Abdul Aziz Rasjid: Sosok Dibalik Kesuksesan Program Belajar Bersama Maestro 2026 Ahmad Tohari

JATILAWANG – Kementerian Kebudayaan kembali menggelar program Belajar Bersama Maestro (BBM) selama 30 hari pada 15 Juli – 15 Agustus 2026 yang bertempat di kediaman pribadi Sastrawan Ahmad Tohari.

Program BBM mengulik berbagai hal yang dapat dipelajari dalam bidang sastra. Tidak hanya mempelajari teknik berkesenian, tetapi juga mempelajari nilai kehidupan, etika berkesenian, proses kreatif, hingga keteladanan seorang maestro. Dalam program BBM, terdapat acara puncak “Kenduri Prosa” yang merupakan penanda berakhirnya program BBM yang melahirkan hasil dari proses interaksi dan pembelajaran peserta. Hasil tersebut dituangkan dalam “Dramatic Reading” di penghujung program BBM.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 10 Mahasiswa dari berbagai Universitas di Indonesia, mulai dari Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pekalongan (UNIKAL), UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN JAKARTA), Universitas Andalas (UNAND), Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).

Kesuksesan Program BBM ini tak luput dari peran Asisten Maestro Abdul Aziz Rasjid. Ditemui di sela-sela waktu acara puncak BBM dengan tajuk “Kenduri Prosa” (13/8), Abdul Aziz Rasjid yang kerap disapa Aziz, mengatakan sebagai asisten melakukan pendampingan seperti menerjemahkan bagaimana cara Maestro Ahmad Tohari membagikan pengetahuannya kepada teman-teman peserta. Aziz mengatakan dirinya membuat silabus atau rencana pembelajaran secara terstruktur dalam program belajar bersama maestro yang berdasarkan 3 hal. Pertama tentang pandangan Ahmad Tohari terkait sastra yang salah satu rujukannya esai-esainya serta pidato dalam kongres cerpen Indonesia mengenai lokalitas desa. Kedua, strategi tekstual yang dieksplorasi berdasarkan novel maupun cerpen, serta gagasan dalam karya-karyanya. Ketiga, terkait proses kreatif Ahmad Tohari dalam menulis.

Aziz mengungkapkan tantangan yang dirasakan dalam proses mengajarnya, didasari oleh latar belakang disiplin ilmu yang berbeda-beda. Selain karena peserta merupakan berstatus mahasiswa, peserta juga berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Meskipun disatukan oleh minat sastra yang sama, tidak semua peserta memiliki kebiasaan dalam menulis bahkan ada yang baru mulai menulis. Menulis yang dimaksud adalah peserta dibiasakan menulis setiap malam dengan berbagai kritik dan saran yang membangun sehingga sangat mungkin bagi peserta merasa lelah dan jenuh setelah seharian beraktivitas.

Setelah berinteraksi selama 1 bulan, Aziz merasa peserta memiliki kesungguhan dalam belajar selama 1 bulan yang menurutnya sangat berkesan dan menyentuh hati dengan usaha dan energi yang dicurahkan peserta dalam menulis dan diskusi yang dilakukan selama belajar bersama Maestro Ahmad Tohari.

Reportase temenan.bilfest.id disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Abdul Aziz Rasjid (Asisten Maestro Sastra Ahmad Tohari)

Reportase ini tidak boleh digunakan, dikutip, atau diterbitkan ulang tanpa izin redaksi.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Najwa Khairunnisa

Najwa Khairunnisa adalah jurnalis bilfest.id yang merupakan mahasiswa Poltekkes Semarang. ia berasal dari Jatilawang, Banyumas. Bisa disapa melalui Instagram: @itsme_awaa06

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *