Refleksi Realitas di atas Panggung: Mahasiswa Sastra Indonesia Unsoed Angkatan 2024 Gelar Dramaturgi 2026

Purwokerto – Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) sukses menyelenggarakan pementasan drama di Aula Bambang Lelono, Fakultas Ilmu Budaya, pada 10–13 Juni 2026. Pementasan yang berlangsung selama empat hari berturut-turut ini digelar sebagai bagian dari pemenuhan mata kuliah Dramaturgi. 

Empat Naskah, Satu Panggung

Dramaturgi 2026 mengangkat tema besar “Sastrawan Indonesia”. Tiga kelas mementaskan naskah karya Arifin C. Noer, sementara satu kelas lainnya mengangkat karya Chairil Anwar.

Kelas A mementaskan naskah Matahari di Sebuah Jalan Kecil karya Arifin C. Noer yang menyoroti masalah sosial-politik, kemiskinan struktural, dan harapan masyarakat kalangan bawah.  Ara, sutradara Kelas A, menjelaskan bahwa “matahari” merupakan simbol harapan bagi para tokoh kalangan bawah dalam naskahnya. Meski hidup dalam keterbatasan, impian sederhana seperti memberi pendidikan layak untuk anak menjadi pemacu semangat bahwa perjuangan mereka akan terbayar suatu saat nanti. Ara menegaskan misi besar di balik pementasan ini: “Aku pengin teman-teman itu sadar bahwasannya everything is political. Jadi, semua ini politik. Apa yang terjadi di hidup kita itu dipengaruhi oleh politik.” Melalui pesan tersebut, ia berharap penonton semakin peka terhadap isu sosial-politik di Indonesia.

Kisah Cinta dan Lain-lain karya Arifin C. Noer dipentaskan kelas B. Naskah ini berpesan tentang kasih sayang dalam hal-hal kecil, termasuk terhadap hewan peliharaan. Sutradara kelas B, Nisa, mengatakan bahwa pesan yang ingin disampaikan kepada penonton adalah kita tidak boleh menyepelekan hal sekecil apapun karena dari hal kecil itulah benih cinta bisa tumbuh. Begitu pula dengan perhatian dari orang-orang terdekat; jangan pernah mengabaikan keberadaan mereka, karena di dalam diri setiap orang yang ada di dekat kita, selalu ada ketulusan cinta yang mendalam.

Masih mengangkat naskah karya Arifin C. Noer, kelas C mementaskan Kapai-kapai. Pementasan ini mengeksplorasi faktor psikologis manusia yang terjebak dalam imajinasi akibat tekanan kemiskinan. Sutradara kelas C, Ika, mengungkapkan bahwa elemen penting dalam pementasan mereka adalah “cermin tipu daya” sebagai simbol visual yang merepresentasikan hal-hal semu yang dikejar oleh tokoh utama.

Berbeda dengan kelas lainnya, kelas D memilih naskah Sudah Gila karya Chairil Anwar yang mengangkat isu kesehatan mental serta pentingnya kepekaan sosial di lingkungan masyarakat. Sutradara kelas D, Nita, berharap pementasan ini menonjolkan bagaimana tokoh Amir akhirnya bisa mendapat penanganan berkat bantuan sosial, “Harapan aku dalam pementasan ini bisa ditekankan gimana Amir itu pada ujungnya bisa mendapatkan penanganan dari RT dan bantuan warga sekitar. Karena apa? Karena kepedulian sosial di sekitar mereka.” 

Perjalanan di Balik Panggung Dramaturgi 

Seperti pementasan pada umumnya, Dramaturgi membutuhkan persiapan intensif. “Waktunya bisa cukup terbilang singkat. Kurang lebih dua bulan atau satu bulan setengah. Jadi mungkin ada beberapa hal yang belum sempurna karena dengan waktu yang singkat,” kata Pimpinan Produksi, Yesenia.

Proses transformasi dari teks naskah hingga menjadi pementasan diarahkan secara intensif oleh sutradara dan asisten sutradara. Tahapan dimulai dari bedah naskah untuk merancang visual panggung, tata cahaya, alur, dan konflik. Selanjutnya, para aktor menjalani proses “sejarah tubuh” untuk memetakan dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis tokoh, dilanjutkan dengan kontemplasi demi pendalaman karakter. Seluruh proses ini menuntut sinkronisasi total antara tim artistik seperti aktor, pencahayaan, kostum, musik, dan set panggung dengan tim produksi yang mengurus logistik, administrasi, dan publikasi.

Tantangan dan Perjuangan di Balik Layar Dramaturgi

​Di balik antusiasme penonton, terdapat perjuangan yang menguras energi. Tantangan terbesar bagi Yesenia adalah minimnya dasar teater tim produksi, yang awalnya mengira manajemen Dramaturgi sama seperti organisasi mahasiswa biasa, padahal jauh lebih kompleks. Kendala teknis pun sempat muncul, mulai dari kebocoran suara dari luar gedung pada hari kedua hingga masalah kabel pencahayaan yang longgar pada hari terakhir.

Tantangan spesifik juga dihadapi oleh masing-masing sutradara kelas:

Kelas A dan B (Penyelarasan Visi): Ara (Kelas A) dan Nisa (Kelas B) sama-sama merasakan beratnya menyatukan isi kepala dan persepsi dari puluhan anggota kelas agar selaras dengan konsep sutradara, terlebih dengan waktu latihan efektif yang hanya satu bulan.

Kelas C (Kedisiplinan dan Pengalaman): Ika mengakui tantangan internalnya ada pada manajemen waktu latihan yang sering molor. Selain itu, sebagai sutradara tanpa latar teater, ia harus banyak berkonsultasi dengan praktisi untuk mengeksplorasi kedalaman dialog.

​Kelas D (Krisis SDM): Nita sempat kesulitan membagi peran karena mayoritas anak kelas D lebih cocok di tim produksi dibandingkan menjadi tim artistik, terutama aktor. Keterbatasan SDM membuatnya beralih ke naskah Sudah Gila, yang dianggap lebih minimalis dan mampu dibawakan oleh aktor tanpa latar belakang teater. Akhirnya, pemilihan aktor dilakukan secara “cocoklogi” berdasarkan keberanian tampil.

Penonton Puji Totalitas

Sambutan hangat penonton selama empat hari pementasan membayar lunas kerja keras tim Dramaturgi 2026. Meski minim latar belakang teater, kualitas akting aktor dinilai merata dan memuaskan. Penonton bernama Indah mengungkapkan, “Kesan pertama itu menurutku dari pemerannya itu benar-benar memerankan perannya dengan maksimal,” ujarnya. Senada dengan Indah, Zahra merasa atmosfer pertunjukan sangat tersampaikan ke audiens, “Kalau dari aku udah bagus, udah gokil banget. Dari cara memerankan perannya tuh dapet banget kayak dari vibe, terus dari caranya ngomong itu udah nyampe ke penontonnya sih ya.”

Daya tarik utama pementasan ini terletak pada elemen plot twist dan humor yang tidak terduga. Pada pementasan Kelas A, Zahra dan Indah terkesan dengan perkembangan karakter Joko:  “Kalau dari aku sendiri, itu yang bagian si Jokonya itu … yang dari awal itu dituduh ya Kak itu, tapi ternyata orangnya itu baik terus tiba-tiba di plot twist di akhir cerita tuh malah si Jokonya yang ngebantuin nangkep.”

Sementara di Kelas B, Salwa mengaku terkejut dengan identitas tokoh Tony: “Yang bikin aku plot twist itu ternyata Tony itu cuma seekor kucing gitu. Yang tadinya aku pikir anak dari Nyonya dan Tuan,” ungkap Salwa. Brian menambahkan bahwa adegan dukun menjadi momen favoritnya: “Kalau dari aku mungkin waktu bagian ini ya dukunnya ya. Lebih ke semua bagian dukunnya sih, itu kayak menurut aku tuh momen paling lucu.”

Keberhasilan pementasan ini juga didukung oleh aspek visual dan teknis yang memukau. Indah memuji keselarasan elemen panggung: “Dari tata panggungnya, pencahayaannya juga udah kayak pas banget ya,” kata Indah yang disetujui Zahra, “Iya, udah sesuai.”

Salwa menilai visual tersebut sangat mendukung totalitas para aktor: “Kalau dari visual panggungnya tuh menurut aku udah support banget ya. Kayak udah menyesuaikan juga sama pementasan tadi. Terus buat akting juga aku suka banget sih liat akting dari dukun itu. Soalnya totalitas dan bikin penonton itu jadi kayak ngerasa apa ya, jadi terhibur gitu. Tapi totalitas semua akting di pementasan kali ini oke sih menurut aku.” Senada dengan ucapan Salwa, Brian mengapresiasi bahwa kualitas para aktor di atas panggung terasa seimbang, “Kalau dari aku juga setuju ya. Menurut aku akting tiap karakter itu kayak gak ada yang kebanting gitu loh. Semuanya tuh sama-sama bagus.”

Harapan dan Evaluasi 

Dramaturgi 2026 menjadi batu loncatan besar bagi mahasiswa Sastra Indonesia 2024, meski menyisakan evaluasi manajemen waktu, komunikasi, dan teknis. Pimpinan Produksi, Yesenia, menekankan pentingnya koordinasi solid serta bimbingan dosen yang lebih mendalam: “Aku memohon kepada dosen pengampu, mungkin untuk lebih intens membersamai kita juga untuk mengarahkan.” Ia juga berharap tim Dramaturgi di masa depan memperkuat pemahaman dasar teater dan menyiapkan peralatan lebih awal agar proses latihan selaras dengan realitas saat pementasan.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Hafida Nur Fadlilah

Hafida Nur Fadlilah, atau akrab disapa Hafi adalah seorang gadis logophile yang menjadikan dunia menulis sebagai kurensia. Sejak lima tahun terakhir, lebih kurang sudah ada 10 buku antologi yang memuat karyanya. Mari berteman dengan gadis introvert yang menetap di Purwokerto ini melalui akun Instagram @hfipple

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *