Bagaimana Negara Diam-Diam Menguasai Hidup Warganya

Suatu pagi, seorang ibu membawa anaknya ke posyandu. Bayinya ditimbang, diukur, dicatat berat dan panjang badannya. Sang ibu menerima vitamin, penyuluhan gizi, dan kartu perkembangan. Semua tampak wajar. Bahkan terasa menenangkan. Negara hadir, katanya, demi kesehatan generasi masa depan.

Di tempat lain, seorang pekerja membuka aplikasi peduliLindungi saat pandemi. Tanpa kode QR hijau, ia tak bisa masuk kantor. Tubuhnya tak hanya bekerja, tapi juga dipantau, diverifikasi, dan disaring.

Kita jarang bertanya: sejak kapan tubuh kita menjadi bagian dari proyek besar negara?

Michel Foucault menyebut mekanisme ini sebagai biopower—kekuasaan modern yang bekerja bukan dengan kekerasan, melainkan dengan pengelolaan kehidupan. Ia berjalan di dua jalur: pertama, mendisiplinkan tubuh individu lewat sekolah, rumah sakit, barak, dan kantor; kedua, mengatur populasi lewat statistik, kesehatan, kelahiran, dan angka harapan hidup.

Di Indonesia, jejaknya nyata. Program Keluarga Berencana sejak Orde Baru membatasi jumlah anak demi stabilitas ekonomi. Vaksinasi massal dan PSBB mengatur pergerakan tubuh jutaan orang. Program pencegahan stunting, kesehatan reproduksi, hingga Makan Bergizi Gratis hari ini memetakan tubuh anak-anak sebagai “aset masa depan bangsa”.

Negara tak lagi sekadar membuat aturan. Ia menghitung, mengukur, memetakan, dan menargetkan tubuh warganya.

Bayangkan negara seperti seorang petani besar. Ia tidak memukul tanaman agar tumbuh. Ia mengatur air, pupuk, jarak tanam, dan waktu panen. Tanaman tumbuh sehat, produktif, dan seragam. Petani tampak baik hati. Tapi di balik itu, ia menentukan segalanya.

Begitulah biopower bekerja. Ia tidak memaksa dengan senjata, tetapi dengan grafik, kurva, standar gizi, dan indikator kesehatan. Kekuasaan berubah wajah: dari algojo menjadi dokter, dari penjara menjadi klinik, dari hukuman menjadi program bantuan.

Di sinilah paradoksnya. Semakin lembut caranya, semakin sulit kita menyadari bahwa kita sedang diatur.

Biopower bukan selalu jahat. Vaksin menyelamatkan nyawa. Program gizi mencegah generasi hilang. Statistik membantu perencanaan.

Masalahnya muncul ketika tubuh manusia direduksi menjadi angka target: persentase stunting, rasio produktivitas, indeks kesehatan.

Saat itu, warga perlahan berubah menjadi “objek kebijakan”, bukan subjek yang berdaulat. Tubuh kita bukan lagi milik sepenuhnya diri sendiri, melainkan bagian dari proyek pembangunan.

Pertanyaan pentingnya bukan apakah negara boleh mengelola kehidupan, tetapi: sejauh mana warga ikut menentukan arah pengelolaan itu? Apakah kita hanya tanaman di ladang besar, atau manusia yang berhak memilih bagaimana tubuh dan hidup kita dijalani?

Di zaman biopower, kebebasan tidak lagi dirampas secara kasar. Ia dikikis pelan-pelan, atas nama kesehatan, produktivitas, dan masa depan bangsa.

Dan justru karena itulah, kita perlu terus bertanya.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *