Jalan di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, sudah cukup lama mengalami kerusakan. Lubang-lubang di berbagai titik membuat permukaan jalan tidak rata. Saat hujan, air menggenang dan menutupi lubang, membuat pengendara sulit melihat kedalamannya. Saat musim kemarau, debu dari jalan yang rusak menyebar ke mana-mana. Kondisi ini menyulitkan warga yang setiap hari melintasi jalan tersebut untuk bekerja atau beraktivitas.
Dampak kerusakan ini dirasakan langsung oleh warga, terutama mereka yang bekerja di luar rumah. Salah satu pelaku usaha kecil di Gerumbul Karang Mangu, Desa Rancamaya, mengaku mengalami kesulitan saat membawa barang dagangan menggunakan sepeda motor. Jalan yang tidak rata membuat laju kendaraan terganggu. Ketika truk besar melaju, debu makin pekat dan mengganggu pandangan. Kondisi ini tidak nyaman dan bisa membahayakan pengendara yang melintas dari dua arah.
Dari pembicaraan saya dengan warga sekitar, banyak yang mengeluhkan kondisi ini. Mereka menyebut jalan tersebut sudah terlalu lama rusak dan menghambat aktivitas sehari-hari. Masalah ini juga sempat menjadi perhatian media sosial. Beberapa kreator konten mengangkatnya melalui platform seperti TikTok dan Instagram, hingga videonya viral.
“Meski sorotan publik cukup besar, sayangnya hingga kini belum terlihat adanya perubahan nyata di lapangan.”
Sebenarnya, jalan ini pernah diperbaiki secara menyeluruh sekitar lima tahun yang lalu. Namun, kualitas pekerjaan saat itu dinilai kurang baik karena jalan kembali rusak tidak lama setelah digunakan. Setelahnya, yang dilakukan hanya tambalan pada beberapa bagian. Sayangnya tambalan itu pun tidak bertahan lama. Saat hujan turun, aspalnya mudah mengelupas. Kini, kondisi jalan kembali rusak seperti sebelumnya, bahkan lebih parah di beberapa titik.
Bagi warga Rancamaya, jalan ini bukan sekadar jalur penghubung, tetapi bagian dari aktivitas harian yang sangat penting. Ketika akses jalan rusak dan tidak diperhatikan, muncul kesan bahwa desa ini tidak menjadi prioritas. Padahal, jalan merupakan infrastruktur dasar yang seharusnya dijaga oleh pemerintah daerah. Masyarakat tidak menuntut fasilitas mewah, hanya ingin jalan yang aman dan layak untuk dilalui setiap hari.
Saya menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi dengan cepat. Namun, keresahan ini perlu disampaikan agar tidak terus berulang.
“Menulis ini adalah salah satu cara untuk menyuarakan kondisi yang dirasakan banyak warga di desa kami.”
Jalan rusak memang masalah fisik, namun dampaknya menyentuh sisi sosial, ekonomi, dan keselamatan warga. Harapannya, kondisi seperti ini bisa mendapat perhatian yang layak, tidak terus dibiarkan begitu saja.
Jalan yang rusak tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak langsung pada kendaraan. Dari cerita teman dan warga yang sering melewati jalur ini, kerusakan seperti pelek bengkok, ban bocor, atau suspensi bermasalah menjadi hal yang sering terjadi. Ini jadi beban tambahan, terutama bagi warga yang penghasilannya terbatas. Mereka harus mengeluarkan biaya perbaikan, padahal kerusakan itu disebabkan oleh kondisi jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dalam jangka panjang, situasi ini menambah tekanan ekonomi dan membuat masyarakat semakin resah.
Selain dampak langsung, kondisi ini menciptakan kesan yang buruk bagi desa. Bagi warga yang melintas dari luar desa, citra Rancamaya seolah desa yang tertinggal dan tidak terurus. Padahal, banyak warga yang aktif dan produktif, terutama pelaku UMKM. Banyak yang ingin mengembangkan usaha, tapi terhambat karena akses jalan rusak. Harapan untuk menjangkau pasar yang lebih luas terganggu hanya karena persoalan infrastruktur dasar yang tidak diperhatikan.
Pemerintah daerah tentu punya banyak tanggung jawab. Namun, seharusnya ada perhatian terhadap wilayah yang terus-menerus mengalami keluhan serupa. Jika setiap tahun warga menyuarakan masalah yang sama tetapi tidak ada perbaikan berarti, maka wajar jika muncul anggapan bahwa desa tidak dianggap penting. Rasa kepercayaan warga terhadap pemerintah bisa berkurang, dan berdampak pada partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Saya percaya bahwa warga desa tidak pasif. Banyak yang bersedia terlibat dalam gotong royong atau sekadar merawat jalan seadanya. Tapi mereka juga paham bahwa perbaikan yang layak tetap menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat hanya berharap agar jalan yang setiap hari dilalui tidak menjadi sumber masalah. Sebagian besar hanya ingin bisa berangkat bekerja, bersekolah, atau berdagang dengan lebih tenang.
Tulisan ini bukan keluhan tanpa arah. Ini adalah bentuk partisipasi warga untuk menyampaikan keresahan dengan cara yang damai. Harapannya, tulisan seperti ini bisa dibaca oleh mereka yang punya kewenangan. Jika suara warga diabaikan ketika disampaikan secara langsung, mungkin tulisan bisa menjadi salah satu cara untuk menarik kesadaran.
Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan berdampak atau tidak. Tapi saya percaya, menyuarakan kepedulian warga adalah bagian dari kepedulian sosial. Rancamaya pun tidak meminta perhatian berlebihan, hanya ingin diperlakukan setara. Ketika desa memiliki jalan yang layak, banyak hal menjadi lebih mudah, baik untuk bekerja, berdagang, maupun aktivitas lainnya. Pembangunan seharusnya bukan hanya soal proyek besar yang terlihat, tapi juga tentang hal-hal kecil yang benar-benar dibutuhkan warga. Salah satunya adalah jalan.





