Keluarga Soetedja: Terima Kasih Selalu Membawa Pulang Kampung ke Purwokerto

PURWOKERTO. Suasana Stasiun Kereta Api Purwokerto pada Rabu pagi (21/10) terasa berbeda. Di antara deru mesin kereta dan pengumuman kedatangan armada, alunan lagu “Di Tepian Sungai Serayu” menyapa hangat para penumpang yang tiba di kota Purwokerto. Lagu ikonik karya komposer legendaris asal Banyumas, Soetedja, kini kian menguatkan identitas budaya setempat seiring langkah PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto yang meresmikan Patung Raden Soetedja di sudut pintu masuk stasiun.

Peresmian patung ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT KAI Daop 5 Purwokerto. Selain menghadirkan patung peringatan, PT KAI Daop 5 juga secara konsisten menjadikan karya music Raden Soetedja sebagai lagu penyambut resmi (welcoming song) bagi para penumpang yang mendarat di Stasiun Purwokerto.

Acara peresmian dihadiri langsung oleh perwakilan putra-putri, cucu, dan keluarga besar almarhum Raden Soetedja. Aryo Prakoso, salah satu cucu Raden Soetedja, menyampaikan rasa haru dan apresiasi mendalam atas pengakuan yang diberikan kepada kakeknya.

“Ini adalah bentuk apresiasi yang sangat tinggi bagi Mbah Kakung (Soetedja). Kami sangat berterima kasih karena karya beliau terus dihidupkan dan menyambut siapa saja yang pulang ke Purwokerto,” ujar Aryo.

Dalam kesempatan tersebut, keluarga mengisahkan bagaimana rekam jejak dan wawasan kekaryaan Raden Soetedja dapat terus dirawat hingga saat ini. Keberadaan arsip-arsip sejarah Raden Soetedja tak lepas dari ketelatenan salah satu putranya, (Alm.) Imam Nur Seno, yang rajin mendokumentasikan jejak kehidupan Sang Maestro. Pihak keluarga juga menyampaikan apresiasi kepada Festival Film Purbalingga (FFP) di bawah arahan Bowo Leksono yang telah memproduksi film dokumenter Mencari Soetedja.

Aryo menambahkan, Raden Soetedja—yang dikaruniai 9 orang anak—selalu menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.

“Mbah Soetedja berharap anak-cucunya tidak sekadar menjadi seniman atau musisi, tetapi menjadi pribadi yang gemar berbagi kepada sesama,” kenang Aryo, seraya menceritakan kebiasaan mendiang kakeknya yang kerap memberi uang kepada para pengamen jalanan.

Sebagai bentuk kontribusi nyata keluarga kepada masyarakat dan pemajuan kebudayaan, keluarga besar Raden Soetedja menegaskan tidak mengambil hak royalti atas pemutaran lagu “Di Tepian Sungai Serayu” di area publik Stasiun Purwokerto.

Rekam Jejak Sang Maestro

Raden Soetedja dikenal sebagai sosok multitalenta dalam sejarah seni pertunjukan dan musik Indonesia. Selain menciptakan berbagai karya lagu legendaris, ia pernah berkiprah sebagai penyiar di RRI Purwokerto dan RRI Jakarta, serta aktif dalam dinamika kesenian di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Hingga akhir hayatnya di usia 50 tahun, Soetedja juga mendapat kepercayaan memimpin korps Paduan Suara Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Sinergi Lintas Sektor dan Penyerahan Penghargaan

Peresmian patung ditandai dengan pembukaan tirai patung Raden Soetedja secara khidmat. Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Kepala SPN Purwokerto, Komandan Brimob Purwokerto, Banjoemas History and Heritage Community (BHHC), serta Yayasan Lestari Banyumas.

Dalam rangkaian acara tersebut, PT KAI Daop 5 Purwokerto menyerahkan sertifikat penghargaan kepada keluarga besar Raden Soetedja. Sebaliknya, Yayasan Raden Soetedja memberikan apresiasi khusus kepada komunitasi BHHC dan Yayasan Lestari Banyumas atas dedikasi dan kerja-kerja kearsipan yang konsisten. Lewat riset kearsipan tersebut, jejak sejarah perkeretaapian dan warisan kebudayaan Soetedja dapat terus diakses dan memberikan manfaat edukatif bagi generasi muda hingga saat ini. Penyerahan penghargaan mewakili BHHC diterima oleh Jatmiko dan Pandu.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Fikri Kuncen

Editor in Chief bilfest.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *