Menjemput ‘Evoluasi’ di Sokaraja Art Summit: Ketika Rianto, Yurika dan Para Seniman Menyapa Jiwa-Jiwa Egaliter

Sokaraja, Lor- Deru angin malam di Kedung Kendil Park, Sokaraja Lor, Banyumas, menjadi saksi atas berkumpulnya para perawat tradisi dalam perhelatan akbar bertajuk Sokaraja Art Summit 2026. Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 27 Juni 2026, mulai pukul 19.30 WIB hingga selesai ini, bukan sekadar ruang tontonan biasa. Kegiatan ini dirancang sebagai panggung kolaborasi lintas disiplin seni yang megah sekaligus bersahaja, bertepatan dengan momentum sakral Kirab Budaya Suraan Masyarakat Desa Sokaraja Lor yang puncaknya bergulir hingga keesokan harinya.

Mengusung tema besar “Evoluasi”,sebuah akronim puitis yang memadukan ‘evolusi’ dan ‘evaluasi’, festival ini mencoba membaca ulang gerak zaman. Seni tidak dihadirkan sebagai menara gading yang berjarak, melainkan melekat erat pada akar agraris masyarakat. Panggung pertunjukan pun dibangun secara luku atau bersahaja dari material bumi sekitar; jajaran batang jagung, bambu, dan belarang berpadu harmonis menciptakan ruang artistik organik yang menegaskan identitas kesenian rakyat yang jauh dari sekadar gimmick visual.

Malam puncak itu menjadi kian magis saat para penampil kawakan naik ke atas panggung setelah dibuka resmi oleh tari-tarian pra-kondisi dari Putra Bongas dan Danu. Salah satu sorotan utama adalah sajian “Pertunjukan Hikayah Kehidupan” yang menghadirkan koreografer handal Yurika, dan Maestro Tari Internasional, Rianto. Kehadiran keduanya di atas panggung seolah menyapa batin penonton lewat bahasa gerak kontemporer yang sarat akan makna filosofis kehidupan manusia dari lahir hingga menutup mata.

“Saya membawakan bagian Mijil, Mas. Proses bayi yang mau lahir ke dunia. Biasanya macapat Mijil dikaitkan dengan awal mula kehidupan manusia, sebuah gerbang suci menuju fajar eksistensi,” ungkap Yurika, saat menjelaskan makna dari tari kontemporer yang ia bawakan.

Secara berkesinambungan dengan awal mula kehidupan yang dibawa Yurika, Sang Maestro Rianto menyuguhkan Tari Kontemporer Pangkur yang membawa nuansa kontemplasi mendalam mengenai fase akhir dari pengembaraan manusia di dunia fana.

“Pangkur itu apa ya, sebuah situasi manusia pada saat dikalah proses kemunduran, kemunduran diri. Terus, jadi setelah dia itu sudah semakin tua menyadarkan diri, tubuhnya itu sudah semakin tak berkuasa gitu kan. Sudah mulai meninggalkan hal-hal duniawi di situ,” tutur Rianto menjabarkan gerak batinnya.

Rangkaian narasi filosofis ini mengalir runtut di tengah pertunjukan yang juga diramaikan oleh seniman-seniman lintas generasi, mulai dari lantunan pembuka oleh kieBAE, Sekar Macapat Maskumambang oleh Muhammad Antasena, Drama Musikal Sinom oleh Putra Bongas bersama Midori & Askaira Misya Arahman, Klotekan Kinanthi dan Asmarandana dari kelompok Ketapang, Performing Art Gambuh oleh Taufik ‘Togog’ and Friends, hingga suguhan Pantomim Dhandhanggula oleh Vicky, M.Hum. Ruang ekspresi ini merangkum seluruh spektrum emosi manusia dalam balutan tradisi Banyumasan.

Syaikhul Irfan, atau yang akrab disapa I’ank, selaku salah satu penggagas dan dewan pengarah acara, menjelaskan bahwa konsep kedekatan fisik tanpa sekat antara penampil dan penonton di Kedung Kendil Park ini sengaja dihidupkan untuk merawat sifat asli kebudayaan Banyumas.

“Evoluasi itu dari evolusi dan evaluasi. Bahwa evolusi itu adalah sebuah kemisahan yang masih harus terjadi, berubah gitu kan. Dari yang tadinya bercocok tanam dengan cara semacam dulu, sekarang berubah karena setting kita adalah agraris,” jelas I’ank. “Tapi ada nilai-nilai yang sebetulnya harus dievaluasi. Apakah kemudian pupuk-pupuk yang sifatnya malah menghancurkan tanah ini akan diteruskan? Itu bagian dari evaluasi. Atau kemudian bahwa ternyata kita banyak di agraris, tapi ternyata hidupnya adalah industrial. Itu juga bagian dari yang harus kita evaluasi. Anak muda tidak peduli dengan itu, maka kita mulai bertani—anak muda dan bertahun-tahun seniman. Itu poin yang harus disuarakan bahwa berubah itu harus ada sebuah faktor. Dinamis harus berubah kan, kebudayaan juga harus berubah. Tapi itu harus tidak meninggalkan nilai-nilai yang sudah paralel.”

Lebih lanjut, I’ank menambahkan mengenai keintiman ruang yang terbangun sepanjang festival. “Ya, memang egaliteran adalah Banyumas. Bahasa adalah mencerminkan keegaliterannya, kita tidak tertestrata. Banyumas jauh dari tradisi keraton, jauh Pajajaran, jauh Majapahit, jauh Mataram. Maka Banyumas itu berdiri sendiri secara organik sebagai masyarakat desa, masyarakat agraris yang memiliki bahasa sendiri dan memiliki corak kebudayaan sendiri. Egaliteran. Kesenian rakyat ini melihatnya kita luku saja, bahwa masyarakat luku. Panggung pun kita bikin secara luku dari apa yang kita punya, belarang, jagung, bambu. Ini benar-benar kesenian rakyat yang tidak hanya sekedar gimmick,” pungkasnya mendalam.

Kemeriahan Sokaraja Art Summit 2026 ini tidak berhenti di malam Minggu saja. Pada keesokan harinya, Minggu, 28 Juni 2026, kemeriahan berlanjut dengan Kirab Budaya PemDes Sokaraja Lor, makan bersama seluruh warga, pementasan seni dari SMKI, Monolog dari SMA Negeri 2 Purwokerto oleh Noya, penuturan Cerita Kendung Kendhil oleh Kyai Taefur Anwar, hingga pertunjukan Pakeong oleh LK Nura UIN Saizu, menutup rangkaian pesta rakyat yang jujur, organik, dan menghidupkan kembali jiwa agraris di tanah Banyumas.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tim Redaksi

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu ujian kesabaran pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *