PURWOKERTO – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto berkolaborasi dengan Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) 2026, menyelenggarakan sesi bincang inspiratif mengenai literasi keuangan. Agenda yang bertajuk “Literasi Keuangan untuk Hidup yang Selamet” ini dilaksanakan di Hetero Space atau venue utama dari gelaran BIL Fest 2026, Kamis, (18/06/2026).
Acara tersebut turut menghadirkan layanan Mobil Simolek sebagai sarana pengaduan nasabah. Pertemuan tersebut dihadiri secara antusias oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari siswa-siswi jurusan akuntansi hingga para pegiat literasi di Banyumas.
Sesi diskusi dibuka oleh Rahmi Wijaya selaku moderator sekaligus Founder dari BIL Fest, kemudian dengan narasumber Gayeng Priamulindo. Sebagai prolog untuk mengawali pemaparan materi, Rahmi terlebih dahulu mengajak salah dua perwakilan audiens untuk berdiskusi singkat mengenai dasar-dasar literasi keuangan.
Gayeng Priamulindo yakni analis bagian Pengawasan Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) dan Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (PEPK), serta Layanan Manajemen Strategis Kantor OJK Purwokerto. Gayeng mengawali pemaparannya dengan memberikan ucapan selamat datang secara langsung kepada para audiens yang hadir di lokasi.
“Selamat datang kepada audiens dari SMK 1 Ajibarang, dan teman-teman penulis, serta para pengunjung,” ujar Gayeng menyapa peserta diskusi.
Dalam penyampaian materi utama, Gayeng membagikan formula atau resep praktis mengenai pengelolaan keuangan harian kepada para audiens. Ia memaparkan bahwa alokasi dana ideal dapat dibagi menjadi 10 persen untuk tabungan atau investasi, 30 persen untuk biaya cadangan, dan sisanya digunakan membiayai kebutuhan harian.
“Disisihkan dulu bukan disisakan. Misalkan dari 20 ribu, kita sisihkan 4 ribu untuk menabung, lalu sisanya untuk kebutuhan kita,” ujar Gayeng.
Lebih lanjut, Gayeng memaparkan strategi yang harus diambil apabila jumlah uang yang dimiliki masyarakat ternyata tidak mencukupi standar kebutuhan. Menurutnya, hanya ada dua langkah logis yang bisa ditempuh dalam kondisi ekonomi tersebut, yaitu menambah sumber pemasukan baru atau melakukan tindakan efisiensi anggaran.
Merespons penjelasan tersebut, Rahmi Wijaya selaku moderator menuturkan salah satu poin penting dari sebuah buku literasi yang pernah ia baca. Buku bertajuk A Dog Called Money tersebut menerangkan bahwa untuk menjadi kaya, seseorang perlu mencari uang sekaligus memahami cara mengelola uang tersebut dengan benar.
Gayeng membenarkan ulasan tersebut dan menambahkan bahwa kemampuan memisahkan antara kebutuhan dan keinginan merupakan pondasi utama. “Jika kita sudah dapat memisahkan antara kebutuhan dan keinginan, kita perlu atur sendiri dengan cara pengelolaan kita sendiri untuk menyisihkan dan merealisasikan keinginan kita,” tutur Gayeng.
Meski demikian, Gayeng mengingatkan agar upaya merealisasikan keinginan tersebut tetap didasari atas pemenuhan kebutuhan utama secara disiplin. Masyarakat diminta untuk tidak mengaburkan pengeluaran primer, termasuk di dalamnya adalah ketersediaan alokasi dana darurat.
Pada kesempatan itu, OJK turut menyoroti fenomena maraknya praktik judi online di tengah masyarakat. Gayeng menyebut judi online sering disalahartikan sebagai jalan pintas mencari pendapatan, padahal aktivitas tersebut sangat merusak dan tidak sesuai aturan.
“Sangat menyedihkan ternyata Banyumas menjadi salah satu daerah yang termasuk tinggi pelaku judi onlinenya di Jawa Tengah,” ungkap Gayeng.
OJK Purwokerto juga mengungkapkan data krusial dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengenai profil para pelaku. Berdasarkan data PPATK, kalangan pelajar atau anak sekolah kini sudah termasuk ke dalam daftar pengguna aktif judi online.
“Menjadi warning bagi bapak atau ibu guru, dan juga barangkali ada teman kalian ada yang bermain harus diingatkan,” kata Gayeng menegaskan.
Menurut Gayeng, pemberantasan judi online memerlukan usaha yang sangat besar dari jajaran pemerintah lintas sektor. Kesulitan penanganan ini terjadi karena mayoritas penyedia platform judi online tidak beroperasi dari dalam negeri, melainkan dikendalikan dari luar negeri.
Pihak OJK merinci beberapa dampak buruk yang pasti dialami oleh para pelaku judi online dalam kehidupan sosial mereka. Efek negatif tersebut meliputi masalah kecanduan akut, kerugian finansial yang besar, hingga memicu kerusakan pada kesehatan mental pelaku.
Selain menjauhi judi online, masyarakat juga didorong untuk mulai aktif berinvestasi pada instrumen keuangan yang aman. Gayeng mengingatkan agar masyarakat hanya memilih produk investasi yang legalitasnya jelas dan berada di bawah pengawasan OJK.
Langkah ini penting dilakukan agar masyarakat terhindar dari jebakan investasi bodong yang merugikan. “Kita harus berinvestasi, karena dapat digunakan untuk kebutuhan darurat,” ucapnya.
Gayeng juga meminta audiens untuk sangat bijak dan berhati-hati dalam mengambil kebijakan untuk berhutang. Kewaspadaan tinggi diperlukan seiring dengan maraknya kemudahan akses pinjaman yang ditawarkan oleh berbagai platform digital pay later saat ini.
Masyarakat juga dihimbau untuk selalu mewaspadai berbagai modus kejahatan uang digital yang dikirimkan melalui pesan singkat. Gayeng mencontohkan salah satu modus yang sering masuk ke aplikasi WhatsApp berupa tawaran pekerjaan paruh waktu berhadiah uang.
Modus kejahatan tersebut biasanya menjanjikan imbalan komisi hanya dengan melakukan tugas mengklik tombol like atau subscribe sebuah konten. “Tetapi reward tersebut justru akan merugikan kalian,” katanya.

Sesi bincang inspiratif kemudian berlanjut dengan komparasi dua pertanyaan yang diajukan oleh salah satu audiens bernama Marina. Marina menanyakan perihal kendala keterlambatan proses transaksi pada sistem QRIS, serta jenis investasi apa yang aman dan menguntungkan.
Menjawab pertanyaan pertama, Gayeng menjelaskan bahwa kendala tersebut murni disebabkan oleh adanya proses delay dari sistem tempat pembayaran. Ia menjamin bahwa kode QRIS yang resmi dikeluarkan oleh tempat transaksi pada dasarnya berstatus valid dan aman digunakan.
Validitas tersebut terjaga dengan catatan kode QRIS tidak dipasang di sembarang tempat karena sistem memastikan transaksi selesai dalam selang 24 jam. “Jika dari sisi keamanan, kita jangan sembarang asal QRIS, perhatikan nama outlet tempat pembayaran kita,” ucapnya.
Menjawab pertanyaan kedua mengenai investasi aman, OJK menekankan aspek legalitas lembaga serta tingkat keuntungan yang masuk akal. Gayeng merekomendasikan investasi emas sebagai salah satu instrumen pilihan yang paling aman bagi pemula.
“Investasi emas, menurut saya tapi lebih baik emas yang fisik bukan yang digital,” ujar Gayeng.
Sebagai bentuk keterbukaan akses, OJK menyediakan unit Mobil Simolek di area festival yang berfungsi sebagai layanan informasi konsumen. Keberadaan fasilitas ini ditujukan untuk membantu masyarakat melakukan pengaduan nasabah serta mempermudah laporan ke kanal informasi OJK.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan kanal digital resmi dengan melaporkan masalah keuangan melalui website iasc.ojk.go.id. Selain lewat website resmi, OJK menyediakan saluran interaksi langsung melalui layanan call center di nomor 157.
Pada akhir sesi diskusi, Rahmi Wijaya selaku moderator memberikan rangkuman mengenai beberapa poin penting untuk masa depan. Rahmi menekankan aspek pengelolaan keuangan, kesiapan mental, alokasi dana yang tepat, serta kecermatan membedakan kebutuhan dan keinginan.
“Perhatikan bagaimana cara kita mencari pemasukan, dan jangan tergiur dengan sumber pemasukan seperti pinjaman online atau pay later,” ucap Rahmi.
Rahmi menambahkan, apabila masyarakat mengalami keragu-raguan atau menemukan masalah keuangan, mereka dapat memanfaatkan layanan pengaduan. Layanan penanganan masalah tersebut dapat dilaporkan secara resmi dengan mendatangi pihak OJK atau melalui fasilitas Mobil Simolek.
Respons positif terhadap pelaksanaan bincang inspiratif ini disampaikan oleh Soimah selaku perwakilan pendidik yang hadir di Hetero Space. Soimah merupakan Ketua Jurusan Akuntansi dan Keuangan Lembaga di sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Ajibarang.
“Ini bagi kami sebuah wadah literasi keuangan yang saya menarik,” kata Soimah.
Soimah menilai fenomena saat ini menuntut adanya pengenalan konsep literasi keuangan secara konsisten sejak usia dini. Melalui pengenalan awal, generasi muda diharapkan mampu menguasai tata cara mengelola keuangan dengan baik melalui tahapan yang sederhana.
Langkah praktis dapat dimulai dari membimbing para siswa mengenai cara mengelola uang saku harian mereka secara bertanggung jawab. Setelah mampu mengelola uang saku, para siswi dapat mulai diperkenalkan pada dunia investasi sejak mereka duduk di bangku sekolah.
Menurut Soimah, pemahaman berinvestasi tidak harus menunggu sampai para siswi menyelesaikan masa studi dan mendapatkan pekerjaan. “Tetapi justru ditumbuhkan ketika mereka itu sedang belajar di sekolah,” ujar Ketua Jurusan Akuntansi tersebut memberikan argumentasi.
Secara umum, pihak SMK 1 Ajibarang menilai kualitas penyelenggaraan bincang inspiratif ini sudah berada dalam kategori yang sangat bagus. Acara ini dinilai sukses karena mampu memfasilitasi kebutuhan edukasi luar ruang bagi para audiens, khususnya bagi pihak sekolah.
“Kalau menurut kami sudah cukup bagus karena memfasilitasi kepada audiens, terutama kami (pihak SMK 1),” tutur Soimah menambahkan.




