
Bogor–Mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Syariah IAI SEBI Bogor menjalin kolaborasi dengan pemilik UMKM Barbershop Waktu Cukur di Bogor Barat. Pendekatan partisipatif selama 22 hari (4–25 November 2025) melibatkan observasi proses operasional, wawancara pemilik, karyawan, dan pelanggan, serta dokumentasi suasana usaha. Metode ini mengikat empat pilar utama manajemen — pemasaran, operasional, SDM, dan keuangan untuk merumuskan rekomendasi aplikatif yang berdampak berkelanjutan.
Nilai ta’awun (tolong-menolong) merupakan prinsip utama ekonomi syariah, menekankan kerja sama untuk mencapai kesejahteraan. Semangat inilah yang dihadirkan dalam pendampingan ini: mahasiswa dan pelaku usaha saling membantu, menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam praktik bisnis sehari-hari.
Hasil observasi tim menunjukkan Barbershop Waktu Cukur unggul dalam kualitas layanan fisik seperti interior bersih dan sejuk, serta barber yang ramah. Layanan ini diapresiasi pelanggan dengan skor kebersihan toko rata-rata 4,9/5. Budi selaku pemilik usaha menuturkan bahwa renovasi interior bertujuan agar pelanggan merasa istimewa. Namun ia mengakui belum memahami pemasaran digital. “Kami sengaja pasang AC dan ubah interior supaya pelanggan merasa lebih nyaman. Tapi selama ini kami belum terlalu paham bagaimana memasarkannya secara digital”,ujarnya.
Kajian juga menemukan tantangan loyalitas pelanggan. Saat ini loyalitas lebih bergantung pada keahlian barber (red. kapster) individual. “Kalau barber andalan pindah, pelanggan biasanya ikut pindah juga”,ujar Budi yang menggambarkan risiko retensi tinggi. Belum ada program loyalitas formal, pelanggan lebih terikat pada individu daripada merek. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya menjaga loyalitas pelanggan di masa mendatang.
Secara operasional, manajemen toko masih sederhana. Belum ada SOP tertulis dan jam buka dapat bervariasi antar cabang, tergantung kebiasaan barber. Disiplin kerja lebih banyak diatur lewat rutinitas sehari-hari. Meski demikian, praktik kebersihan yang disiplin tetap diapresiasi pelanggan.
Pada aspek keuangan, pencatatan transaksi masih manual (buku harian) meski arus kas relatif stabil. Harga jasa potong rambut ditetapkan sederhana, walaupun terdapat perbedaan tarif antar cabang. Secara umum margin usaha cukup menutup biaya pokok seperti listrik dan sewa. Jika jumlah pelanggan terus bertambah, model pembukuan ini diperkirakan masih berkelanjutan.

Pengaplikasian Nilai Ta’awun untuk Bisnis Berkelanjutan
Berdasarkan temuan tersebut, tim mahasiswa mengusulkan langkah konkret untuk mendorong perkembangan Waktu Cukur dengan memadukan nilai Islam dan kaidah bisnis modern.
Pertama, Digitalisasi Pemasaran. Aktifkan media sosial -misalnya Instagram- dan Google Business. Bagikan konten foto before-after serta testimoni pelanggan untuk menjaring pasar lebih luas.
Kedua, Standarisasi Operasiona. Susun SOP tertulis untuk prosedur layanan, kebersihan, dan jadwal kerja. Dokumentasi ini memudahkan koordinasi antar cabang dan memastikan konsistensi kualitas layanan.
Ketiga, Penguatan SDM. Rekrut barber melalui uji kompetensi dan tetapkan modul pelatihan menyeluruh. Terapkan sistem penghargaan berbasis prestasi misalnya penghargaan bagi barber dengan kepuasan pelanggan tertinggi untuk mendorong profesionalisme (itqan) sebagaimana nilai Islam
Keempat, Pembukuan Modern. Beralih ke aplikasi pembukuan digital guna pencatatan keuangan yang akurat dan transparan. Langkah ini mempermudah analisis arus kas usaha dan mengajarkan disiplin keuangan kepada pemilik.
Kelima, Program Loyalitas Pelanggan. Ciptakan skema loyalitas sederhana, misalnya kartu stempel (potong 10 kali gratis 1 kali) atau paket membership. Pendekatan ini menjaga loyalitas tanpa bergantung pada individu, serta selaras dengan semangat ta’awun.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menginternalisasi nilai ta’awun secara nyata di lapangan. Pendekatan ini sejalan dengan semangat PKM yang pernah disampaikan: kampus tidak boleh menjadi “menara gading”, tetapi harus menjadi jembatan pemberdayaan masyarakat.
Ketua Prodi MBS, Abdi Triyono, menambahkan bahwa program ini menjadi contoh konkret penggabungan teori manajemen syariah dengan aksi sosial. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi langsung mengamalkannya dalam mewujudkan nilai ta’awun di masyarakat,” ujarnya.
Budi selaku pemilik Waktu Cukur menyambut baik pendampingan ini. Ia mengapresiasi antusiasme mahasiswa dalam membantu usaha mikro: “Pendampingan ini membuka wawasan baru bagi kami dalam memahami manajemen syariah, pemasaran modern dan model bisnis berkelanjutan” tuturnya. Inisiatif kolaboratif semacam ini menggabungkan semangat sosial-keagamaan dengan kewirausahaan mikro secara nyata. Transformasi Waktu Cukur melalui intervensi akademik tidak hanya meningkatkan efisiensi bisnis, tetapi juga menumbuhkan semangat tolong-menolong antar mahasiswa dan pelaku usaha, menciptakan laboratorium bisnis syariah yang etis dan berkelanjutan.



