejarah kuliner kita ditulis. Eta memaparkan betapa biasnya dokumen-dokumen tertulis peninggalan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Arsip Barat sangat rajin dan detail mencatat menu perjamuan mewah berskala besar yang dikenal sebagai ‘rijsttafel’, yakni sebuah simbol gaya hidup elite Eropa yang mengadopsi kemewahan kuliner pribumi kelas atas untuk menegaskan sekat sosial. Namun, arsip-arsip resmi tersebut mendadak bungkam, kehilangan taji, dan mengabaikan eksistensi makanan rakyat jelata seperti mendoan, dages, atau tempe bongkrek.
“Tidak ada arsip kolonial yang secara spesifik menyatakan perjamuan tertentu di tingkat lokal dengan menu mendoan, kecuali makanan-makanan yang penuh gengsi,” ungkap Eta.
Untuk menambal patahan sejarah yang ditinggalkan oleh bungkamnya arsip kolonial tersebut, Eta menegaskan bahwa sejarah lisan harus hadir sebagai juru selamat. Ingatan kolektif masyarakat, penuturan turun-temurun dari ruang dapur keluarga, hingga romansa kuliner klangenan di pasar tradisional adalah data hidup yang tidak ternilai harganya.
Susanto kemudian menyambung pandangan Eta dengan menarik benang merah ke ranah kebijakan lokal. Melalui pelacakan sejarah lisan, terungkap bagaimana kebijakan ekonomi-politik di tingkat pemerintahan daerah, seperti pada era kepemimpinan Bupati Ganda Subrata, membawa efek domino yang masif ke tingkat grassroot. Ketika stabilitas ekonomi masyarakat perlahan membaik, terjadi apa yang disebut Eta sebagai demokratisasi pangan. Bahan-bahan baku yang semula dianggap mewah dan sarat gengsi elite seperti tepung terigu, perlahan-lahan merembes ke bawah, diadopsi oleh masyarakat luas, dan memicu lahirnya semangat egalitarianisme yang dipahat dari atas wajan dapur rakyat.
Namun, narasi mendoan dan tempe di Banyumas Raya tidak selalu sewangi aroma daun bawang yang digoreng. Diskusi menukik tajam saat Susanto membeberkan wilayah kelam sejarah lokal pasca-era novel legendaris ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ (1981) karya Ahmad Tohari yang sempat memotret eksistensi tempe bongkrek. Sekitar tahun 1987-1988, sebuah awan hitam trauma massal menggelayuti Desa Bantarwangi, Kecamatan Lumbir, sebuah wilayah dengan topografi bergunung di perbatasan Banyumas-Cilacap. Tragedi keracunan massal tempe bongkrek meledak dan merenggut banyak nyawa secara mengenaskan.
Susanto membagikan kesaksian pilu dari arsip liputan investigasi jurnalis senior Suara Merdeka, Pak Budi Hartono. Karena keterbatasan infrastruktur dan medan yang terjal, proses evakuasi menuju puskesmas berubah menjadi perjuangan hidup dan mati yang traumatis bagi masyarakat. Tanpa adanya ambulans, warga terpaksa menggotong pasien yang muntah-muntah hebat menggunakan tandu darurat atau bahkan risban, yakni kursi panjang kayu peninggalan era Belanda.
“Ada yang meninggal di jalan, dan rombongan yang menggotong pasien kritis kerap berpapasan dengan rombongan lain yang membawa mayat,” kisah Susanto mengenang kengerian masa itu.
Di tengah situasi darurat tersebut, Warga yang mulai merasakan gejala keracunan namun tidak sempat dibawa ke puskesmas, mendatangi wong tua atau orang pintar di desa. Mereka dipaksa meminum sebuah ramuan darurat yang secara lokal disebut rujak bumbung.
Ramuan ini bertujuan memicu reaksi penolakan lambung secara instan agar seluruh isi perut dan racun yang mematikan dimuntahkan tanpa sisa. Mengejutkannya, metode nekat ini terbukti menyelamatkan beberapa nyawa warga dari maut.
Melihat trauma sosial tersebut, Eta Farida dan penanggap dari sudut pandang sains meluruskan bahwa biang keladi dari petaka tempe bongkrek murni terletak pada kegagalan higienitas proses pengolahan tradisional akibat keterbatasan fasilitas di masa lalu, bukan pada jamurnya. Di era krisis, para perajin kerap mengolah kamplong atau bungkil kelapa sisa pembuatan minyak menggunakan wajan tembaga raksasa, wadah yang sama untuk membuat jenang. Jika wajan tersebut tidak dicuci bersih hingga memicu timbulnya karat hijau timbra, kontaminasi bakteri tanah Burkholderia gladioli akan menghasilkan toksin asam bongkrek yang mematikan.

Perbincangan bergerak semakin berani ketika Eta Farida menembus isu kedaulatan pangan modern dan membuka fakta sejarah yang mengejutkan mengenai buku ‘Mustika Rasa’ yang diinisiasi oleh Presiden Sukarno. Buku tersebut dirancang sebagai doktrin pangan pemerintah untuk mengkampanyekan diversifikasi menu agar masyarakat tidak bergantung pada nasi demi menekan angka impor beras. Namun, menurut Eta, pada realitas sejarahnya proyek tersebut gagal di era Sukarno karena formulasinya terlalu doktrinal dan tidak sesuai dengan dompet serta lidah rakyat kecil di desa-desa.
Menjelang akhir diskusi, forum dihadapkan pada dilema nyata dari Desa Pliken, salah satu megalopolis sentra penghasil tempe terbesar di Banyumas yang ekonominya mandek karena hanya menjual tempe mentah dengan metode produksi kuno.
Menanggapi kekhawatiran generasi muda yang tergoda membuat inovasi aneh seperti Mendoan Stroberi demi pariwisata, Eta Farida memberikan rekomendasi strategis yang tegas.
“Jangan paksa warga Plijen untuk ikut-ikutan membuat mendoan stroberi atau banting setir ke produk kuliner matang,” tegas Eta.
Identitas Plijen sebagai hulu produksi harus dipertahankan, namun model bisnisnya harus diubah menjadi Paket Wisata Edukasi Desa. Standar higienitas harus dimodernisasi agar bisa masuk pasar modern, sementara aktivitas harian pembuatan tempe dikemas menjadi atraksi budaya di mana wisatawan datang untuk ikut menyebar ragi dan melipat daun, membawa pulang sebuah memori personal yang mendalam.
Sebagai penutup, Eta Farida merefleksikan pengalamannya sendiri dan melahirkan sebuah tesis tentang “Mendoan Universal”. Eta secara jujur mengakui bahwa memori pertamanya menyantap mendoan justru terjadi saat ia menempuh studi kuliah di Semarang, bukan di Banyumas. Pengalaman tersebut menyadarkannya betapa mendoan memiliki variasi bentuk, ukuran, dan cara penyajian yang sangat cair di berbagai daerah.
Namun, Eta dan Susanto sepakat pada satu konklusi filosofis akhir: kekuatan sejati dari mendoan berada pada kesederhanaan karakternya yang egaliter. Ia tidak membutuhkan narasi agung yang dipaksakan. Mendoan sejati adalah mendoan yang bertekstur lembut, digoreng kilat dalam kondisi setengah matang, disajikan panas-panas dari atas wajan, dan mampu menyatukan semua orang di atas meja yang sama tanpa sekat kelas sosial. Tugas besar bagi generasi masa kini adalah merawat identitas tersebut melalui tulisan dan riset yang mendalam, agar sejarah lisan kaum jelata Banyumas tidak lumat ditelan zaman.




