Cibay berbumbu pedas, kerudung dengan motif bordir khas, hingga puding fla dalam kemasan menjadi sebagian dari ide usaha yang lahir dari delapan kelompok calon santripreneur Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.
PURWOKERTO. Mahasiswa An Najah Purwokerto mengikuti Seminar Kewirausahaan, Kamis (27/8). Namun ide-ide tersebut belum final, para santriwati masih diberi ruang untuk mengubah, menyempurnakan, atau bahkan mengganti total konsep usaha mereka, tetapi dalam waktu maksimal dua minggu, karena laporan BusinessModel Canvas (BMC) beserta daftar kebutuhan peralatan usaha harus sudah disetor dua minggu sebelum sesi presentasi hasil digelar.
Beragamnya ide tersebut tak lepas dari seminar yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) di Sekretariat ISNU Cabang Kabupaten Banyumas.
Sebanyak 60 santri, mayoritas santriwati, mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Studi Islam Intensif Liburan dan Pekan Olahraga Seni Santri ke-21 tersebut sejak pukul 09.00 WIB. Dua dosen UNSOED didapuk mengisi materi, yaitu Prof. Drs. Nurul Anwar, M.S., Ph.D. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Dr. Akhmad Rizqul Karim, S.P., M.Sc. dari Fakultas Pertanian.
Materi inti yang dikupas adalah Business Model Canvas (BMC), kerangka sederhana untuk memetakan ide bisniscmulai dari segmen pelanggan hingga struktur biaya.
Usai pemaparan materi, giliran santri yang unjuk gagasan. Enam puluh peserta dipecah menjadi delapan kelompok, masing-masing menyusun BMC, merancang prototipe, sekaligus membuat daftar kebutuhan peralatan usaha. Dari sinilah lahir gagasan-gagasan seperti cibay berbumbu, kerudung motif bordir, dancpuding fla yang disebut di atas, di samping sejumlah konsep usaha lain dari kelompok sisanya.
Setiap kelompok memperoleh modal awal sebagai stimulan, sementara satu kelompok dengan konsep terbaik nantinya berhak atas pendanaan penuh untuk pengadaan peralatan usaha.
Dr. Akhmad Rizqul Karim menilai pendampingan semacam ini penting bagi kemandirian ekonomi santri.“Kita ingin menciptakan santripreneur yang bisa memberikan kemandirian bagi santri-santri tersebut,sekaligus menjadi solusi bagi sulitnya lapangan pekerjaan saat ini,” ujarnya. Ia berharap santri An Najahtak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki soft skill dan kemandirian menghadapi tantanganyang kian kompleks.
Salah satu peserta, Adifa santriwati An Najah yang juga mahasiswi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (Saizu) Purwokerto mengaku kelompoknya masih terus mematangkan konsep usaha yang mereka pilih. Ia yang semula awam soal kewirausahaan menyebut seminar ini membuka cara pandangnya.
“Saya jadi memahami bahwa memulai kewirausahaan itu tidak harus sempurna, tapi harus mau belajar danmeluangkan waktu,” ungkapnya, seraya berharap kegiatan serupa bisa rutin digelar setiap tahun untuk melatih santri berbisnis dan berwirausaha.
Keterbukaan untuk mengubah konsep usaha itu justru sengaja diberikan oleh Tim PkM UNSOED, meski dengan batas waktu yang jelas. Sebab dalam tiga hingga empat minggu mendatang, tim dijadwalkan kembali hadir untuk mendengar presentasi hasil prototipe dan produk dari tiap kelompok dan dua minggu sebelum hari itu tiba, seluruh kelompok sudah harus mengunci konsep usahanya lewat laporan BMC dan daftar kebutuhan peralatan. Artinya, resep cibay yang masih dites ulang bumbunya, motif bordir kerudung yang terus diperbarui, atau kemasan puding fla yang belum menemukan bentuk ideal, hanya punya waktudua pekan lagi untuk benar-benar matang.


