Rumah Sastra Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Banyumas, pada 13 Agustus 2026 menjadi ruang perjumpaan berbagai disiplin seni dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kegiatan “Kenduri Prosa” yang menandai penutupan program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026. 10 Mahasiswa dari beragam latar kampus dan daerah berkumpul untuk merayakan proses belajar yang telah mereka jalani selama satu bulan bersama sastrawan Ahmad Tohari.
Di sela kegiatan tersebut, kami berkesempatan berbincang dengan Siti Amiyati, perwakilan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Dari perbincangan itu tergambar bahwa program Belajar Bersama Maestro bukan sekadar pelatihan menulis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun regenerasi pelaku budaya Indonesia.
Menurut Siti Amiyati, program BBM mempertemukan mahasiswa dari berbagai cabang seni dengan maestro di bidangnya masing-masing. Khusus di Purwokerto, yang memiliki tradisi sastra yang kuat, Kementerian Kebudayaan menggagas pembelajaran bersama Ahmad Tohari sebagai maestro sastra. Para peserta diajak memahami bagaimana sebuah cerita lahir dari pengamatan, pengalaman, dan pembacaan terhadap kehidupan sehari-hari.
Fokus pembelajaran tidak berhenti pada teknik menulis semata, yang ingin dibangun adalah kemampuan melihat realitas secara lebih mendalam, kemudian mengolahnya menjadi karya yang memiliki nilai kemanusiaan dan daya inspirasi. Dalam proses itu, Ahmad Tohari berperan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penjaga tradisi sastra yang membimbing peserta melalui pengalaman kreatifnya.
Siti Amiyati menjelaskan bahwa program ini telah berlangsung selama beberapa tahun dan dirancang secara berkelanjutan. Dampaknya mulai terlihat, terutama dalam terbentuknya jejaring antarpeserta dari berbagai daerah dan penggiat seni. Relasi yang terbangun selama program diharapkan menjadi modal penting bagi kolaborasi budaya di masa depan.
Lebih jauh, Kementerian Kebudayaan juga mendorong agar pengalaman mengikuti BBM memiliki nilai akademik dan profesional. Ke depan, proses belajar bersama maestro diharapkan dapat diakui sebagai bagian dari Satuan Kredit Semester (SKS), sekaligus memperkuat portofolio, curriculum vitae (CV), maupun bekal untuk melanjutkan studi dan memasuki dunia kerja.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan program ini dibuka untuk masyarakat umum atau penggiat literasi, Siti Amiyati menyampaikan bahwa saat ini sasaran utama tetap mahasiswa. Pertimbangan tersebut berkaitan dengan tujuan program sebagai investasi pengalaman, penguatan kompetensi, serta pembentukan portofolio yang dapat mendukung beasiswa maupun pengembangan karier peserta.
Namun demikian, visi jangka panjang program ini jauh lebih besar. Berdasarkan evaluasi terhadap dampak yang telah terlihat, Kementerian Kebudayaan ingin membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku budaya untuk terlibat dalam ekosistem pelestarian warisan para maestro. Program ini dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai budaya dari maestro kepada generasi muda.
Dalam konteks Banyumas dan Purwokerto, keberadaan Rumah Sastra Ahmad Tohari memiliki arti strategis. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat penguatan komunitas sastra dan kebudayaan lokal. Menurut Siti Amiyati, warisan intelektual dan budaya yang dimiliki Ahmad Tohari perlu dijaga bersama, baik melalui pendidikan, komunitas, maupun ruang-ruang kreatif yang terus hidup.
Mengenai apakah para peserta dapat menjadi penerus Ahmad Tohari, Siti Amiyati menjelaskan bahwa proses seleksi BBM dilakukan melalui tahapan administrasi dan substansi. Artinya, peserta yang diterima pada umumnya telah memiliki dasar kemampuan di bidangnya masing-masing. Ahmad Tohari tidak memulai pembelajaran dari nol, melainkan mengasah, memperdalam, dan memperkaya bekal yang sudah dimiliki peserta.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Belajar Bersama Maestro bukan sekadar program transfer pengetahuan, tetapi ruang pembentukan kualitas. Para peserta datang dengan potensi, lalu dipertemukan dengan pengalaman seorang maestro agar potensi itu memperoleh arah dan kedalaman.
Dari Tinggarjaya, harapan itu terasa nyata, di rumah sederhana yang kini menjadi Rumah Sastra Ahmad Tohari, regenerasi budaya sedang diupayakan melalui proses belajar yang tekun, jejaring yang tumbuh, dan keyakinan bahwa warisan sastra tidak berhenti pada satu nama, melainkan hidup melalui generasi yang terus belajar, berkarya, dan menjaga akar budayanya.
Reportase temenan.bilfest.id disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Siti Amiyati, dari Kementerian Kebudayaan RI
Reportase ini tidak boleh digunakan, dikutip, atau diterbitkan ulang tanpa izin redaksi.





