Banyumas International Literacy Festival 2026: Jemi Batin Tikal Menyalakan Api Literasi di Tengah Krisis Akses Baca

PURWOKERTO — Di tengah maraknya teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) dan banjir informasi digital. BIL Fest 2026 gelar Bincang Inspiratif bertajuk Membakar Buku, Membakar Manusia: Ketika Pengetahuan Menjadi Arena Perlawanan. Kegiatan ini menghadirkan penulis, Jemi Batin Tikal sebagai narasumber dan Aldi Aditya sebagai moderator, Kamis, (18/06/2026).

Melalui buku kumpulan esainya yang berjudul Membakar Buku, Membakar Manusia, Jemi mengajak peserta melihat pengetahuan bukan sekadar tumpukan informasi. Menurutnya buku ini merupakan ruang perlawanan terhadap berbagai ketimpangan sosial, termasuk persoalan akses literasi yang masih menjadi tantangan di Indonesia.

Diskusi dibuka dengan cerita perjalanan Jemi sebagai penulis. Ia mengaku tidak langsung jatuh cinta pada esai. Perjalanannya justru dimulai dari puisi ketika bergabung dengan Jejak Imaji, sebuah komunitas sastra di Yogyakarta.

Di komunitas tersebut, Jemi belajar memahami cara kerja bahasa dan mengolah pengalaman menjadi karya. Menurutnya, pengalaman menulis puisi memberikan bekal penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan menulis reflektif.

“Penulis puisi yang baik juga merupakan penulis esai yang baik,” ujarnya.

Namun semakin banyak membaca puisi, semakin besar pula rasa ingin tahunya terhadap teks yang dibaca. Ia tidak lagi sekadar menikmati keindahan kata-kata, tetapi mulai mempertanyakan makna, konteks, dan gagasan yang tersembunyi di balik sebuah karya. Dari situlah ketertarikannya terhadap esai mulai tumbuh.

Pemahaman tersebut mendorongnya membuat akun di platform Media sebagai ruang latihan menulis. Di sana ia menulis berbagai topik, mulai dari catatan pendek tiga paragraf hingga tulisan panjang yang mencapai beberapa halaman. Kebiasaan menulis secara konsisten kemudian berkembang menjadi kumpulan karya yang kelak diterbitkan menjadi buku.

Ia mengungkapkan bahwa inspirasi menerbitkan buku datang dari seorang teman yang lebih dahulu menerbitkan kumpulan esai. Dorongan dan bantuan dari lingkaran pertemanannya membuat berbagai tulisan yang sebelumnya tersebar akhirnya terkumpul dalam satu buku.

Dalam proses kreatifnya, Jemi selalu memulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain sastra, ia juga banyak menulis tentang isu lingkungan, pengalaman personal, serta berbagai fenomena sosial yang ditemuinya.

Perbincangan kemudian beralih pada pengalaman masa kecil yang membentuk hubungan Jemi dengan dunia literasi. Ia berasal dari Bangka Belitung, daerah yang menurutnya memiliki keterbatasan akses bacaan ketika dirinya masih bersekolah.

Sejak SD hingga SMA, bahan bacaan yang paling mudah ia temui adalah koran-koran lama yang terbit beberapa bulan sebelumnya. Keterbatasan tersebut justru melahirkan rasa lapar terhadap pengetahuan dan mendorongnya mencari lingkungan yang lebih kaya akses literasi.

Keinginan itulah yang membawanya ke Yogyakarta.

“Saya ke Jogja karena ingin mencari buku,” tuturnya.

Setelah tinggal di Yogyakarta, ia mulai memiliki kebiasaan yang mungkin terdengar akrab bagi para pencinta buku: membeli dan menumpuk buku. Kebiasaan tersebut lahir bukan karena tren, melainkan sebagai bentuk pemenuhan atas kebutuhan membaca yang selama bertahun-tahun sulit didapatkan.

Tema akses literasi kemudian menjadi salah satu pembahasan utama dalam diskusi malam itu. Aldi Aditya menyoroti bagaimana akses terhadap buku masih menjadi persoalan di banyak daerah. Hal tersebut selaras dengan beberapa esai dalam buku Jemi yang membahas dunia penerbitan dan harga buku.

Dalam salah satu esainya, Jemi mengkritik mahalnya harga buku yang sering kali menjadi penghalang antara pembaca dan pengetahuan. Namun ketika kemudian bekerja di dunia penerbitan, ia menemukan kenyataan yang lebih kompleks.

“Sebetulnya keuntungan penerbit tidak selalu sebesar yang dibayangkan masyarakat. Bahkan dalam banyak kasus, margin keuntungan penerbit relatif kecil, jika dibanding berbagai biaya produksi dan distribusi yang harus ditanggung,” ucap Jemi.

Pengalaman itu membuatnya berada dalam posisi yang dilematis saat menentukan harga jual buku. Sebagai penulis, ia ingin karyanya dapat dijangkau lebih banyak orang. Namun di sisi lain, ia juga memahami tantangan ekonomi yang dihadapi penerbit.

Diskusi mengenai industri buku berkembang menjadi refleksi tentang kehidupan seorang penulis. Jemi menegaskan bahwa dunia sastra bukanlah jalur yang menjanjikan kekayaan secara instan.

Karena itu, menurutnya, penting bagi penulis untuk terlebih dahulu mencintai proses berkarya sebelum memikirkan keuntungan finansial. Ia juga membandingkan kondisi tersebut dengan negara-negara Barat yang memiliki sistem agen literasi. Kehadiran agen memungkinkan penulis fokus menghasilkan karya, sementara urusan pemasaran dan bisnis ditangani pihak lain.

Selain membahas menulis, Jemi menaruh perhatian besar pada budaya membaca. Ia bercerita tentang masa awal kuliah ketika kebiasaan membaca buku di ruang publik kampus masih dianggap tidak lazim.

Alih-alih mengajak orang lain membaca melalui ceramah, ia memilih menunjukkan bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan. Ia sengaja membawa buku ke kampus dan membaca di berbagai ruang publik.

Lambat laun, aktivitas tersebut menjadi lebih diterima dan nyaman dilakukan.

“Menunjukkan bahwa membaca itu menyenangkan sering kali lebih efektif daripada menyuruh orang membaca,” katanya.

Pada sesi diskusi, Mba Rahmi founder BIL Fest mengaku dengan adanya sesi bincang inspiratif dengan jemi ini membuatnya menyulutkan api semangat. Menurutnya, kehadiran penulis asal Bangka Belitung itu membangkitkan semangat untuk menghadirkan berbagai terobosan baru dalam gerakan literasi.

Sementara itu, Aldi Aditya turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya agency atau penggerak literasi dalam melahirkan penulis-penulis baru. Belajar dari berbagai komunitas dan kampus lain, ia menilai keberadaan individu atau kelompok yang konsisten menggerakkan kegiatan literasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem sastra.

“Tidak perlu terlalu ngoyo membuat kegiatan besar. Yang penting baranya tetap hidup,” ujar jemi.

Keresahan serupa juga datang dari salah satu pengunjung dari komunitas Taman Baca Kalimasada, Muhammad. Dalam sesi tanya jawab, ia menuturkan tingginya antusiasme anak-anak untuk membaca ketika taman baca membuka lapak buku. Ironisnya, tingginya minat baca tersebut sering kali berhadapan dengan mahalnya harga buku.

Menanggapi hal itu, Jemi menawarkan pentingnya gerakan kolektif. Menurutnya, komunitas baca, taman baca, dan berbagai kelompok literasi perlu saling mendukung agar akses terhadap buku semakin luas.

Menjelang akhir diskusi, pembahasan mengarah pada tantangan literasi di era AI. Jemi menilai bahwa di tengah kemudahan teknologi menghasilkan teks secara instan, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi hal yang tidak tergantikan.

“Kredibilitas seseorang itu tidak hanya terlihat dari tulisannya, tetapi juga dari cara berbicara dan menyampaikan gagasan. Karena itu, membaca dan menulis tetap menjadi pondasi penting untuk membangun kualitas berpikir manusia,” tegasnya.

Bincang Inspiratif malam itu akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk membahas sebuah buku. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi tempat bertemunya berbagai keresahan tentang literasi, akses pengetahuan, dan masa depan budaya membaca.

Dari pengalaman masa kecil membaca koran bekas di Bangka Belitung hingga menerbitkan buku kumpulan esai, Jemi Batin Tikal menunjukkan bahwa pengetahuan dapat tumbuh dari keterbatasan, lalu menjelma menjadi api yang terus menyala untuk menggerakkan perubahan.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaktur Wiwit Ayu Puspitasari

Jurnalis Official Banyumas International Literacy Festival 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *