
Sudah menjadi kebiasaan ketika sudah mapan (tiduran) langsung tidak sadarkan diri. Dari Rabu malam sampai Kamis dini hari, menyengaja tidak menutup kelopak mata. Seperti malam-malam yang sudah berlalu: mengisi malam dengan menghadapkan wajah ke monitor yang penuh dengan berkas antrean editan foto-video. Satu kegiatan sudah selesai, pengerjaan edit dan langsung unggah di Google Drive untuk memberikan layanan terbaik kepada konsumen yang telah menunggu hasil.
Persiapan Memotret
Kamis (4 September 2025), saya dini hari prepare untuk foto wisuda personal mahasiswa UIN SAIZU. Perlengkapan foto mulai dari body kamera dan lensa andalan yaitu Sony A7 Classic dan Sigma 50 mm F 1.4 (punya Kang Farhan Hamid) sudah saya packing, lengkap dengan memori card dan tiga battery camera. Jas hujan masuk ke tas gendong milik istri, saya tata dengan rapi. Paling bawah saya taruh jas hujan (karena tidak mendung, saya taruh paling bawah), atasnya: sarung, kemudian tas kamera, dan yang paling atas adalah peci yang sering saya pakai: Awing nomer enem. Jaket yang dibelikan istri saya juga selalu saya pakai ketika bepergian, baik pakai transportasi umum maupun motoran. Serasa selalu ditemani sehingga pergi saya ini penuh dengan tanggung jawab dan penuh motivasi karena posisi sebagai suami dan sebagai bapaknya Tama.
Kegiatan yang selesai pengerjaannya di Rabu malam tersebut, yaitu foto kegiatan Haul ke-75 Simbah K.H. Akhmad Hisyam dan Haul ke-29 Simbah K.H. Irfangi Hisyam. Beliau muassis Ponpes Al-Munawwaroh, tempat saya numpang tidur dan mengisi waktu sehari hari dengan harapan: saya tidak buta tentang ilmu agama. Setelah selesai acara jam 21.15 WIB, saya pulang dan lagsung cabut kartu memori dari kamera, lalu saya tancapkan ke komputer serba guna saya (ya nggo ndisen, edit foto, edit video, nggawe surat meyurat). Ratusan file foto langsung saya masukan ke folder “Haul Al-Munawwaroh 2025” dan saya edit satu persatu basic editing di LR (Lightroom).
Selesai edit kemudian export foto yang sudah diedit. Sembari export foto selesai, saya cek di Google Maps rute terbaik untuk ke UIN SAIZU (arep lewat prapatan Buntu apa lewat Kemranjen bae ya? Soale wengi tur sepi nek jam teluan). Export sudah selesai, upload Drive sudah selesai, saya kirim ke Farhan Haqiqi untuk menata di template desain bahan upload Instagram Ponpes Al-Munawwaroh. Saya kirim link dengan berpesan “Han, didesain langsung karo template terakhir. Judule wis tek tulis, dimaksimalkan 20 sheet.” Langsung direspon oleh Farhan Haqiqi (ternyata esih melek Si Farhan) “Iya pak, tapi nunggu pagi pak, tidak bisa sekarang.” saut dia.
“Ora papa, Han. Sing penting digarap.” Tukasku.
Lima menit kemudian Si Farhan Haqiqi mengirim pesan lagi, “Pak, sing nggo cover foto ndi pak sing bagus?” (Batin saya, wah langsung digarap kie, langsung kudu gercep kie aku). “Sing iki bae, Han.” Jawabku dengan mengirim foto kegiatan haul terserbut.
Saya sambil nyetrika celana yang mau dipakai, Si Farhan Whatsapp lagi, “Format document apa HD, pak?”
“Kirim Drive bae, Han…!!!”
Si Farhan mengirim link Drive dan langsung saya download di HP. Kenapa tidak di komputer? karena kalau upload feed Instagram via computer, tidak bisa sampai 20 sheet, sehingga saya download di HP karena saya uplod-nya via HP. Download-an rampung, kemudian upload di Instagram Al-Mmunawwaroh. Alhamdulillah beres.
