Cerdas Mengatur Diri, Mahasiswa Psikologi UMP Bekali 150 Siswa Andalusia

KEBASEN. Sebanyak 150 siswa SMA Islam Andalusia Kebasen mengikuti sharing session bertema “Cerdas Mengatur Diri, Tepat Menentukan Prioritas” yang dilaksanakan pada Senin, 28 September 2026, di SMA Islam Andalusia Kebasen, Jl. Pd. Leler, Randegan Lor, Randegan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) siswa SMA Islam Andalusia Kebasen. Pelatihan menghadirkan tiga mahasiswa Program Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), yaitu Shinta Fadhillah Widriyani, Arifatul Choiril Fajriyah, dan Najib Haidi Lutfillah, dengan Prof. Dr. Tri Na’imah, M.Si. sebagai dosen pengampu.

Mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan pelajar, pelatihan berfokus pada kemampuan mengenali diri, mengendalikan diri, mengelola waktu, menentukan prioritas, serta menetapkan tujuan secara terarah. Materi tersebut juga dikaitkan dengan kehidupan organisasi sebagai ruang bagi siswa untuk belajar mengenai tanggung jawab, kerja sama, komunikasi, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.

Organisasi sebagai laboratorium kehidupan dalam sesi awal, para siswa diajak melihat organisasi bukan sekadar tempat berkegiatan, melainkan sebagai “laboratorium kehidupan”. Pengalaman menyampaikan pendapat, membagi tugas, menyusun jadwal, membuat laporan, hingga meminta arahan merupakan proses belajar yang dapat menjadi bekal untuk kehidupan akademik maupun dunia kerja. Hal tersebut menjadi relevan dengan peserta yang sedang mengikuti LDK. Kepemimpinan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga dimulai dari kemampuan memimpin dan mengelola diri sendiri.

Peserta kemudian diajak memahami pentingnya mengenali diri. Melalui berbagai pertanyaan reflektif, siswa diminta melihat kembali kebiasaan sehari-hari, seperti merasa kesal tanpa memahami penyebabnya, berniat mengerjakan tugas tetapi justru menghabiskan waktu untuk aktivitas lain, atau mengikuti ajakan teman meskipun sebenarnya tidak ingin melakukannya.

Pesan yang ditekankan adalah bahwa mengenal diri bukan mencari alasan untuk mempertahankan kebiasaan buruk, tetapi mencari titik awal untuk bertumbuh. Dari SWOT hingga Menentukan Prioritas untuk membantu siswa memetakan dirinya, peserta dikenalkan dengan analisis SWOT, yaitu Strength, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Siswa belajar mengenali kekuatan dan kelemahan dari dalam diri serta melihat peluang dan hambatan dari lingkungan sebagai bahan menyusun rencana pengembangan diri.

Pelatihan juga menekankan pentingnya menerima kelemahan tanpa memberikan label negatif terhadap diri sendiri. Kesulitan dan kekurangan diarahkan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan tindakan yang dapat dilakukan secara bertahap. Setelah mengenali diri, materi bergerak pada keterampilan manajemen waktu. Para siswa diajak memahami bahwa mengelola waktu bukan berarti membuat jadwal sepadat mungkin, melainkan menggunakan waktu secara terarah agar kegiatan belajar, organisasi, ibadah, istirahat, dan kehidupan pribadi tetap seimbang.

Beberapa langkah praktis diperkenalkan, mulai dari mencatat kegiatan, menentukan prioritas, membuat to-do list, menyusun jadwal yang realistis, mengerjakan pekerjaan satu per satu, mengurangi gangguan, hingga melakukan evaluasi setiap hari. Belajar Membedakan yang Penting dan MendesakSalah satu materi yang diberikan kepada peserta adalah Matriks Eisenhower. Metode ini membantu siswa mengelompokkan aktivitas berdasarkan dua aspek utama, yaitu tingkat kepentingan dan urgensi.

Siswa belajar membedakan aktivitas yang penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, mendesak tetapi kurang penting, serta tidak penting dan tidak mendesak. Melalui latihan tersebut, peserta diharapkan tidak sekadar sibuk, tetapi mampu menentukan kegiatan mana yang benar-benar harus didahulukan. Keterampilan tersebut kemudian diperkuat melalui latihan membuat to-do list. Siswa diarahkan untuk menuliskan tugas secara jelas, mencatat tenggat waktu, menentukan prioritas, memecah pekerjaan besar menjadi langkah-langkah kecil, dan menyediakan waktu pengerjaan yang realistis.

Kolaborasi luring dan daring tiga mahasiswa Magister Psikologi UMP disampaikan secara kolaboratif oleh ketiga mahasiswa. Shinta Fadhillah Widriyani dan Arifatul Choiril Fajriyah hadir secara langsung mendampingi 150 peserta di SMA Islam Andalusia Kebasen.

Sementara itu, Najib Haidi Lutfillah mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom. Meski tidak hadir secara fisik di lokasi, Najib tetap terlibat dalam persiapan kegiatan dan berkontribusi dalam penyusunan serta penyampaian materi kepada peserta secara daring.

Kolaborasi luring dan daring tersebut memungkinkan ketiganya tetap berbagi peran dalam memberikan pengalaman belajar kepada peserta LDK. Siswa tidak hanya memperoleh paparan materi, tetapi juga diajak menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari dalam belajar dan berorganisasi.

SMART Goals untuk membawa rencana menjadi tindakan pada bagian akhir, peserta dikenalkan dengan SMART Goals sebagai cara menyusun tujuan yang lebih jelas dan realistis. SMART terdiri atas Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound.

Melalui pendekatan tersebut, siswa diarahkan agar tujuan tidak berhenti pada kalimat umum seperti ingin menjadi lebih rajin atau lebih baik dalam organisasi. Tujuan perlu dibuat spesifik, dapat diukur perkembangannya, sesuai kemampuan, relevan dengan kebutuhan, serta memiliki batas waktu yang jelas. Pelaksanaan sharing session di tengah kegiatan LDK ini diharapkan membantu siswa memahami bahwa kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri. Mengenali potensi, menerima bagian diri yang masih perlu dikembangkan, mengelola waktu, dan menentukan prioritas menjadi keterampilan dasar sebelum seseorang mampu menjalankan tanggung jawab terhadap orang lain.

Melalui kegiatan ini, Shinta Fadhillah Widriyani, Arifatul Choiril Fajriyah, dan Najib Haidi Lutfillah sebagai mahasiswa Magister Psikologi UMP berupaya membawa ilmu psikologi lebih dekat dengan kehidupan remaja. Pelatihan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi diarahkan pada keterampilan yang dapat langsung diterapkan siswa dalam kegiatan akademik, organisasi, maupun kehidupan sehari-hari.

Pesan utama kegiatan tersebut terangkum dalam satu gagasan sederhana: mengenali diri menjadi awal untuk mengendalikan diri, sedangkan kemampuan menentukan prioritas menjadi langkah untuk mencapai tujuan secara lebih terarah.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tim Redaksi

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu ujian kesabaran pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *