Suasana di Rumah Sastra Ahmad Tohari, Jatilawang, Banyumas, pagi itu terasa beda. Bukan karena ada kerumunan atau dekorasi tenda yang megah, melainkan karena ada energi khas yang muncul dari pertemuan antara generasi muda dan seorang legenda. Di kelilingi pepohonan yang rindang, dan diiringi tepuk tangan, menandai akhir dari program Belajar Bersama Maestro (BBM) Sastra 2026.
Acara penutupan ini dikemas dengan nama “Kenduri Prosa” yang digelar Kamis, 13 Agustus 2026. Bagi banyak orang, ini mungkin terdengar seperti sekadar acara seremonial biasa, tapi bagi para peserta yang menghabiskan waktu satu bulan bersama Ahmad Tohari, ini adalah momen yang sangat emosional dan penuh makna. Program yang digagas langsung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini bukan sekadar kelas menulis. Ini adalah ruang pertemuan di mana penulis muda dari berbagai daerah bertemu dengan Sang Maestro, Ahmad Tohari, untuk menimba ilmu langsung dari sumbernya.
Selama 1 bulan, para peserta hidup dalam suasana yang begitu syahdu dan hangat. Mereka diajak untuk tidak hanya belajar teknik menulis, tapi juga menyelami cara melihat dunia. Tidak ada ruang kelas yang dingin atau papan tulis yang penuh rumus. Sebaliknya, proses belajar terjadi di mana saja dari teras rumah, di bawah pohon, atau saat duduk melingkar sambil menikmati suasana desa.
Tujuannya yakni untuk mengasah kepekaan rasa dan memperdalam teknik kepenulisan. Hasil akhirnya bisa dilihat saat acara “Kenduri Prosa” dibuka. Panggung diwarnai dengan pembacaan karya (dramatical reading) dari para peserta, diskusi santai bersama para pegiat dunia sastra yang tadi dihadiri oleh Raudal Tanjung Banua bersama Teguh Trianton, dan juga pertunjukan hip-hop dari Asta Kiri yang sengaja dibuka untuk warga sekitar. Semua agenda ini dirancang agar masyarakat umum juga bisa ikut merasakan bagaimana sastra bisa hidup dan dinikmati oleh siapa saja, bukan hanya kalangan tertentu.
Namun siapa sangka, panggung yang menjadi tempat pementasan karya para peserta Belajar Bareng Maestro sekaligus sesi diskusi itu merupakan sebuah rumah yang mempunyai cerita bersejarah. Rumah itu adalah Rumah Cablaka yang dahulu menjadi tempat untuk Ahmad Tohari menulis. Dan saat ini sudah dipudar kemudian dibangun kembali menjadi sebuah rumah untuk belajar bagi siapapun. Cerita yang paling menarik justru terjadi di balik layar. Dinamika yang terjadi selama proses belajar itulah yang membuat program ini terasa spesial. Bagi beberapa peserta, suasana di Jatilawang menawarkan pengalaman yang sangat merdeka. Tidak ada hierarki yang kaku antara guru dan murid bahkan lingkungan sekitar, tidak ada rasa takut untuk bertanya atau berpendapat. Semuanya terasa cair dan hangat.
Salah satu peserta yang bisa mewakili perasaan banyak orang adalah Brinada RA. Ia mahasiswa dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang berasal dari Rempoah, Banyumas. Baginya, atmosfer di sini jauh berbeda dengan ruang kuliah di kampus yang biasanya penuh dengan formalitas dan tekanan akademis.
Brinada RA mengakui bahwa di hari-hari pertama, dia berfikir akan merasa sangat gugup dan kaku. bayangkan siapa yang tidak gugup saat harus berhadapan langsung dengan Ahmad Tohari? Sosok yang karyanya sudah dikenal luas hingga ke mancanegara, penulis yang namanya sering muncul di buku-buku pelajaran, dan seorang maestro yang dianggap sebagai “dewa” sastra oleh banyak orang. Rasa sungkan dan canggung itu pasti ada. Tapi, Brinada bercerita bahwa ketegangan itu seketika luntur begitu dia mulai berinteraksi. Ahmad Tohari tidak memperlakukan mereka sebagai siswa yang harus dihakimi. Sang maestro justru memposisikan diri sebagai orang tua yang penuh kasih, bahkan Sang maestro juga menganggap para peserta BBM ini sebagai cucunya sendiri kepada lingkungan sekitar. Cara belajarnya pun sangat membumi. Banyak waktu yang dihabiskan bukan untuk duduk diam mendengarkan ceramah, melainkan untuk “jagongan atau srawung”.
Jagongan itu sendiri adalah inti dari proses belajar di sini. Mereka duduk di teras, mengobrol santai sambil menikmati angin sore yang sepoi-sepoi. Obrolan tidak hanya tentang teori sastra atau struktur kalimat, tapi juga tentang kehidupan sehari-hari, tentang orang-orang di sekitar mereka, dan tentang bagaimana menangkap cerita dari realitas yang ada di depan mata.