Biasanya foto personal graduation ini langsung dari client, tapi berbeda kali ini. Arif Prabowo yang punya sukuro.image kasih pekerjaan (job) foto graduation kepada saya dengan bayaran yang sudah disepakati. Tapi bukan hanya tentang foto yang menjadi motivasi saya mau menerima job tersebut, melainkan karena pengalaman moto (memotret) anak UIN Purwokerto baru sekali ini, bagi saya jangan sampai terlewat. Motivasi lain adalah bisa tau teritori seperti apa UIN SAIZU itu, sebelah manakah sudut yang epik untuk foto personal graduation. Sehingga jika diberikan napas dan kesempatan untuk poto-poto di UIN sudah sedikit paham. Sesuai prosedur sukuro.image, client diminta mengisi form yang lengkap dengan kontaknya. Pada Rabu siang, saya dikasih form yang sudah terisi masing-masing client. Saya mendapat jatah 3 client yang kebetulan semua cewek. ya beruntung si, bukan aji mumpung liat yang bening bening, tapi mendirect atau mengarahkan cowok (dalam berfoto), bagi saya itu sangat terbatas. Karena lengkap dengan kontak Whatsappnya, saya kofirmasi satu persatu.
Di sesi pagi: jam enam, ada satu client, yaitu Kak Dwi Khusnul Khotimah. “Assalamualaikum Mba Dwi, saya Anton dari sukuro.image. Saya besok pagi yang jatah memfoto Kak Dwi ya…” Kira-kira seperti itu sapaan awalnya melalui WA. Packing lengkap sudah, pakai jaket, manasi motor dua menitan laah. Mungkin tetangga juga mbatin “Kae bocah gasik temen arep mengdi.”
Satu hal yang yang tidak bisa terlewatkan adalah ngisi bensin dulu di SPBU Tamanwinangun. Saya ambil keputusan motoran lewat Kemranjen dengan waktu menunjukkan pukul 03.17 WIB dari Kebumen, saya ngecek jam supaya tau berapa lama saya berkendara. Hal yang bisa menjadi motivasi teman-teman pelajar adalah sekitar jam 4 kurang, saya sudah nanjak Kemranjen, Banyumas (jalannya memang naik-turun), ada beberapa siswa sudah berangkat sekolah, memakai seragam rapi (karena tidak memakai jaket, jadi terlihat mengenakan seragam sekolah).
Memotret Wisudawan UIN SAIZU
Gamis putih jemaah subuh menjadi hiasan pandangan pagi Purwokerto. Usai zikir singkat, para jemaah berjajar rapi memperhatikan kajian pagi bertema: “Menciptakan anak saleh berawal dari orang tua yang saleh.” Saya sambil nderes sitik, dan sribit-sribit mendengarkan kajian sehingga tahu judul kajian pagi di Masjid Agung Purwokerto. Merealisasikan untuk langsung ke Pondok DA gugur, karena saya kontak Mas Fajrul Alam pagi itu, ternyata sedang di Pabuaran, dan jam sudah menunjukan setengah enam, sedangkan jadwal foto sesi pagi jam enam. Yang saya realisasikan yaitu plan kedua yaitu ke Gedung FEBI UIN SAIZU, tanpa fafifu soalah biasa datang ke tempat tersebut. Duduk sembari mempersiapkan alat tempur, dan nge-chat Mba Dwi, “Mba Dwi sudah rawuh? saya tunggu di Gedung FEBI yaa…”
“Iya kak, saya sudah di tempat.” Mba Dwi mungkin sudah memperhatikan profil WA saya, jadi paham face saya yang mudah ditandai.
“Mas Anton ya?”
“Ooohh Mba Dwi Khusnul? Sudah siyap? Yook biar dapet gambar banyak”
“Jeprat… Jepret…. Yuk mba, geser ke pintu yukk. Oke Mba, saya ambil low angel yaa…”
“Mas, sudah ya… Saya belum makan.” Kata dia sambil merasa cukup untuk mengakhiri sesi foto di pagi hari.
“Tapi belum genap sejam Mba? Yakin udah cukup?” saya meyakinkan supaya benar-benar dia yang mengakhiri. Yang dijatah sejam tapi belum sejam sudah minta cukup.
“Oke Mba Dwi nanti di-follow up via kontak admin ya. Terima kasih kerja samanya di sesi pagi ini Mba Dwi. Mohon maaf atas segala kurangnya.” Saya pungkasi dengan demikian.
