Berbasis komunitas warga, seni tradisi pembacaan kitab Barzanji tengah dikolaborasikan dengan calung, hadrah dan wayang oleh warga dusun Bendagede, Desa Binangun, Kecamatan Bantarsari. Kolaborasi lintas seni ini akan digelar dalam pertunjukan bertajuk “Sang Nabi: Musikalisasi Barzanji & Wayang Santri”. Komunitas warga yang terlibat yakni kelompok perempuan dari Fatayat Anak Ranting NU Dusun Bendagede sebagai sinden, kiai dan ulama pengasuh langgar sebagai pelantun Barzanji, para santri dan kelompok remaja sebagai penayagan serta dalang muda.
Produser Musikalisasi Barzanji & Wayang Santri, Muhammad Kharis mengatakan, kolaborasi lintas seni ini diikat oleh benang narasi mengisahkan riwayat Nabi Muhammad SAW. Narasi dikembangkan dalam rawi yang terhimpun di kitab Barzanji. Pentas kolaborasi ini merupakan program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan 2026 dari Kementerian Kebudayaan, Danainonesiaraya dan LPDP.

“Saat ini kami tengah menyelesaikan tahap I kegiatan. Latihan-latihan sudah kami mulai sejak Februari kemarin” kata Kharis.
Proses latihan Musikalisasi Barzanji & Wayang Santri juga mengusung konsep workshop yang melibatkan tenaga profesional untuk berbagi pengetahuan dengan komunitas seni warga di dusun Bendagede. Kelompok perempuan yang berperan sebagai sinden dilatih oleh pelaku seni sekaligus akademisi berlatang belakang etnomusikologi, Riski Dwi Kemala. Sedang kombinasi calung hadrah yang dimainkan para santri dan remaja dilatih oleh tokoh penayagan Banyumas, Suchedi dari Sanggar Ngudi Luwesing Salira.
“Di balik layar, juga terlibat peran perupa, Nizar Zulmi Sapta yang membuat wayang sadat. Ada juga Rida Purnama Sari, perupa dan dosen berlatar desain komunikasi visual yang merancang aset visual sampai font karakter,” ujar Kharis.

Sutradara Musikalisasi Barzanji & Wayang Santri, Abdul Aziz Rasjid mengatakan narasi pementasan ini akan berpusat pada petualangan rohani dua tokoh imajiner, Amongrasa dan Amongraga. Keduanya adalah santri kelana yang mengalami serupa kisah Ashabul Kahfi. Dua tokoh dalam bentuk wayang yang dimainkan dalang ini akan mengalami pengelanaan ke negeri nyata dan antah berantah, bertemu dengan makhluk dongeng, bertetirah di alam mitos, dan berteduh di rindangnya pohon hayat bercakap-cakap dengan peneliti dari barat serta wali.
“Di antara lantunan Barzanji, santri kelana ini akan mendapat berbagai cerita tentang nabi Muhammad. Narasi ini mengadopsi gaya kisah-kisah perjalanan dalam hikayat Melayu lama. Seorang tokoh melaksanakan perjalanan melingkar yang bersifat rohani,” kata Aziz.
Pelatih vokal sinden, Riski Dwi Kemala mengaku justru mendapat banyak wawasan ketika melatih kelompok perempuan di Dusun Bendagede. Situasi yang ia rasakan, ekspresi seni yang bertautan dengan religiusitas terbangun dalam pola bersahaja.

“Kegiatan ini jadi saling mengisi, karena tumbuhnya saling kesadaran bahwa mereka tengah mengagungkan Nabi Muhammad lewat ekspresi seni. Di dusun ini, saya justru seperti sedang melakoni residensi. Bukan melatih,” kesan Riski yang akrab disapa Iki.
Pembacaan kitab Barzanji di Dusun Bendagede memang menjadi bagian ekspresi warga di kegiatan sehari-hari. Sebagai bagian tradisi, warga biasa membacakan Barzanji saat menggelar syukuran atas kelahiran seorang anak. Barzanji juga dibacakan selama sebulan penuh dari satu rumah ke rumah menjelang hari besar Islam, Maulid Nabi. Berbagai komunitas warga, baik jamaah langgar atau masjid, santri di pesantren, atau yang terlibat dalam organisasi masyarakat berbasis agama islam terbiasa pula menggelar rutinan pembacaan Barzanji di tiap pekan dengan iringan hadrah.




