Bincang Inspiratif BIL Fest 2026: AIESEC UNSOED Buka Jalan Pemuda Go International Lewat Program Volunteer Global

PURWOKERTO — Ragu, takut, dan bimbang, tiga hal inilah yang sering menjadi penghalang anak muda untuk melangkah lebih jauh mengejar peluang. Namun, melalui sesi Bincang Inspiratif bersama AIESEC in UNSOED di ajang BIL Fest, para peserta diajak melihat bahwa kesempatan untuk berkembang hingga ke tingkat internasional sesungguhnya terbuka bagi siapa saja yang berani mencoba, Jumat, (19/06/2026).

Menghadirkan Alya Medina, pengelola operasional Global Volunteer AIESEC in UNSOED, dan Fathimah Mashumah, alumni program volunteer internasional di Thailand tahun 2025, diskusi ini mengupas bagaimana pengalaman menjadi relawan di luar negeri mampu membuka wawasan global sekaligus mengasah keterampilan kepemimpinan generasi muda.

Alya menjelaskan bahwa Global Volunteer merupakan program pertukaran relawan internasional yang dirancang untuk mengembangkan kepemimpinan anak muda sekaligus berkontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

“Di era sekarang, nilai akademik saja tidak cukup. Anak muda juga perlu mengembangkan kemampuan lain seperti kepemimpinan, komunikasi, kemampuan bahasa asing, hingga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru,” jelas Alya.

Program ini dapat diikuti oleh pemuda berusia 18 hingga 30 tahun dan bekerja sama dengan berbagai negara mitra seperti Vietnam, Sri Lanka, India, Filipina, beberapa negara Timur Tengah, hingga negara-negara di Eropa.

Menurut Alya, setiap negara memiliki fokus proyek yang berbeda-beda. Ada yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi. Karena itu, calon peserta perlu memahami tujuan pribadinya sebelum memilih negara tujuan.

“Setiap negara punya fokus masing-masing. Ada yang fokus pada ekonomi, lingkungan, pendidikan, atau kesehatan. Kuncinya adalah mengkomunikasikan tujuan dan minat kita dengan tim AIESEC agar bisa mendapatkan program yang sesuai,” ujarnya.

Salah satu contoh nyata datang dari pengalaman Fathimah Mashumah yang mengikuti proyek SDGs Nomor 4: Quality Education di Thailand. Dalam program tersebut, ia berperan membantu meningkatkan kemampuan bahasa asing para siswa dengan menghadirkan perspektif pembelajaran dari relawan internasional.

Berangkat dari ketertarikannya pada dunia pendidikan, Fathimah mengaku pengalaman tersebut menjadi salah satu perjalanan paling berharga dalam hidupnya.

“Saya memang suka mengajar. Di sana saya bertemu relawan dari berbagai negara dan bersama-sama mengajar siswa lokal,” tuturnya.

Meski demikian, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah perbedaan bahasa.

Menurut Fathimah, hambatan komunikasi sempat muncul karena tidak semua siswa maupun masyarakat lokal mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Namun, keberadaan guru lokal membantu menjembatani kesenjangan tersebut.

“Tantangan terbesarnya memang language barrier. Tapi kami dibantu guru Thailand yang menjadi penghubung sehingga komunikasi tetap berjalan baik,” katanya.

Selain bahasa, pengalaman culture shock juga tak terhindarkan. Fathimah bercerita bahwa makanan menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama tinggal di Thailand.

“Makanan Thailand cenderung memiliki rasa asam yang cukup kuat. Awalnya cukup kaget, tetapi lama-kelamaan jadi pengalaman kuliner yang menarik,” ungkapnya.

Dalam sesi tanya jawab, peserta juga menanyakan bagaimana proses seleksi program Global Volunteer berlangsung.

Alya menjelaskan bahwa proses pendaftaran relatif cepat. Setelah mendaftar, peserta akan menjalani tahap wawancara. Waktu tunggu untuk interview biasanya sekitar satu minggu, sementara pengurusan dokumen seperti visa, paspor, dan tiket pesawat membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan.

Terkait biaya, program ini bersifat self-funded atau dibiayai secara mandiri oleh peserta. Estimasi biaya berbeda-beda tergantung wilayah tujuan.

Untuk kawasan Asia, biaya yang perlu dipersiapkan berkisar antara 7 juta hingga 12 juta rupiah. Sementara untuk Timur Tengah sekitar 10 juta hingga 19 juta rupiah, dan kawasan Eropa dapat mencapai 20 juta hingga 30 juta rupiah.

Fathimah membagikan pengalamannya selama enam minggu menjalani program di Thailand dengan total pengeluaran sekitar 14 juta hingga 15 juta rupiah, mencakup tiket pesawat, visa, project fee, serta kebutuhan hidup sehari-hari.

“Waktu di Thailand kami mendapatkan tempat tinggal berupa dormitory dan bantuan konsumsi. Di negara lain ada juga yang menyediakan host family sebagai tempat tinggal peserta,” jelasnya.

Di sela-sela kegiatan volunteer yang berlangsung pada hari kerja, peserta juga memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi negara tujuan.

“Weekdays digunakan untuk kegiatan volunteer, sedangkan akhir pekan bisa dimanfaatkan untuk travelling atau mengenal budaya lokal lebih jauh,” tambah Fathimah.

Selain kesiapan finansial, kedua narasumber menekankan pentingnya kesiapan mental sebelum berangkat. Restu orang tua, kelengkapan dokumen, hingga kemampuan memperkenalkan budaya Indonesia menjadi bekal yang tidak kalah penting.

Menurut Fathimah, para peserta biasanya mendapat kesempatan memperkenalkan budaya Indonesia melalui seminar atau kegiatan budaya yang diselenggarakan oleh proyek setempat. Ia juga mengingatkan peserta agar membawa obat-obatan pribadi sebagai langkah antisipasi selama tinggal di luar negeri.

“Momen yang paling membahagiakan adalah ketika anak-anak mulai bisa berdialog tanpa bantuan Google Translate. Saat itu saya merasa apa yang kami lakukan benar-benar memberikan dampak,” katanya.

Dampak program juga dirasakan secara langsung oleh para relawan. Selain kemampuan bahasa Inggris yang meningkat, peserta berkesempatan mempelajari bahasa lokal, memperluas jejaring internasional, serta mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah.

Dalam bidang SDGs, AIESEC menawarkan beragam proyek yang mendukung isu global seperti Quality Education, Good Health and Well-Being, Youth Impact, pelestarian lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Menariknya, AIESEC tidak mewajibkan peserta memiliki sertifikat kemampuan bahasa Inggris seperti TOEFL atau IELTS.

“Yang penting memiliki kemampuan basic conversation dan kemauan untuk belajar,” terang Alya.

Menjelang akhir sesi, Fathimah memberikan pesan kepada para pemuda yang masih merasa ragu untuk mencoba peluang internasional.

“Berani saja dulu. Mulai dari mencari informasi, bertanya, lalu mendaftar. Jangan biarkan rasa takut menghentikan langkah kita,” pesannya.

Bagi peserta yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut, Alya mengarahkan untuk mengikuti kanal media sosial AIESEC in UNSOED. Ia menegaskan bahwa tim AIESEC akan mendampingi setiap tahapan peserta, mulai dari proses pendaftaran hingga keberangkatan.

“AIESEC akan menemani setiap langkah partisipan,” tutup Alya.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaktur Wiwit Ayu Puspitasari

Jurnalis Official Banyumas International Literacy Festival 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *