Teater Proses UNWIKU Sukses Gelar Pementasan “Lara”: Menelisik Luka dan Eksplorasi Artistik

PURWOKERTO. Di tengah temaram lampu dan keheningan yang perlahan membius penonton, sebuah pementasan teater berhasil menghadirkan renungan mendalam tentang eksistensi, luka, dan belenggu. Teater Proses Universitas Wijayakusuma (UNWIKU) Purwokerto, baru saja sukses menyelenggarakan Pentas Produksi ke-20 bertajuk “Lara” di Studio Teater Proses UNWIKU (21/08). Acara yang dimulai dengan pembukaan pameran seni rupa pada sore hari ini tidak hanya sekadar pertunjukan teater, melainkan sebuah refleksi tentang manusia yang hidup bagai cangkang kosong, mengikuti kehendak orang lain, namun perlahan mencoba menemukan suaranya sendiri.

Pementasan yang berhasil menyedot animo penikmat seni di kalangan mahasiswa ini menjadi semakin istimewa karena hadir dengan pendekatan yang berbeda dari karya-karya Teater Proses sebelumnya. Jika biasanya mereka identik dengan pembawaan kental nuansa budaya Banyumasan, kali ini “Lara” hadir dengan eksplorasi artistik yang lebih berani dan kontemporer, membawa penonton keluar dari zona nyaman untuk merenungi narasi universal tentang kebebasan diri. Tagline pementasan ini, “Ada yang terluka karena genggaman, ada yang bertahan karena keterikatan, dan ada yang tumbuh meski dikelilingi duri,” benar-benar mewujud dalam setiap adegan yang disajikan di atas panggung.

Di balik kesuksesan pementasan ini, terdapat visi kuat dari Teater Proses. Mewakili tim produksi, Bahren selaku sutradara menyampaikan, judul “Lara” tidak sekadar merujuk pada rasa sakit yang bersifat personal, melainkan membawa muatan emosional yang jauh lebih kompleks. Menurut Bahren, penulis naskah memang menggunakan nama tokoh utama sebagai judul, namun esensi ceritanya melampaui nama itu sendiri. Lara dikisahkan sebagai sosok yang hidup dalam belenggu, menjalani hari-harinya layaknya cangkang kosong karena hidupnya dikendalikan oleh ekspektasi dan pemikiran orang lain. Kondisi ini membuat Lara kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Bahren memutuskan untuk mempertahankan judul asli naskah karena ia meyakini ada filosofi mendalam di baliknya. Ia melihat bahwa pada akhirnya, “Lara” bukanlah sebuah kutukan yang harus diratapi oleh sang tokoh utama, melainkan sebuah harapan. Ada sebuah pergulatan batin di mana tokoh ini berusaha hidup berlawanan dari stigma atau takdir yang seolah disematkan pada namanya. Proses tokoh Lara mencari jalan keluarnya inilah yang menjadi inti dari pertunjukan. Pesan filosofis tersebut tidak hanya disampaikan melalui dialog, tetapi diejawantahkan secara apik oleh pemain melalui simbol, gaya pementasan, elemen visual, dan pemilihan tata cahaya yang dirancang sedikit berbeda dari pementasan-pementasan konvensional.

Salah satu inovasi paling menonjol dalam Pentas Produksi ke-20 ini adalah kolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) MASIF (Mahasiswa Seni Rupa dan Fotografi) UNWIKU. Kolaborasi ini bukan sekadar tempelan untuk meramaikan acara, melainkan terintegrasi langsung dengan cerita. Bahren mengungkapkan bahwa ide awal kolaborasi ini bermula dari keinginan bersama untuk melihat dinamika dan potensi kegiatan UKM seni di UNWIKU. Mereka saling bertukar ruang eksplorasi, di mana Teater Proses memberikan panggung bagi MASIF, dan MASIF memberikan kedalaman visual bagi naskah “Lara”.

Keterkaitan pameran seni rupa dengan lakon “Lara” memiliki benang merah yang sangat kuat. Dalam ceritanya, seni rupa menjadi satu-satunya medium yang dipilih oleh tokoh Lara untuk bercerita, menyalurkan emosi, dan menyampaikan apa yang sebenarnya ia rasakan saat kata-kata tak lagi mampu mewakili suaranya. Oleh karena itu, Open Gallery yang digelar sejak pukul 15.00 WIB di area depan luar studio pementasan bukan sekadar ekshibisi biasa. Pameran tersebut adalah manifestasi dari dunia batin Lara. Melalui karya-karya yang dipamerkan, penonton diajak untuk lebih dulu menyelami ekspresi diam sang tokoh sebelum akhirnya melihat perwujudannya secara teatrikal di atas panggung pada malam harinya.

Tantangan terbesar yang dihadapi tim produksi ini terletak pada pengolahan keaktoran dan penyusunan elemen-elemen artistik. Mereka harus bekerja ekstra keras untuk mengeksplorasi hal-hal yang mungkin terlihat sederhana dalam keseharian, agar bisa diwujudkan menjadi sesuatu yang berbeda dan memiliki makna simbolis yang kuat ketika diangkat ke atas panggung. Bahren menganalogikan proses ini seperti konsep plug and play pada hal-hal yang dianggap biasa, namun ketika dihadirkan dalam konteks pertunjukan, mampu memberikan efek kejut dan makna yang mendalam. Pengaturan cahaya, pemilihan properti, dan gestur para aktor diolah sedemikian rupa untuk membangun atmosfer emosional yang tepat.

Ketika ditanya mengenai sensasi atau pengalaman emosional apa yang ia harapkan dapat dirasakan oleh penonton setelah keluar dari studio, tim produksi berharap penonton merasakan perasaan “lega, tapi nanggung”. Perasaan lega diharapkan muncul ketika pesan dari naskah dan pertunjukan berhasil tersampaikan dan dipahami oleh audiens. Namun, mereka juga sengaja menyisakan ruang “nanggung” dengan tujuan agar rasa penasaran penonton terus terpelihara, sehingga mereka menantikan dan kembali hadir pada pementasan-pementasan Teater Proses di masa mendatang.

Bagi tim produksi, “Lara” juga menjadi refleksi dari semangat Teater Proses itu sendiri, yang tergambar dalam motto mereka: “Berproses dengan hati, berkarya sampai mati”. Di tengah dinamika organisasi kemahasiswaan di mana silih bergantinya anggota adalah hal yang lumrah. Teater Proses memaknai motto tersebut dengan sangat bijak. Bagi mereka, itu adalah sebuah sumpah yang harus dipegang teguh sejak pertama kali bergabung.

Melalui pementasan ini, Teater Proses ingin menghidupkan kembali semangat tersebut bagi teman-teman yang masih bertahan, untuk terus berkarya, mengeksplorasi diri, serta menjaga nyala kegiatan kesenian dan kebudayaan. Teater Proses meyakini bahwa proses berkarya tidak boleh berhenti, bahkan ketika masa kuliah telah usai dan kehidupan membawa mereka pada fase yang baru. “Lara” telah usai dipentaskan, namun semangat berproses. Teater Proses akan terus hidup, menjelma dalam karya-karya yang akan datang.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *