Geguritan Umi Roisatul M Dipamerkan dalam Festival Taman Budaya Soetedja 2026

PURWOKERTO – Karya geguritan berjudul Riwayat Alas Banyumas karya Umi Rosiatul Mukaromah menjadi salah satu karya sastra yang dipamerkan dalam Festival Taman Budaya Soetedja x Banyumas Aesthetic Soetedja 2026. Karya tersebut dipajang bersama karya sastra lainnya dan lukisan hasil workshop di Gedung Kesenian Soetedja, Purwokerto, pada 21–25 Oktober 2026.

Geguritan tersebut merupakan salah satu karya yang lahir dari proses kreatif Umi setelah mengikuti Workshop Penulisan Sastra Bermuatan Budaya Banyumas yang diselenggarakan pada 8–9 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Soetedja. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus pematangan karya bagi para penulis, penyair, dan pegiat sastra yang ingin mengangkat kekayaan budaya lokal Banyumas melalui karya sastra.

Umi mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut berawal dari informasi mengenai kesempatan mengikuti workshop yang terbuka bagi masyarakat umum. Ia kemudian mencoba mengirimkan karya geguritan, meskipun sebelumnya lebih terbiasa menulis puisi dalam bahasa Indonesia.

“Jujur, itu kali pertama bagi saya, Mas. Biasanya saya menulis puisi, dan momen itu menjadi langkah awal saya mencoba menulis puisi dalam bahasa Jawa Banyumasan yang kita namai guritan,” ungkap Umi.

Proses penulisan Riwayat Alas Banyumas juga memiliki cerita tersendiri. Umi menulis karya tersebut ketika sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di SMAIT Al Irsyad Purwokerto. Di sela-sela jadwal kegiatan dan aktivitas di sekolah, ia berusaha menyelesaikan guritan yang kemudian dikirimkan untuk mengikuti seleksi workshop.

Setelah melalui proses kurasi, Umi dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta yang berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut. Ia bersama peserta lainnya mendapatkan materi penulisan cerita cekak (cerkak) dan guritan yang disampaikan oleh empat pemateri, yakni Bambang Wadro, Wanto Tirta, Jarot C. Setyoko, dan Achmad Sultoni.

Bambang Wadro dikenal sebagai penulis dan budayawan Banyumas. Wanto Tirta merupakan budayawan sekaligus penulis geguritan Banyumas. Sementara itu, Jarot C. Setyoko merupakan penulis dan budayawan Banyumas, sedangkan Achmad Sultoni merupakan dosen dan penulis sastra Banyumas.

Workshop tersebut tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pemantapan pengetahuan dan penyempurnaan naskah peserta. Setelah rangkaian kegiatan pada 8–9 Agustus 2026 selesai, Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Banyumas menyampaikan rencana pelaksanaan kurasi lanjutan terhadap karya-karya peserta yang telah mengikuti workshop.

Para peserta kemudian memperoleh kesempatan untuk memperbaiki dan menyempurnakan naskah masing-masing. Bagi Umi, proses tersebut menjadi pengalaman yang berharga sekaligus menghadirkan tantangan tersendiri. Ia mengaku sempat merasa minder karena sebagian besar peserta yang mengikuti kegiatan merupakan praktisi seni senior.

Karena itu, kabar bahwa Riwayat Alas Banyumas turut dipamerkan dalam Festival Taman Budaya Soetedja 2026 menjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka. Umi baru mengetahui bahwa karyanya dipajang dalam festival tersebut setelah mendapatkan informasi dari pihak lain.

“Terakhir, di grup baru ada perekapan peserta yang sudah memperbaiki hasil karya. Jujur, saya agak minder karena mayoritas peserta yang ikut saat itu merupakan praktisi seni senior. Saya justru baru mengetahui karya saya dipamerkan di Soetedja dari Mas Fikri,” tuturnya.

Dari Tegal Kurusetra hingga Riwayat Alas Banyumas

Selain menulis guritan, Umi Rosiatul Mukaromah juga telah menghasilkan buku puisi berjudul Tegal Kurusetra. Buku tersebut memperoleh penghargaan Ahmad Tohari Awards 2025 dalam rangkaian BIL Fest (Banyumas International Literacy Festival) 2025 yang diselenggarakan di Banyumas.

Penghargaan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kreatif Umi sebagai penulis perempuan yang terus mengembangkan karya sastra. Melalui Tegal Kurusetra, ia berkarya dalam puisi berbahasa Indonesia. Sementara itu, melalui Riwayat Alas Banyumas, ia mulai mengeksplorasi puisi berbahasa Jawa Banyumasan atau guritan sebagai medium untuk mengungkapkan ingatan, sejarah, dan identitas budaya lokal.

Perjalanan dari penulisan buku puisi hingga penciptaan guritan menunjukkan proses belajar dan keberanian Umi dalam mencoba bentuk ekspresi sastra yang berbeda. Keikutsertaannya dalam workshop menjadi kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenai sastra Banyumasan, sedangkan pameran di Gedung Kesenian Soetedja menjadi ruang bagi karyanya untuk berjumpa dengan masyarakat.

Kehadiran Riwayat Alas Banyumas dalam festival tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang pembinaan sastra dapat membuka kesempatan bagi penulis untuk terus belajar, berproses, dan memperkenalkan karya kepada khalayak yang lebih luas.

Sastra sebagai Jalan Merawat Ingatan Budaya

Bagi Umi, menulis bukan semata-mata kegiatan menghasilkan karya, melainkan juga upaya menjaga keberlanjutan budaya melalui bahasa dan sastra. Sebagai penulis perempuan yang tengah mengembangkan diri, ia berharap dapat terus berkarya sekaligus berkontribusi dalam kehidupan literasi, khususnya melalui puisi dan guritan.

“Harapan saya sebagai penulis, saya ingin terus hidup dan menghidupi dunia tulisan, khususnya puisi/guritan. Budaya tak semestinya lekang oleh zaman, maka dengan sedikit yang saya mampu, saya akan mengenalkan itu lewat sastra,” ungkapnya.

Ia memandang sastra sebagai salah satu jalan untuk merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap lingkungan, tradisi, sejarah, dan identitas lokal. Melalui guritan, pengalaman serta pengetahuan mengenai Banyumas dapat diungkapkan kembali dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakatnya.

“Setidak-tidaknya, itu menjadi jalan meruwat dan merawat ingatan kita pada hal-hal di sekitar kita, khususnya budaya Banyumas,” lanjutnya.

Pandangan tersebut tercermin dalam Riwayat Alas Banyumas, yang mengangkat jejak sejarah dan ingatan mengenai Banyumas melalui bahasa serta ungkapan khas lokal. Dalam karya tersebut, Umi menghadirkan sejumlah gambaran yang berkaitan dengan sejarah dan lanskap Banyumas, termasuk Alas Wira­saba, Sungai Serayu, serta kawasan Kejawar. Unsur-unsur lokal tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali ingatan mengenai daerah melalui puisi berbahasa Banyumasan.

Pameran di Gedung Kesenian Soetedja dalam rangka Festival Taman Budaya Soetedja x Banyumas Aesthetic Soetedja 2026 mempertemukan karya sastra dengan karya seni visual. Kehadiran geguritan bersama lukisan dan karya lainnya membuka ruang bagi masyarakat untuk menikmati ekspresi kebudayaan Banyumas melalui beragam medium.

Bagi Umi, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk terus menulis dan memperkenalkan sastra Banyumasan. Setelah buku puisi Tegal Kurusetra memperoleh penghargaan Ahmad Tohari Awards 2025, kesempatan menampilkan Riwayat Alas Banyumas menjadi pengalaman lain yang memperluas ruang perjumpaan karyanya dengan publik.

Melalui puisi dan guritan, ia berharap kebudayaan lokal tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Baginya, pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan seremonial. Menulis, membaca, dan menghadirkan kembali ingatan lokal dalam karya sastra juga merupakan cara untuk menjaga agar bahasa, tradisi, dan identitas Banyumas tetap tumbuh di tengah perubahan zaman.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tim Redaksi

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu ujian kesabaran pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *