PURWOKERTO, Gemuruh suara calung, kepak dinamis kibasan selendang, dan hentakan kaki ribuan penari menyatu dalam harmoni magis di kawasan ikonik Menara Teratai Purwokerto pada Jumat, 26 Juni 2026. Perhelatan agung bertajuk “Banyumas Lengger Bicara 2026” kembali digelar dengan gemilang, membawa napas spiritualitas, pelestarian, sekaligus inovasi budaya yang memukau mata dunia. Mengusung tema filosofis yang mendalam, “Gemah Ripah Loh Jinawi”, festival budaya berskala masif ini tidak hanya sekadar menyuguhkan estetika gerak tari tradisional, tetapi juga mengukuhkan diri sebagai episentrum ruang dialog antar-generasi dalam merawat memori kolektif dan identitas kultural masyarakat Banyumasan.
Sejak pagi hari, atmosfer magis dan antusiasme luar biasa telah menyelimuti Kota Purwokerto. Ribuan pasang mata saksi sejarah berkumpul menyaksikan bagaimana tradisi yang telah berumur ratusan tahun ini menemukan bentuk relevansi barunya di tengah laju modernisasi abad ke-21. Acara ini dihadiri oleh jajaran tokoh penting nasional, pejabat tinggi negara, perwakilan perbankan, otoritas keuangan, budayawan, hingga ribuan masyarakat adat yang tumpah ruah memadati pelataran Menara Teratai.
Kehadiran Para Tokoh Bangsa dan Tamu Undangan
Keagungan acara ini tercermin nyata dari deretan tamu kehormatan yang hadir untuk memberikan dukungan moril serta komitmen konkret terhadap pemajuan kebudayaan nasional. Di barisan kursi VIP, tampak hadir Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc didampingi Nissa Rengganis, Staf Khusus Menteri Kebudayaan bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional yang memberikan apresiasi penuh terhadap pergerakan pelestarian tradisi berbasis komunitas. Hadir pula Wakil Ketua MPR RI, Ibu Lestari Moerdijat, yang selama ini konsisten mengawal isu-isu kebudayaan dan kebangsaan di tingkat nasional. Dukungan dari parlemen pusat semakin diperkuat dengan kehadiran para anggota DPR RI, yaitu Ibu Siti Mukaromah dan Bapak Yanuar Arif Wibowo, yang secara proaktif mengawal ekosistem seni daerah.

Sebagai tuan rumah, Bupati Banyumas Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M., bersama Wakil Bupati Banyumas Hj. Dwi Asih Lintarti tampak menyambut hangat kedatangan rombongan pejabat negara tersebut. Kehadiran para petinggi lembaga keuangan turut menegaskan sinergi lintas sektor dalam menyukseskan festival ini, di antaranya Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto Ibu Dinavia Tri Riandari, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto Ibu Christoveny Chasnaf. Selain itu, jajaran pimpinan beserta anggota DPRD Kabupaten Banyumas, serta seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Banyumas ikut memadati pelataran Menara Teratai. Perhelatan kolosal ini juga didampingi langsung oleh Bapak Andi F. Noya selaku Pembina Yayasan Lengger Bicara, yang secara konsisten menjadi motor penggerak literasi serta promosi kebudayaan Banyumasan hingga ke kancah global.
Apresiasi Bupati Banyumas
Bupati Banyumas, Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M., dalam sambutan resminya menyampaikan rasa haru dan kebanggaan yang luar biasa atas terselenggaranya perhelatan kebudayaan ini. Beliau mengawali sambutannya dengan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran panitia, seniman, maestro, serta komunitas seni yang telah mendedikasikan waktu dan energinya untuk mewujudkan momentum bersejarah ini. Bagi Bupati, seni pertunjukan Lengger kini telah berevolusi bukan sekadar menjadi tontonan estetis, melainkan sebuah ruang dialog terbuka dan ruang belajar bersama yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk kembali mendekatkan diri dengan akar budayanya sendiri.
Lebih lanjut, Bupati menguraikan esensi mendalam dari tema utama yang diangkat, yakni Gemah Ripah Loh Jinawi. Konsep mulia tersebut mencerminkan doa, harapan, sekaligus realitas sosiologis masyarakat Banyumas mengenai sebuah tatanan tanah yang subur makmur, tenteram, damai, dan berkelanjutan, di mana manusia hidup selaras dengan alam semesta melalui medium kesenian pertunjukan. Dalam kesempatan tersebut, beliau secara khusus memuji rangkaian acara pra-event seperti ART CAMP yang berkolaborasi harmonis dengan komunitas Hompimpa, serta puncaknya aksi Lenggeran Bareng yang berhasil menggerakkan dan menyatukan hingga 5.000 penari secara serentak di pelataran kota.

Bupati Sadewo menegaskan bahwa seni tradisional Banyumas bukanlah sesuatu yang statis, kaku, ataupun mati dalam ruang museum, melainkan sebuah entitas dinamis yang harus selalu menemukan relevansi barunya di tengah laju perkembangan dan tantangan zaman. Oleh karena itu, komitmen pemerintah daerah tidak hanya sebatas menjaga kelestarian bentuk luar pertunjukan fisiknya, tetapi juga aktif memfasilitasi lahirnya ruang-ruang diskusi kritis serta dialog ilmiah demi pengembangannya di masa depan. Beliau menekankan bahwa kebudayaan adalah refleksi pembelajaran masa lalu yang kaya akan nilai luhur, yang wajib diekstraksi menjadi sumber inspirasi utama dalam membangun fondasi masa depan Banyumas yang berkarakter. Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh warga Banyumas, terutama generasi muda, untuk menjadikan seni Lengger sebagai benteng spiritual dalam merawat warisan berharga para leluhur sekaligus sarana subur untuk terus menumbuhkan kreativitas yang berkelanjutan.
Pantun Warisan Budaya dan Amanat Konstitusi dari Menteri Kebudayaan
Suasana malam semakin syahdu dan penuh takzim saat Menteri Kebudayaan Republik Indonesia naik ke atas mimbar. Beliau mengawali sambutannya dengan sebuah pantun jenaka penuh makna yang langsung disambut tepuk tangan riuh ribuan hadirin:
Ke Purwokerto naik kereta
Nikmati mendoan sampai di sana
Lengger Banyumas warisan kita
Wariskan budaya sepanjang masa
Dalam pemaparan kebudayaannya yang sangat komprehensif, Menteri Kebudayaan menguraikan visi besar kementerian dalam mendorong pelestarian seni lokal di kancah nasional dan global. Beliau menjabarkan poin-poin fundamental mengenai bagaimana seni Lengger kini terbukti semakin visible, nyata, dan diakui secara luas keandalannya sebagai warisan takbenda yang memikat. Lengger merupakan representasi dari nilai-nilai kehidupan luhur masyarakat, mulai dari keteguhan, keterbukaan, hingga gotong royong. Ciri khas berupa perpaduan gerak tari yang gemulai namun tegas, lantunan tembang penuh petuah, serta interaksi sosial yang hangat menjadikannya ajang pelestarian dan regenerasi yang sempurna untuk menjaga kesinambungan tradisi.
Lebih lanjut, keterlibatan aktif generasi muda dalam acara ini menjadi bukti kuat bahwa proses edukasi kebudayaan berjalan secara organik. Keterlibatan anak-anak muda ini penting untuk mendorong lahirnya inovasi, sehingga budaya tradisional akan tetap hidup menghadapi arus zaman. Budaya tidak boleh sekadar diwariskan secara pasif dari generasi tua ke generasi muda, tetapi harus dikembangkan secara aktif, adaptif, dan berkelanjutan.

Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa langkah nyata malam ini adalah pelaksanaan langsung dari amanat konstitusi tertinggi kita, yakni Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berbunyi: “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”
Di tengah dinamika peradaban dunia yang kian mengglobal, perlindungan terhadap tradisi lokal menjadi instrumen vital dalam menjaga kedaulatan identitas bangsa. Kabupaten Banyumas sendiri diberkahi dengan kekayaan seni yang sangat luar biasa ragamnya, mulai dari musik bambu Calung, seni tradisi Ebeg, Buncis, Begalan, hingga dialek Bahasa Banyumasan atau ‘Ngapak’ yang khas dan penuh keakraban. Seluruh kekayaan kultural ini merupakan pilar penting untuk kemajuan Indonesia. Indonesia dengan karakteristik kebudayaannya yang bercorak mega-diversity memiliki potensi besar untuk mentransformasikan kekayaan tradisi ini menuju ekonomi budaya yang kuat dan pengembangan industri budaya yang inklusif tanpa kehilangan jati diri spiritualnya.
Respon Tubuh Terhadap Modernitas Penampilan Spektakuler Maestro Rianto
Klimaks estetika panggung utama diguncang oleh penampilan memukau dari koreografer dan maestro Lengger legendaris bertaraf internasional, Rianto. Dalam kesempatan berharga ini, Rianto membawakan karya adiluhung bertajuk Tarian Jawa Sekartaji, disusul dengan sebuah nomor tari kontemporer revolusioner yang ia kembangkan dan matangkan selama menetap di Jepang.

Tarian kedua tersebut mengusung konsep filosofis yang sangat tajam, yakni eksplorasi estetika mengenai bagaimana tubuh manusia yang organik dan spiritual merespon gempuran modernisasi, otomatisasi, mesin, serta keberadaan robot dalam kehidupan masa kini. Melalui gerak tubuh yang patah-patah namun tetap mengalirkan kelenturan khas Lengger, Rianto berhasil menghipnotis penonton dan menyampaikan pesan mendalam bahwa di tengah gempuran teknologi setinggi apa pun, jiwa dan tradisi kemanusiaan tidak boleh tercabut dari akarnya.
Keharuan dan Canda Tawa Penghargaan Peang Penjol
Salah satu momen paling emosional sekaligus menyegarkan terjadi pada sesi Tribute to Maestro. Festival Banyumas Lengger Bicara 2026 memberikan penganugerahan anumerta tertinggi kepada mendiang maestro komedi dan seni tradisional legendaris Banyumas, Peang Penjol. Tokoh ikonik ini diakui secara luas atas dedikasi seumur hidupnya dalam melestarikan budaya luhur melalui medium humor cerdas, dagelan khas Banyumasan, dan seni calung pertunjukan yang hingga kini rekamannya dalam format kaset pita masih dirawat dengan baik oleh para kolektor dan pecinta budaya.
Penghargaan luar biasa ini secara fisik diterima oleh Ibu Suliah salah satu anggota group Peang Penjol. Cucu kandung dari mendiang Peang mewakili naik ke atas panggung dan juga anak kandung dari mendiang Penjol juga turut hadir. Penghargaan diserahkan langsung di atas panggung oleh Menteri Kebudayaan RI, didampingi Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, serta Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono.

Suasana yang semula penuh keharuan mendadak pecah menjadi gelak tawa riuh dari ribuan penonton ketika Ibu Suliah, meskipun sudah sepuh masih menghibur dengan aksi spontan yang jenaka. Di tengah protokoler ketat kenegaraan, ia dengan santai bercanda dan bersandar mesra ke lengan Menteri Kebudayaan. Respons spontan yang penuh keakraban tersebut langsung disambut senyum lebar dan tawa hangat oleh sang Menteri serta seluruh pejabat yang berdiri di atas panggung, menciptakan momen kekeluargaan yang tak terlupakan dalam catatan sejarah festival ini.
Pagelaran Kolosal “Senandung Tanah Makmur”
Mahakarya yang paling dinanti-nantikan akhirnya digelar lewat Pagelaran Senandung Tanah Makmur. Pertunjukan kolosal multidimensional ini menyuguhkan sebuah konsep eksperimentasi musikal dan koreografis yang luar biasa rumit sekaligus indah, memadukan dentuman magis alat musik Gamelan tradisional, kemegahan aransemen dari Banyumas Orchestra, serta eksplorasi gerak tari teatrikal.

Kesuksesan pagelaran ini disokong oleh tim koreografer andal yang mengorkestrasi ratusan penari di atas panggung, di antaranya adalah seniman berbakat Yurika Meilani S.Sn, Berlian Nursakti Wardhani S.Pd., M.Sn, Anggita Laras Pratama S. Pd., M. Pd., Intan Choerun Nisa, Wahyu Saputra S.Sn. Tidak hanya dari segi visual, kualitas audio pertunjukan ini sangat memanjakan telinga berkat keterlibatan jajaran penyanyi berkarakter kuat, salah satunya adalah Bungsu Ridwan yang mengemban tugas ganda secara brilian sebagai penyanyi sekaligus Art Director pagelaran. Panggung semakin semarak dengan kehadiran vokal bertenaga dari diva dangdut lokal berprestasi nasional, Susi Ngapak, penampilan memukau dari penyanyi berbakat Dion, serta sederet vokalis pendukung lainnya yang membawakan kidung-kidung pemujaan terhadap kesuburan bumi nusantara.
Menutup Pagelaran Bersama Band Hyndia
Setelah disuguhi rangkaian kontemplasi budaya dan tradisi yang mendalam, festival Banyumas Lengger Bicara 2026 ditutup dengan atmosfer penuh kegembiraan dan semangat perayaan anak muda lewat penampilan energi tinggi dari grup band nasional kebanggaan lokal, Hyndia. Membawakan lagu-lagu hits mereka yang sarat akan pesan motivasi dan kecintaan terhadap tanah kelahiran, Hyndia berhasil membuat ribuan penari muda dan penonton yang bertahan hingga akhir acara ikut bernyanyi, melompat, dan menari bersama di bawah sinaran lampu Menara Teratai.
Di penghujung malam, Ketua Panitia Pelaksana, Bagoes Saria, mengekspresikan rasa syukur yang amat mendalam atas kelancaran dan kesuksesan luar biasa dari acara ini. Melalui pernyataan resminya, Bagoes mengungkapkan bahwa kerja keras kolektif seluruh elemen masyarakat, seniman, korporasi pendukung, dan pemerintah daerah telah membuahkan hasil nyata dalam memperpanjang usia tradisi Lengger di bumi pertiwi. Suksesnya agenda Banyumas Lengger Bicara 2026 ini diharapkan menjadi pemantik bagi kota-kota lain di Indonesia untuk tidak ragu mengeksplorasi warisan budayanya sebagai pilar industri kreatif masa depan tanpa mengorbankan kesucian nilai leluhur.



