PURWOKERTO – Hari ketujuh penyelenggaraan Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) 2026 menghadirkan diskusi inspiratif yang membahas pendidikan, dunia kerja, serta pentingnya keterampilan dalam meraih kesuksesan. Sesi inspiratif ini merupakan sebuah kolaborasi antara BIL Fest dengan Universitas Terbuka Purwokerto, Rabu, (17/06/2026). Direktur Universitas Terbuka (UT) Purwokerto, Prasetyarti Utami, hadir sebagai narasumber bersama alumni Universitas Terbuka sekaligus Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kebumen, Cokro Aminoto. Diskusi dipandu langsung oleh Founder Banyumas International Literacy Festival, Rahmi Wijaya.
Perbincangan yang berlangsung di area festival itu mengangkat tema mengenai hubungan antara pendidikan tinggi, pengembangan keterampilan, dan kesiapan menghadapi dunia kerja. Kedua narasumber membagikan pengalaman serta pandangan mereka mengenai pentingnya belajar sepanjang hayat di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Pada awal diskusi, Cokro Aminoto mengajak peserta untuk melihat kembali perjalanan pendidikan jarak jauh pada masa lalu. Ia mengenang pengalamannya saat pertama kali mendaftar sebagai mahasiswa Universitas Terbuka pada tahun 1996. Pada masa itu, seluruh proses administrasi masih dilakukan secara manual melalui layanan pos.
Menurut Cokro, calon mahasiswa harus membeli formulir pendaftaran di Kantor Pos, mengisinya secara tertulis, kemudian mengirimkannya kembali menggunakan amplop dan layanan pengiriman surat. Berbeda dengan saat ini yang serba digital, proses tersebut membutuhkan kesabaran dan ketelitian yang tinggi.
Meski demikian, ia menilai sistem yang diterapkan Universitas Terbuka sejak awal memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
“Ketika modul pertama datang ke rumah, saya merasa sangat senang. Di dalam paket itu sudah ada kartu mahasiswa. Semua proses berjalan sederhana dan memberi kesempatan kepada banyak orang untuk belajar,” ungkapnya.
Cokro menjelaskan bahwa salah satu keunggulan yang ia rasakan selama menjadi mahasiswa UT adalah fleksibilitas dalam proses belajar. Sistem tersebut memungkinkan mahasiswa mengatur waktu belajar sesuai kondisi masing-masing.
Ia mengaku pernah membeli modul pembelajaran secara bertahap karena harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan yang dimiliki saat itu. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan.
Menurutnya, keberhasilan dalam pendidikan jarak jauh sangat ditentukan oleh disiplin pribadi. Mahasiswa harus mampu mengatur waktu, menyusun target belajar, serta menjaga konsistensi dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Dari pengalaman tersebut, Cokro berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mengembangkan karir di dunia pendidikan maupun pemerintahan.
Selain berbagi pengalaman pendidikan, Cokro juga menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara pola hidup dan kemampuan menulis. Ia mengutip pepatah berbahasa Jerman, “Eine Sprache ist ein Spiegelbild des Lebens,” yang berarti bahasa atau tulisan seseorang merupakan cerminan dari kehidupannya.
Menurut Cokro, seseorang yang memiliki kehidupan teratur dan disiplin cenderung mampu menyampaikan gagasan secara runtut dan sistematis. Sebaliknya, tulisan yang tidak terstruktur seringkali menunjukkan kurangnya keteraturan dalam proses berpikir.
Dalam kesempatan tersebut, ia memperkenalkan metode sederhana yang biasa digunakan untuk menyusun tulisan, yaitu DUMK yang merupakan singkatan dari Duduk Perkara, Uraian, Misal atau Data, dan Kesimpulan.
Untuk memudahkan pemahaman peserta, Cokro memberikan contoh menggunakan kalimat sederhana, yakni “Hari ini aku kangen”. Ia menjelaskan bahwa bagian duduk perkara berisi pokok persoalan yang ingin disampaikan. Selanjutnya, uraian digunakan untuk menjelaskan latar belakang atau alasan munculnya persoalan tersebut.
Bagian misal atau data berfungsi memberikan bukti maupun contoh yang mendukung uraian. Sementara itu, kesimpulan menjadi bagian akhir yang merangkum keseluruhan isi pembahasan.
Penjelasan tersebut disambut antusias oleh peserta karena disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

Menanggapi pengalaman yang dibagikan Cokro, Prasetyarti Utami menjelaskan bahwa Universitas Terbuka juga terus mengembangkan berbagai strategi pembelajaran yang mendukung mahasiswa dalam belajar secara mandiri.
Salah satu metode yang diperkenalkan kepada mahasiswa adalah SQ3R, yaitu Survey, Question, Read, Recite, dan Review. Metode tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa memahami materi secara lebih efektif dan terstruktur.
Utami menjelaskan bahwa metode SQ3R mendorong mahasiswa untuk terlebih dahulu mengenali isi materi secara umum, menyusun pertanyaan, membaca secara mendalam, mengulang kembali informasi yang diperoleh, dan melakukan peninjauan ulang terhadap materi yang telah dipelajari.
Menurutnya, kemampuan belajar mandiri menjadi keterampilan yang semakin penting pada era saat ini, ketika informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber dan teknologi berkembang dengan sangat cepat.
Dalam pemaparannya, Utami juga menjelaskan perkembangan Universitas Terbuka sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang menerapkan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh. Ia menyebut jumlah mahasiswa UT saat ini mencapai hampir 800.000 orang yang tersebar di berbagai wilayah, sementara mahasiswa yang berada di bawah layanan UT Purwokerto mencapai lebih dari 30.000 orang.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang fleksibel masih sangat besar. Banyak mahasiswa UT berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari pekerja, aparatur sipil negara, guru, pelaku usaha, hingga lulusan sekolah menengah yang ingin melanjutkan pendidikan.
Menurut Utami, keberagaman tersebut menjadi salah satu kekuatan Universitas Terbuka karena menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan berbagai pengalaman dan perspektif. Ia juga menegaskan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tinggi kini semakin terbuka bagi masyarakat.
“Zaman sekarang kita tidak perlu bingung memilih tempat kuliah. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar dan terus mengembangkan diri,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Utami turut menyebut sejumlah tokoh nasional yang pernah menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Beberapa di antaranya adalah Jenderal TNI (Purn.) Wiranto, Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, serta Dr. H. Maidi, S.H., M.M., M.Pd.
Sesi diskusi kemudian berlanjut dengan tanya jawab bersama peserta. Salah satu pertanyaan datang dari Diki, pelajar SMK Negeri 1 Kaligondang, yang menanyakan mengenai kegiatan kemahasiswaan di Universitas Terbuka.
Menurut Diki, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa sistem pembelajaran jarak jauh membuat mahasiswa kurang memiliki kesempatan untuk mengikuti organisasi maupun kegiatan pengembangan diri.
Menanggapi hal tersebut, Utami menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ia menjelaskan bahwa UT memiliki berbagai organisasi kemahasiswaan yang mewadahi minat dan bakat mahasiswa.
“Mahasiswa tetap dapat mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan. Ada bidang kewirausahaan, seni budaya, sosial ekonomi, hingga olahraga yang dapat menjadi sarana pengembangan diri,” jelasnya.
Selain organisasi kemahasiswaan, UT juga menyelenggarakan berbagai program pengembangan soft skill seperti klub debat, English Club, pelatihan kepemimpinan, serta berbagai kegiatan akademik dan nonakademik lainnya.
Menurut Utami, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerjasama tim, serta kemampuan berpikir kritis yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja.
Melalui diskusi tersebut, peserta memperoleh gambaran bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan perolehan gelar akademik, tetapi juga tentang proses membangun karakter, disiplin, dan keterampilan yang dapat mendukung kehidupan di masa depan.
Perbincangan antara Cokro Aminoto dan Prasetyarti Utami di BIL Fest 2026 menunjukkan bahwa semangat belajar dapat tumbuh dalam berbagai kondisi dan latar belakang. Dengan dukungan teknologi, metode pembelajaran yang tepat, serta kemauan untuk terus berkembang, pendidikan dapat menjadi sarana bagi siapa saja untuk meningkatkan kualitas diri dan memperluas peluang di masa depan.