Brinada RA juga menceritakan momen berkesannya ketika saat mereka duduk bersama temannya dan asisten maestro, Aziz sembari menikmati kopi bersama temannya, seketika ada orang datang dan temannya menawarkan rokok namun orang itu menolak dan berkata bahwa dirinya sudah berhenti merokok 1 bulan, dan merokok itu membuat saya pusing lantas kemudian bapak itu terjatuh, kemudian di saat itu juga ada seorang anak kecil yang seketika terjatuh, dan orang itu pun langsung berbicara kepada Brinada dan teman temannya, bayangkan ketika anak kecil aja yang tidak merokok bisa terjatuh apalagi misalkan saya merokok?
Bagi Brinada RA, suasana Desa Jatilawang yang asri, serta interaksi tulus dengan warga lokal, memberikan inspirasi yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Energi magis dari lingkungan sekitar ini membuat ide-ide cerita prosanya mengalir dengan sendirinya, tanpa perlu dipaksakan. Ini adalah bukti bahwa inspirasi sering kali datang dari hal-hal sederhana yang kita abaikan sehari-hari.
Kepada para peserta BBM, Ahmad Tohari juga mengajarkan bahwa seorang penulis harus jujur. Jujur terhadap nuraninya sendiri, jujur terhadap realitas sosial, dan peka terhadap apa yang terjadi pada masyarakat kecil di sekitar mereka. Pesan ini disampaikan bukan dengan nada menggurui, tapi dengan cara yang sangat personal dan mendalam. Bagi para peserta, sesi ini bukan tentang takut salah, tapi tentang berani menyampaikan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Akhir puncak “Kenduri Prosa” terasa sangat emosional karena karya-karya sederhana yang ditulis oleh para penulis muda ini tidak hanya dibaca oleh mentor, tapi juga didengarkan langsung oleh publik. Ada rasa bangga dan haru yang bisa dirasakan dari setiap pembacaan. Ketika tepuk tangan riuh terdengar setelah sebuah cerita dibacakan, itu bukan sekadar apresiasi terhadap tulisan, tapi juga pengakuan bahwa suara mereka didengar. Program BBM Sastra 2026 ini berhasil menciptakan ruang di mana suara-suara muda bisa bersuara lantang, didukung oleh pengalaman dan kebijaksanaan seorang maestro yang sudah teruji.
Brinada RA sendiri membuat karya sastra yang berjudul “Dendam Kasih”, sebuah karya yang mempunyai makna mendalam tentang bagaimana seorang ayah yang mempunyai rasa kasih sayang begitu besar kepada anaknya sampai si anaknya tidak boleh sedikitpun tersakiti oleh orang lain sehingga ia menyimpan dendam bagi siapapun yang menyakiti anaknya namun kasih sayang itu dibarengi dengan cara yang sesat atau musyrik sehingga membuat nyawanya anaknya sendiri terancam namun akhirnya bapak ini menyerahkan nyawanya sendiri demi kasih sayangnya kepada anaknya sendiri. Brinada RA juga mengatakan kemiskinan itu bisa membuat seseorang melakukan berbagai macam cara seperti halnya memiliki kekuasaan, kekayaan, ketenangan dan berbagai hal lain. Brinada Ra juga menyampaikan bahwa ketika seseorang yang finansialnya belum siap maka rasa untuk memiliki anak seharusnya bisa dikontrol walaupun mungkin kasih sayangnya itu besar sekali.
Program BBM ini membuat diri Brinada menjadi semangat untuk terus melestarikan sastra di wilayah banyumas tersendiri, Brinada juga mengungkapkan bahwa setelah selesai mengikuti rangkaian Program BBM ini ia berencana akan mengadakan festival layang-layang di daerahnya sendiri, Rempoah. Ini unik karena biasanya di festival ini dilakukan didaerah pesisir, rangkaian festival itu juga tentu di iringi dengan banyak perlombaan, seperti menggambar, lomba layang-layang dan masih banyak lagi.
Kehadiran Ahmad Tohari di sini bukan hanya sebagai pengajar, tapi sebagai inspirasi hidup. Dia menunjukkan bahwa menulis itu tidak harus sulit atau terlalu intelektual. Menulis adalah tentang bagaimana kita jujur pada diri sendiri dan peka terhadap sesama. Pendekatan yang dia gunakan, yang penuh dengan kekeluargaan dan kehangatan, membuat para peserta merasa dihargai. Hal ini sangat berbeda dengan kesan kaku yang sering melekat pada kegiatan pelatihan atau seminar sastra lainnya. Di sini, setiap peserta merasa bahwa suara mereka penting dan bahwa cerita mereka layak untuk diceritakan.
Reportase temenan.bilfest.id disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Brinada RA, peserta BBM Sastra 2026
Reportase ini tidak boleh digunakan, dikutip, atau diterbitkan ulang tanpa izin redaksi.





