Setelah Sebulan Bersama, 10 Mahasiswa Belajar Bersama Maestro Ahmad Tohari Pulang Membawa Pesan: Teruslah Menulis

Kamis 13 Agustus 2026, menjadi hari terakhir perjumpaan para sastrawan muda dengan Ahmad Tohari dalam rangkaian program Belajar Bareng Maestro (BBM) Sastra 2026. Program tersebut merupakan diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan RI. Sebelumnya, para peserta telah melalui proses seleksi dengan proposal karya terbaik mereka untuk mengikuti program yang mempertemukan generasi muda dengan seorang maestro di bidang sastra.

Bagi Ahmad Tohari, pertemuan selama sebulan itu bukan semata-mata tentang mengajarkan teknik menulis. Ia bahkan memilih kata “menemani”, bukan “membimbing”, ucapnya saat memberikan sambutan dalam “Kenduri Prosa”, sebagai puncak BBM Sastra 2026 (13/8).

“Selama satu bulan ini saya menemani, bukan membimbing,menemani para sastrawan muda untuk mengembangkan kemampuan mereka bersastra,” ujar Ahmad Tohari.

Menurutnya, sastra tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Karena itu, selama proses tersebut ia mengajak para peserta untuk memahami kehidupan manusia sekaligus alam yang mengitarinya.

Ia memperkenalkan pendekatan sosial dan kultural kepada para peserta. Bagi Ahmad Tohari, seorang penulis perlu memahami kehidupan secara nyata agar karya yang dihasilkan tidak kehilangan kedalaman.

“Boleh dia mengamati kehidupan di pasar, kehidupan di sawah, kehidupan di pelabuhan, untuk mencari inspirasi bahan penulisan sastra,” katanya.

Pendekatan itu pula yang ia gunakan dalam proses pembelajaran. Ahmad Tohari menyebut ada dua metode yang digunakan selama mendampingi peserta, yakni diskusi mengenai cara mengolah cerita dan bahasa, serta pendekatan sosial dan kultural.

Hasilnya membuat Ahmad Tohari mengaku terkejut. Setelah membaca karya-karya peserta, ia menilai mereka telah memiliki kemampuan yang layak disebut sebagai sastrawan.

“Saya agak terkejut. Setelah saya membaca karya mereka, ternyata karya mereka sudah sangat pantas dan sudah bisa dikatakan mereka itu sudah jadi sastrawan,” ujarnya. Namun, pujian itu datang bersama sebuah pekerjaan rumah: konsistensi.

Bagi Ahmad Tohari, kemampuan yang telah dimiliki para peserta hanya akan berkembang apabila mereka terus menulis. Sebab, menjadi sastrawan bukan perkara sekali menghasilkan karya, melainkan tentang terus berjalan meski prosesnya panjang.

“Kalau mereka konsisten terus menulis, pasti mereka akan berkembang menjadi sastrawan besar di Indonesia,” katanya.

Pesan Ahmad Tohari kepada para sastrawan muda berangkat dari satu gagasan sederhana: menulis adalah cara manusia meninggalkan jejak.

Ditemui setelah acara, Ahmad Tohari mengutip sebuah pepatah Latin yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: “Aku menulis, maka aku lahir.”

Menurutnya, karya yang ditulis seseorang dapat memperpanjang keberadaannya bahkan setelah ia meninggal dunia. Ia mengambil contoh Chairil Anwar. Penyair itu telah meninggal pada 1949, tetapi namanya tetap hidup melalui karya-karyanya.

“Chairil Anwar itu orang miskin, sakit-sakitan, dan mati muda. Tapi karena dia menulis, maka dia punya nama abadi,” kata Ahmad Tohari.

Bagi dia, karya bukan hanya representasi gagasan seorang penulis. Karya juga menjadi cara untuk memperpanjang umur manusia.

“Kalau mereka tidak menulis, mati, mudah dilupakan,” ujarnya.

Pesan itu terasa semakin kuat pada hari terakhir program. Setelah sebulan menemani para peserta, Ahmad Tohari akhirnya harus berpisah dengan mereka.

Sebelum benar-benar meninggalkan ruang pertemuan, ia juga menyampaikan harapannya agar pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap kehidupan para sastrawan. Ia menilai sastrawan memiliki peran penting sebagai “guru” bangsa.

Jika guru menyampaikan pengetahuan secara langsung di ruang kelas, menurut Ahmad Tohari, sastrawan mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui karya sastra.

“Sastrawan itu sebagian dari golongan pejuang kehidupan, yang fungsinya sebetulnya sama dengan guru,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kritik merupakan bagian dari kehidupan kesusastraan. Sastrawan, menurutnya, tidak semestinya kehilangan ruang untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah.

Sebab, sastra tidak hanya berbicara tentang keindahan. Di dalamnya ada kehidupan manusia, kegelisahan, kritik, bahkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak nyaman didengar.

Acara kemudian berakhir dengan foto bersama. Ahmad Tohari dan istrinya (Syamsiah) berdiri bersama para peserta BBM, mengabadikan satu bulan perjalanan yang telah mereka lalui.

Setelah kamera berhenti, perpisahan belum benar-benar selesai. Para peserta kembali saling berpelukan, berbincang, dan mengambil foto satu sama lain. Mereka yang selama sebulan dipertemukan oleh sastra kini menyisakan sebuah atmosfer yang sulit diringkas dalam dokumentasi.

Mungkin, kelak yang mereka ingat bukan hanya materi tentang bagaimana mengolah cerita atau memilih kata. Bisa jadi yang menetap justru pesan sederhana yang disampaikan Ahmad Tohari pada hari terakhir itu: bahwa kehidupan adalah bahan bakar sastra, dan menulis adalah cara manusia membuat dirinya tetap hidup.

Seorang maestro telah selesai menemani mereka. Kini, giliran para sastrawan muda itu menentukan apakah mereka akan terus berjalan atau berhenti. Ahmad Tohari sudah menitipkan jawabannya, teruslah menulis.

Reportase temenan.bilfest.id disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Ahmad Tohari.


Reportase ini tidak boleh digunakan, dikutip, atau diterbitkan ulang tanpa izin redaksi.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Arum Puspita Samisara

Arum Puspita Samisara merupakan sosok kreatif kelahiran Banyumas, tahun 2001, yang berdomisili di Desa Pasir Kulon, Karanglewas. Dengan passion yang kuat di bidang desain grafis dan dunia kepenulisan, ia saat ini aktif berkontribusi sebagai sekretaris BIL Fest sekaligus proofreader di Omera Pustaka. Untuk keperluan kolaborasi maupun jejaring profesional, dapat dihubungi melalui melalui akun Instagram @sunny__414.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *