JATILAWANG, BANYUMAS – Sebagai penanda berakhirnya proses inkubasi penulis cerita pendek (cerpen) dalam program Belajar Bersama Maestro (BBM) Sastra Ahmad Tohari 2026, Kenduri Prosa sukses diselenggarakan pada hari Kamis (13/08) di Perpustakaan dan Rumah Sastra Ahmad Tohari. Sebelumnya, selama 30 hari sejak 15 Juli 2026, sepuluh mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia melakukan residensi sastra untuk mendalami pengetahuan menulis sastra dengan menimba ilmu kepada sastrawan Ahmad Tohari secara langsung.
Salah satu peserta BBM dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Hadi Rahman, datang dari Kalimantan Timur tanpa mengenal apa itu Banyumas. “Aku datang tanpa mengenal apa itu Banyumas, bahkan mendengarnya hampir tidak pernah, yang aku tahu hanya Bapak Tohari dari Jawa Tengah.” ujarnya menjelaskan. Sampai akhirnya pertama kali datang ke Banyumas, Hadi kemudian mempelajari tentang budaya dan kesenian di Banyumas. Melalui program BBM ini, Hadi dan peserta lainnya bertemu dengan tokoh-tokoh seni di Banyumas.
“Ada kunjungan tiga kali, pertama dengan Biyung Narsih (tokoh lengger di Banyumas), setelah itu dengan Pak Kendar di Omah Gamelan, kemudian menonton film bersama teman-teman dari Layar Kelas,” jelas Hadi setelah menyelesaikan proses inkubasi penulis.
Cara Baru Melihat Dunia setelah Program BBM
Hadi mengatakan adanya perbedaan signifikan antara Kalimantan Timur dan Banyumas. Mulai dari suasana hingga kebudayaan Banyumas memberikan pengalaman baru bagi Hadi. Selain itu, Ahmad Tohari dan Aziz (asisten maestro) selalu mengatakan untuk jangan terburu-buru, pelan-pelan dan lebih dinikmati saja, hal ini mempengaruhi cara Hadi melihat dunia. “Pak Tohari selalu bilang untuk tuliskan sesuatu yang sederhana, yang tidak berlebihan karena tugas seorang sastrawan itu menulis hal-hal sederhana yang berkesan,” kata Hadi.
Tidak berhenti sampai di situ, sebagai mahasiswa jurusan Psikologi, Hadi juga merasa ada keterkaitan antara sastra dengan psikologi, terutama dalam pembentukan karakter. Menurutnya, psikologi sangat penting untuk membentuk karakter menjadi seorang manusia di dalam cerita dan menangkap apa yang penulis berikan. “Aku rasa, dari isu-isu di dalam hati, di dalam pikiran itu melahirkan konflik yang bisa dimasukkan ke dalam karya seni.”
Menghasilkan Karya sebagai Dokumentasi Budaya
Dalam program BBM Sastra Ahmad Tohari 2026 ini, setiap peserta wajib menyelesaikan satu cerpen. Sebagai luarannya, Hadi menulis cerpen berjudul ‘Lukisan Ramdani’. Cerpen ini berkisah tentang seorang lengger yang tidak bisa meninggal karena malaikat maut kehilangan catatannya saat turun dari langit dan menabrak angin puncak kidul yang dingin. “(Meskipun) sekadar seorang lengger yang tidak bisa mati, tetapi dalam cerpen ini aku menambahkan peristiwa nyata di Banyumas, misalnya tabrakan kereta 1981 di Tambaknegara, isu pembantaian di Karangrau, hingga isu wabah malaria.” tambah Hadi.
Selain berkarya lewat tulisan, Hadi juga pandai menggambar sketsa. Dari 53 karya sketsa yang ia buat, sebanyak 23 karya lolos kurasi dan dipamerkan di acara “Kenduri Prosa”. Semua karya sketsa ini ia gambar selama inkubasi di Banyumas sehingga objeknya pun diambil dari sekitar Jatilawang, Banyumas. Mulai dari kesenian Ebeg, Lengger, pembuatan Calung, dan lain sebagainya.
Hadi juga menjelaskan rencana karya selanjutnya, “Aku ingin mencoba untuk mengambil hal-hal yang lebih sederhana, misalnya soal cara masyarakat memanfaatkan irigasi untuk mandi dan mencuci baju.” Sederhananya, Hadi berpendapat bahwa sebagai seorang seniman, tugas kita adalah menyenangkan orang yang menikmati karya itu sendiri dan hal tersebut ingin ia mulai dari hal yang sederhana.
Reportase temenan.bilfest.id disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Hadi Rahman, Peserta BBM Maestro Sastra 2026 Ahmad Tohari.
Reportase ini tidak boleh digunakan, dikutip, atau diterbitkan ulang tanpa izin redaksi.





