Festival Film Sinemaphoria Banyumas 2026 Hadirkan Karya Sineas dari Berbagai Daerah

PURWOKERTO. Festival Film Sinemaphoria Banyumas (FFSB) 2026 resmi menggelar pemutaran film-film nominasi pada Jumat, 16 Oktober 2026, di Mini Theater Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Banyumas. Rangkaian hari pertama festival ini berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 15.30 WIB dan terbagi dalam dua sesi utama: pemutaran film fiksi pada pagi hari dan film dokumenter pada siang harinya. Kedua sesi ditutup dengan diskusi tanya jawab bersama para sutradara yang hadir langsung memenuhi undangan panitia.

Sejak pagi, tamu undangan mulai berdatangan ke Mini Theater Arpusda Banyumas untuk mengikuti pemutaran film nominasi FFSB 2026. Open gate dibuka pukul 08.00 untuk registrasi dan penataan tempat duduk, kemudian acara dibuka secara singkat sebelum pemutaran film dimulai pukul 09.00. Suasana berlangsung hangat dan tertib, memberi ruang bagi penonton untuk menikmati setiap film yang ditayangkan tanpa terburu-buru.

Sesi pertama menghadirkan lima film fiksi pilihan. Pembuka datang dari ISBI Bandung lewat film “A Cat Can Look at King” garapan Deris Muhammad Nurul Ihsan, sebuah cerita ringkas namun tajam tentang seorang remaja yang diantar orang tuanya menuju sekolah kepolisian sambil membawa kucing kesayangan, simbol kecil tentang kelembutan yang kerap dianggap kelemahan oleh generasi sebelumnya. Lalu film kedua yakni “Kentang Tintung Tingtang Tingtung” karya Lingga G. Permadi dari Sinema Batu Adem yang menyentil ironi digitalisasi pertanian. Tokoh Joni Bayem percaya kentangnya subur karena dirawat dengan nyanyian dangdut setiap hari, sementara pemerintah desa mendorong petani beralih ke live streaming, AI, dan smart farming.

Tradisi Jawa juga mendapat tempat lewat film berjudul “Pembayun” (Sure Pictures Semarang) arahan Ardian Parasto, yang mengikuti Ayu pulang merantau demi membantu ibunya menyiapkan gudeg manggar untuk tradisi Kupatan, sebuah tradisi yang hingga kini masih dilestarikan meskipun di tengah sulitnya mencari bahan manggar akibat perubahan iklim. Sementara itu, film “Terang Bulan” besutan Guruh Nusantara dari foolfeel films menyajikan dilema moral Munawaroh, seorang bidan desa yang diam-diam merawat Mira, mantan pekerja seks yang dijauhi masyarakat. Dan penutup sesi fiksi adalah “WUK” dari ISI Surakarta karya Achmad Rezi Fahlevie, yang mengangkat pergulatan Ulfah, ibu muda yang menolak praktik sunat perempuan demi melindungi hak anak perempuannya.

Diskusi seusai sesi pertama berlangsung hangat. Ardian Parasto, sutradara Pembayun, menjadi satu-satunya perwakilan sineas yang sempat sharing session langsung dengan penonton. Ia bercerita tentang proses pencarian bahan manggar yang kian sulit akibat perubahan iklim, serta bagaimana tradisi Kupatan di kampung halamannya menjadi titik berangkat cerita Ayu yang harus pulang merantau demi membantu ibunya menyiapkan gudeg manggar. Beberapa penonton juga turut menanggapi dengan pertanyaan seputar tantangan dalam memproduksi film tersebut.

Lanjut pada sesi kedua yakni film dokumenter dibuka dengan “DJUM” produksi ISI Yogyakarta karya sutradara Ahmad Brilian MV dengan produser Dony Ardiansyah IP, sukses membuat banyak penonton terdiam. Film ini mengikuti Jumadi (69), seorang penggerobak sampah yang telah menekuni profesinya lebih dari 40 tahun. Profesi yang sering dipandang rendah itu justru menjadi jalan baginya menyekolahkan anak-anaknya hingga bergelar sarjana. Jelang pernikahan sang bungsu, istri Jumadi terserang stroke. Harapan sang istri untuk hadir sehat di hari bahagia anaknya memaksa Jumadi bekerja lebih keras sekaligus rutin merawat istrinya lewat terapi dan obat-obatan. Realitas keteguhan seorang kepala keluarga ini begitu dekat dengan keseharian banyak penonton, sehingga tepuk tangan panjang terdengar saat kredit penutup muncul.

Sorakan haru berlanjut lewat “Echoes From Fading Island” (Universitas Padjadjaran) arahan Rianata Astama Putra, yang merekam perlawanan warga Pulau Pari terhadap korporasi yang mengeksploitasi lahan mereka melalui reklamasi, privatisasi, dan kerusakan lingkungan. Metafora layang-layang yang terbang bebas menjadi simbol harapan mereka bagi generasi mendatang.

Dari Nusa Tenggara Timur, “Manawara” karya Ineu Rahmawati (Inspirasi Sinema) menghadirkan Intan, gadis 13 tahun dari Pulau Sumba yang bercita-cita ikut Pasola, tradisi perang berkuda penuh keberanian. Kecintaannya pada kuda tumbuh bersama budaya setempat dan mengubah hobi menjadi impian besar. Masih dari ranah realitas sosial, “Mariana” (ISBI Bandung) besutan Reygil Febryan FZ mengangkat kisah nyata Mariana (36) yang dipenjara karena kasus narkotika demi menghidupi anaknya di tengah himpitan ekonomi. Penjara menjadi ruang pergulatan batin, hingga Tahun Yubelium 2025 membuka jalan pembebasan bersyarat pada Desember 2025. Film ini menyentuh isu kemiskinan struktural dan sistem hukum secara jujur tanpa menghakimi.

Kemudian penutup sesi film dokumenter adalah “Penjaga Hutan Adat Demong Samin” (Rafflesia Motion Films) arahan Robby Fachru Rozie, yang merekam perjuangan masyarakat adat Suku IX Kabupaten Lebong merebut kembali hutan adat mereka pasca Putusan MK No. 35/PUU-X/2012. Kisah ini menegaskan bahwa kemenangan hukum belum otomatis berarti keadilan di lapangan.

Diskusi sesi kedua berlangsung lebih intens. Tiga sutradara Ahmad Brilian MV (DJUM), Rianata Astama Putra (Echoes From Fading Island), dan Reygil Febryan FZ (Mariana) duduk di depan penonton, membuka sesi dengan cerita perjalanan mereka menuju Purwokerto yang penuh lika-liku namun berujung pada pertemuan hangat di Mini Theater Arpusda. Mereka kemudian menanggapi berbagai pertanyaan audiens, mulai dari tantangan teknis di lapangan hingga alasan di balik keberanian mereka membawa isu-isu sensitif ke layar dokumenter. Ahmad Brilian MV menuturkan bagaimana pendekatan personal terhadap tokoh Jumadi membuatnya mampu merekam keteguhan seorang penggerobak sampah tanpa terasa menghakimi. Rianata Astama Putra menjelaskan proses panjang membangun kepercayaan warga Pulau Pari yang selama ini waspada terhadap kamera, sementara Reygil Febryan FZ mengurai motivasinya mengangkat kasus Mariana tentang setiap kesalahan manusia hanya Tuhan yang tahu, dan narkoba adalah bahaya nyata yang bisa menghancurkan masa depan pelakunya. Banyak tamu undangan mengaku kagum atas usaha mereka.

Pemutaran dua sesi film di Arpusda Banyumas ini menegaskan bahwa sinema pendek masih menjadi medium paling jujur untuk menyuarakan realitas. Jika fiksi menawarkan refleksi lewat simbol dan dilema personal, dokumenter hadir dengan keberanian menyentuh persoalan sosial secara langsung mulai dari keteguhan tukang sampah, perlawanan warga pulau kecil, mimpi gadis Sumba, pergulatan perempuan di balik jeruji, hingga perjuangan masyarakat adat merebut hutan mereka.

Rangkaian FFSB 2026 akan berlanjut pada Sabtu, 17 Oktober 2026, dengan agenda launching film Balai Film Banyumas, masterclass bersama pemateri ternama, serta malam Awarding pukul 18.30–22.00 WIB sebagai puncak pengumuman para pemenang. Festival ini sekali lagi membuktikan bahwa layar kecil mampu memancarkan suara-suara besar dari pinggiran. “Festival Film Sinemaphoria Banyumas 2026, Satu Layar Sejuta Cerita.”

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Mahin Al Hasan

Mahin Al Hasan, mahasiswa semester akhir asal Cilacap Barat, saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Umum UKM KSiK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Ia dikenal sebagai sosok yang aktif membaca buku, menikmati musik, serta memiliki ketertarikan mendalam dalam mengamati berbagai polemik kehidupan dan dinamika sosial-politik di Indonesia. Melalui perannya di organisasi, Mahin terus berupaya mengasah kepekaan intelektual dan memperluas wawasan untuk berkontribusi bagi kemajuan masyarakat dan bangsa. Bisa disapa melalui Instagram @mahinalhasann.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *