Gemuruh musik, pendar lampu panggung, dan riak antusiasme ribuan mahasiswa muda menyatu dalam udara malam di Lapangan Mas Mansoer, Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sabtu malam, 19 September 2026, gelaran “Malam Inaugurasi First Meet at Campus 2026” berlangsung meriah. Sorak-sorai penonton pecah saat deretan pengisi acara seperti Polkadots, Arinta, Linsen, Seribu, hingga sang bintang tamu utama, Raim Laode, menggelegarkan panggung lewat lantunan lagu-lagu hits yang menghanyutkan suasana.
Namun, di balik riuhnya irama pop dan kepungan kerlip cahaya panggung, ada denyut perjuangan yang sunyi. Di sudut area lapangan, tim medis dari Muhammadiyah Disaster Management Center bersama para sukarelawan Fakultas Ilmu Kesehatan UMP berdiri siaga. Salah satu personel yang bertugas malam itu adalah Yahya bersama rekan-rekannya, memastikan seluruh pengunjung dapat menikmati malam perayaan dengan aman dan sehat.
Siapa sangka, di sela-sela tugas kesiapsiagaan medis tersebut, sebuah ruang diskusi kritis justru tercipta secara tidak sengaja. Di tengah hiruk-pikuk konser yang mengguncang panggung, obrolan-obrolan hangat mulai mengalir di posko kesehatan. Yahya dan timnya berbincang dengan para mahasiswa anggota Mahasiswa Pencinta Alam Satria yang juga sedang melakukan aksi galang donasi di sekitar area acara.
Diskusi sederhana itu bergulir semakin jauh saat Wakil Dekan 3 FIKES UMP, Ns. Endiyono, S.Kep., M.Kep., hadir meninjau dan memantau langsung para mahasiswanya yang sedang bertugas. Di antara lalu-lalang penonton dan alunan musik Raim Laode, mereka saling bertukar gagasan mengenai krisis kekeringan yang tengah melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah, khususnya area Banyumas hingga Belik, Pemalang.
Bagi tim relawan kemanusiaan, kondisi lapangan belakangan ini memang terbilang berat. Pusdatin MDMC, Aissyah Wahyu Ningrum, mengungkapkan bahwa timnya sempat berada di titik krusial. Terbatasnya daya dan sumber daya sempat memunculkan wacana untuk menghentikan sementara operasional penyaluran bantuan air bersih pada pekan-pekan ini. Ketersediaan armada dan pasokan menjadi kendala nyata di tengah tingginya permintaan masyarakat yang terdampak kekeringan.
Namun, malam konser di UMP justru menjadi titik balik yang tak terduga. Kehadiran berbagai elemen kampus dalam satu lokasi perayaan membuka pintu kolaborasi yang mulanya tak terbayangkan. Diskusi yang bermula dari obrolan ringan di posko medis berkembang menjadi komitmen aksi nyata. Sinergi lintas pihak langsung terbentuk malam itu, melibatkan FIKES UMP, Mapala Satria, serta dukungan dari BMT Amanah.
Dari panggung perayaan mahasiswa, terbitlah jalan keluar untuk masyarakat yang membutuhkan air. Kolaborasi ini disepakati untuk menyokong pembuatan satu sumur bor Al Insyirah serta pengiriman puluhan trip tangki air bersih menuju titik-titik krisis di Banyumas dan Pemalang. Malam yang semula diniatkan sebagai ajang hiburan dan penyambutan mahasiswa baru pun bertransformasi menjadi wadah kepedulian sosial yang nyata.
Ketika ribuan pasang mata terpesona oleh aksi panggung Raim Laode dan riuhnya pengisi acara lainnya, sebuah pencerahan kemanusiaan justru lahir di posko medis tepi lapangan. Konser malam itu tidak hanya meninggalkan kenangan indah bagi mahasiswa baru, tetapi juga membawa embun kesejukan dan harapan baru bagi ribuan warga yang sedang menantikan hadirnya air bersih.



