PURWOKERTO — Di tengah gempuran hiburan digital yang semakin mendominasi perhatian generasi muda, sebuah pertunjukan teater pada awal pekan justru menghadirkan pemandangan yang jarang terlihat belakangan ini: puluhan penonton duduk khidmat menyaksikan kisah yang dipentaskan langsung di atas panggung. Puluhan pengunjung memadati lokasi pertunjukan teater bertajuk “Pengangguran Sukses” yang dibawakan oleh kelompok Teater KataSapa asal Purbalingga, Senin, (15/06/2026).
Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga menjadi penanda bahwa denyut teater di wilayah Banyumas Raya masih hidup dan berupaya menemukan kembali ruangnya di tengah masyarakat.
Penonton yang hadir berasal dari berbagai kalangan. Selain masyarakat umum, sejumlah pegiat seni dari komunitas teater di sekitar Banyumas seperti Corak dan Texas turut hadir untuk menyaksikan pementasan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa jaringan komunitas teater masih bertahan, meski aktivitasnya tidak seramai beberapa tahun lalu.
Mengangkat tema yang dekat dengan realitas sosial, “Pengangguran Sukses” menyuguhkan satire tentang dunia kerja, tingginya angka lulusan sarjana, serta paradoks birokrasi yang kerap menjadi bahan perbincangan masyarakat.
Cerita dibuka dengan sosok Nawirnya, tokoh utama yang tampil sebagai pembicara dalam sebuah seminar bertajuk pengangguran. Dari titik itu, alur kemudian bergerak mundur melalui teknik flashback yang membawa penonton pada masa ketika Nawirnya baru saja lulus pendidikan.
Dalam salah satu adegan yang mengundang tawa sekaligus renungan, Nawirnya ditanya oleh sang ayah mengenai cita-citanya. Jawaban yang muncul justru tidak lazim: ia ingin menjadi pengangguran.
Namun, istilah “pengangguran” dalam naskah ini bukan dimaknai secara harfiah. Kata tersebut digunakan sebagai sindiran terhadap profesi pegawai negeri yang dalam cerita digambarkan bekerja santai, menikmati fasilitas pekerjaan, dan tidak jarang menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu.
Berbekal cita-cita itu, Nawirnya memutuskan meninggalkan rumah dan merantau ke kota. Di sana, ia akhirnya memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan impiannya. Seiring waktu, ia benar-benar menjadi bagian dari sistem yang sebelumnya hanya ia bayangkan.
Konflik mulai berkembang ketika hadir seorang calon pegawai baru yang memiliki latar belakang serupa dengan dirinya di masa lalu. Kehadiran tokoh tersebut membangkitkan kembali ingatan Nawirnya terhadap keluarga dan perjalanan hidup yang telah ia tempuh.
Momen emosional muncul ketika Nawirnya akhirnya pulang ke rumah. Alih-alih mendapat sambutan yang sentimental, sang ayah justru meminta Nomor Induk Pegawai (NIP) miliknya untuk digadaikan. Adegan ini menjadi sindiran tajam terhadap fenomena sosial yang masih ditemukan di masyarakat, ketika status pegawai negeri dianggap sebagai simbol kestabilan ekonomi yang dapat dijadikan jaminan berbagai kebutuhan finansial.
Pertunjukan kemudian kembali ke latar seminar pada awal cerita. Di sana, Nawirnya membagikan berbagai “motivasi” untuk menjadi pengangguran sukses. Dengan balutan humor yang konsisten sepanjang pertunjukan, pesan-pesan kritik sosial disampaikan secara ringan namun tetap mengena.
Salah satu dialog yang paling membekas bagi penonton malam itu adalah kalimat, “Jangan jadi idealis, nanti capek sendiri.”
Kalimat tersebut memantik gelak tawa sekaligus refleksi. Di satu sisi, ia terdengar seperti nasihat pragmatis. Namun di sisi lain, kalimat itu menjadi kritik terhadap sistem yang terkadang membuat idealisme harus berhadapan dengan realitas yang tidak selalu sejalan dengan harapan.

Di balik kritik yang disampaikan, pertunjukan ini juga menunjukkan bagaimana teater masih mampu menjadi medium yang relevan untuk membicarakan isu-isu kontemporer. Humor yang muncul tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, melainkan menjadi jembatan agar pesan sosial lebih mudah diterima oleh penonton.
Bagi sebagian pegiat seni, pertunjukan seperti ini juga memiliki makna yang lebih besar: menghidupkan kembali ekosistem teater di Purwokerto dan sekitarnya.
Faridah, salah satu penonton yang berasal dari Teater Corak, menilai eksistensi teater saat ini memang menghadapi tantangan tersendiri. Menurutnya, minat anak muda untuk menonton teater tidak sebesar beberapa tahun lalu.
“Kayaknya anak muda jarang yang nonton teater,” ujarnya saat ditemui usai pertunjukan.
Ia juga mengungkapkan bahwa komunitas-komunitas teater yang dahulu cukup aktif di Purwokerto kini sudah tidak seintensif sebelumnya. Akibatnya, koordinasi dan penyebaran informasi antar komunitas menjadi lebih sulit dilakukan.
“Kalau sekarang untuk koordinasi antara teater-teater lain memang sudah lumayan jarang sekali. Jadi informasi biasanya dari teman ke teman,” terangnya.
Meski demikian, Faridah melihat masih ada harapan melalui pertunjukan-pertunjukan yang konsisten mengangkat isu dekat dengan masyarakat. Menurutnya, tema pemerintahan dan kebijakan publik memang menjadi salah satu topik yang banyak muncul dalam karya teater belakangan ini karena relevan dengan situasi yang sedang berkembang.
Terkait pementasan Teater KataSapa, ia memberikan apresiasi terhadap kualitas para pemain yang dinilai memiliki pengalaman dan proses panjang di dunia teater.
“Mungkin karena aktor-aktornya sendiri memang sudah bertemu di dunia teater sebelumnya, jadi terasa lebih bagus. Ada perbedaan feel-nya,” ujarnya.
Baginya, pertunjukan tersebut berhasil menghadirkan keseimbangan antara humor dan kritik sosial. Meski mengangkat isu serius, suasana tidak terasa berat karena diselingi berbagai adegan komedi yang mengundang tawa penonton.
“Cukup menyegarkan untuk hari Senin. Ada humor-humornya juga, jadi tidak tegang terus,” tambahnya.
Lebih dari sekadar sebuah pementasan, “Pengangguran Sukses” menjadi pengingat bahwa teater masih memiliki ruang di tengah masyarakat. Kehadiran puluhan penonton pada malam itu menunjukkan bahwa publik masih memiliki ketertarikan terhadap seni pertunjukan yang menawarkan pengalaman berbeda dari layar gawai.
Di tengah tantangan regenerasi penonton dan berkurangnya aktivitas komunitas, panggung yang dihadirkan Teater KataSapa menjadi secercah harapan. Bahwa teater tidak hanya hidup melalui para pelakunya, tetapi juga melalui penonton yang masih bersedia datang, tertawa, berpikir, dan pulang dengan membawa pertanyaan-pertanyaan baru tentang realitas yang mereka hadapi sehari-hari.




