PURWOKERTO – Kanker tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga persoalan psikologis, sosial, dan literasi kesehatan. Di Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) 2026 terdapat sesi yang menarik, yakni membedah buku bertajuk Menghalau Halimun karya Kanthi Tri Setyawati, Kamis, (18/06/2026).
Kemudian kegiatan ini juga menghadirkan dr. Arundito Widikusumo, Sp.Onk.Rad (K) yang akrab dipanggil dr. Arun untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai kanker dari berbagai sudut pandang.
Diskusi dipandu langsung oleh Ria Elsani dan diikuti oleh para audiens yang hadir pada venue utama BIL Fest 2026. Melalui sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya deteksi dini, kepatuhan terhadap pengobatan medis, peran pendamping pasien, serta upaya menghapus stigma negatif yang masih melekat pada penderita kanker.
Kanthi membagikan cerita dari lembar-lembar kisahnya yang ia tuangkan dalam buku berjudul, Menghalau Halimun. Berdiri sebagai seorang penyintas yang sudah bertahan selama 12 tahun, ia bercerita mengenai dirinya yang awalnya tidak menyadari sama sekali bahwa dirinya menderita kanker payudara.
Kanthi juga bercerita bahwa sempat takut saat suaminya mengatakan kata “operasi”. Hal itu membuatnya menggunakan jalur pengobatan alternatif yang melibatkan obat-obatan atau ramuan. Namun, cara tersebut bukanlah cara terbaik, hingga pada akhirnya Kanthi kembali ke pengobatan medis yang panjang dan melelahkan.
Dari pengalaman Kanthi, Arun mengungkapkan bahwasannya banyak masyarakat yang masih keliru mengenali tanda-tanda awal kanker payudara. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa benjolan baru perlu diperiksakan apabila sudah menimbulkan rasa sakit.
Padahal menurutnya, banyak kasus kanker pada stadium awal justru tidak menimbulkan nyeri. Karena itu, seseorang sering kali menunda pemeriksaan hingga penyakit berkembang ke stadium yang lebih lanjut.
Arun kemudian menjelaskan bahwa benjolan yang terasa lunak atau nyeri belum tentu merupakan kanker dan dapat disebabkan oleh kondisi lain seperti infeksi atau peradangan. Namun demikian, setiap perubahan yang tidak biasa pada tubuh tetap perlu diperiksakan kepada tenaga kesehatan agar memperoleh diagnosis yang tepat.
Dalam kesempatan tersebut, Arun juga mengingatkan pentingnya Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) sebagai langkah awal deteksi dini kanker payudara. Selain itu, pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi (USG) dan pemeriksaan lainnya perlu dilakukan sesuai usia serta anjuran dokter.
Selain membahas aspek medis, diskusi juga menyoroti kondisi psikologis yang sering dialami pasien setelah menerima diagnosis kanker. Rasa takut terhadap operasi, kemoterapi, maupun radioterapi sering kali membuat pasien mencari berbagai alternatif pengobatan yang menjanjikan kesembuhan secara cepat.
Salah seorang peserta yang hadir membagikan pengalamannya sebagai penyintas kanker ginjal. Ia mengaku sempat menunda pengobatan medis karena merasa takut menjalani prosedur yang disarankan dokter. Dalam masa tersebut, ia mencoba berbagai metode pengobatan tradisional yang diperoleh dari rekomendasi lingkungan sekitar.
Namun, keputusan tersebut justru membuat kondisinya memburuk. Dalam waktu relatif singkat, ukuran tumornya mengalami peningkatan yang signifikan hingga akhirnya memaksanya kembali menjalani pemeriksaan dan penanganan medis.
Menanggapi hal tersebut, Kanthi mengatakan bahwa pengalaman serupa juga banyak dialami oleh penyintas kanker lainnya. Setelah menerima diagnosis, pasien biasanya dibanjiri berbagai saran mengenai ramuan herbal maupun terapi alternatif.
“Ketika seseorang divonis kanker, banyak orang datang dengan berbagai rekomendasi pengobatan. Saya sendiri pernah menerima banyak saran untuk mengkonsumsi herbal tertentu. Namun, setelah berkonsultasi dengan dokter, saya memahami bahwa penggunaan bahan herbal tanpa pengawasan dapat menimbulkan risiko bagi organ tubuh, termasuk ginjal,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pasien perlu berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi produk herbal atau terapi tambahan apa pun. Pendekatan medis yang terukur dan berbasis bukti ilmiah tetap menjadi dasar utama dalam penanganan kanker.
Pembahasan lain yang mendapat perhatian besar dari peserta adalah mengenai peran pendamping pasien. Selama ini, fokus perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada pasien, sementara kondisi fisik dan mental para pendamping seringkali luput dari perhatian.
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta yang telah mendampingi ibunya menjalani pengobatan kanker selama bertahun-tahun membagikan pengalamannya menghadapi berbagai tantangan. Selain harus membantu kebutuhan sehari-hari pasien, ia juga harus menghadapi tekanan emosional yang berlangsung dalam jangka panjang.
Menanggapi hal tersebut, Arun menjelaskan bahwa pendamping pasien memiliki peran yang sangat penting dalam proses pengobatan kanker. Dukungan emosional, bantuan dalam menjalani terapi, hingga pendampingan saat kontrol rutin merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pasien.
“Pendamping pasien menghadapi tantangan yang besar karena harus terus mendampingi di tengah berbagai kekhawatiran dan tekanan emosional. Oleh karena itu, dukungan terhadap pendamping pasien juga perlu menjadi perhatian bersama,” ucap Arun.
Diskusi juga mengangkat persoalan stigma sosial yang masih sering dihadapi oleh penyintas kanker. Masih terdapat anggapan di masyarakat yang mengaitkan penyakit kanker dengan hukuman, kutukan, atau kesalahan moral seseorang.
Menanggapi hal tersebut, Arun menegaskan bahwa kanker merupakan penyakit yang terjadi akibat perubahan atau mutasi pada sel tubuh dan tidak berkaitan dengan hukuman atas perbuatan seseorang. Beliau menjelaskan bahwa dalam praktik modern, penanganan pasien tidak hanya berfokus pada aspek biologis, tetapi juga mencakup aspek psikologis, sosial, dan spiritual.
“Operasi, kemoterapi, dan radioterapi merupakan terapi utama untuk menangani kanker. Sementara itu, dukungan psikologis, kegiatan keagamaan, konseling, serta dukungan keluarga dapat membantu pasien menghadapi proses pengobatan dengan lebih baik,” jelasnya.
Diakhir Kanthi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan karena khawatir terhadap biaya pengobatan. Saat ini, berbagai layanan penanganan kanker dapat diakses melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan sesuai indikasi medis dan prosedur rujukan yang berlaku.
Melalui program tersebut, pasien dapat memperoleh akses terhadap berbagai bentuk terapi, termasuk tindakan operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Karena itu, masyarakat diharapkan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia dan segera memeriksakan diri apabila menemukan gejala yang mencurigakan.