Terik semakin menyapa, menandakan waktu dhuha segera berakhir. Saya dan Mas Fajrul (setelah berhasil ketemuan) menjuju UIN SAIZU bagian Timur, singgah di Kopma, langsung order secangkir kopi hitam. Mas Fajrul dengan nutri sari jeruk dinginnya membuka laptop supaya terlihat produktif always. Saya muter ke gedung cari cari lokasi spot foto yang bagus. (Ya bagus, tapi lagi acara wisuda ya penuh dengan mobil-mobil wali mahasiswa yang hadir menyaksikan kebagiaan putra-putrinya wisuda). Satu persatu mahasiswa berjalan keluar dari Gedung Auditorium. Rampung iki wisan.
Giliran Mba Shintia yang awalnya di sesi jam setengah satu, maju menjadi jam setangah dua belas (acaranya udah selesai, langsung kita gas).
“Mba Shintia sudah keluar gedung acara? Kalau sudah keluar langsung info saya yaa..!” Pesan saya untuk menyegerakan sesi foto kedua.
“Oke kak, saya sudah di gedung FEBI bersama keluarga”. Balasnya dalam chat
Sesampainya di FEBI, tidak lama kemudian “Mas Anton ya, dari sukuro.image?”
“Yuk Mba Shintia, kita mainkan”.
“Bentar mas ini satu lagi”. (Wah ternyata anak kembar dari Gunung Kidul Yogyakarta si Shintia dan Shanti).
“Yuk kita selesaikan foto bareng keluarga dulu yaa..” Ucapku.
Jeprat-jepret. “Yuk ini tantenya yaa? Yuk om, saya ambil rapi formal dulu ya, satu jepret, dua jepret.” Kemudian, “Tinggal yang berdua, yuk di tangga sebelah.”
“Coba kalian jari kelingkingnya gandengkan Mba Shintia.” Jepret-jepret
“Mas Anton, kita udah ya..udah lebih dari satu jam ini”.
Belum saya jawab, tiba-tiba langsung ada yang nyaut, “Kak, saya Ashfi, iya Ashfi yang sesi ke-3″.
Langsung dong saya sampaikan terima kasih kepada si kembar. “Sampe jumpa di kesempatan bahagia lain waktu Mba Shintia dan Mba Shanti. Hati-hati pulangnya, jauh looo Gunung Kidul”.
Kali ini sesinya Mba Ashfi, “Yuk Mba Ashfi mana keluarganya?”
“Ini mas, ini kakak, ini adek cowok”
“Yaudah yok kita foto duduk dulu di tangga ya, buat formasi yang bagus.” Jepret-jepret lagi sampai di depan lift dan ke lantai tiga gedung FEBI. Dalam benak saya, “Wah ternyata rame juga ini yang indoor”. Mba Ashfi lebih dari satu jam, karena sesi akhir jadi saya maksimalkan semua spot gedung FEBI. “Kita bikin siluet ya Mba Ashfi di deket jendela.”
“Udah banyak ini ya Mba Ashfi, belum dhuhuran juga saya.”
“Oke mas, saya juga sudah capek, terima kasih banget, bagus nggak mas fotonya”
Saya langsung preview hasil jepretannya.
“Wah itu bagus, itu bagus juga, boleh langsung kirim gak mas?”
“Nanti follow up ke admin sukuro.image saja ya Mba Ashfi. Thankyu… Sorry kalau ada hal yang kurang berkenan ya Mba Ashfi. See you.”
Sudah selesai dong. Rampung, tiga sesi foto personal graduation di UIN SAIZU fisrt time ini. Karena ini merupakan pengalaman kali pertama saya memotret di UIN SAIZU, sayang rasanya jika tidak dituliskan dan menjadi saksi sejarah. Alamak, sok-sokan sekali diriku. Yang jelas saya merasa senang bisa berpartisipasi dalam kebahagian orang lain, meski lewat jeprat-jepret kamera. Karena keterbatasan manusia untuk mengingat dan mengabadikan suatu momentum kebahagian, maka foto & video serta tulisan mungkin setidaknya bisa memperpanjang usia kebahagiaan tersebut. Terima kasih. Sampai jumpa di cerita perjalanan selanjutnya.






Tukang foto sing gemagus