“Saya Seniman di Jalur Perlawanan”: Aldy Amis Bawa Tour Mimbar Jalanan ke BIL Fest 2026 Purwokerto

PURWOKERTO – Musisi folk sekaligus penulis lagu nyentrik, Aldy Amis, hadir dalam rangkaian BIL Fest 2026 pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kehadirannya menjadi bagian dari tur album Mimbar Jalanan, sebuah proyek musik yang mengangkat berbagai keresahan sosial, politik, dan realitas yang terjadi di Indonesia saat ini.

Melalui sesi sharing session dan penampilan musik di BIL Fest, Aldy tidak hanya membawakan lagu-lagu dari album Mimbar Jalanan, tetapi juga mengajak audiens berdiskusi tentang keberanian bersuara, kebebasan berekspresi, serta pentingnya literasi bagi generasi muda.

Saat ditanya mengenai kondisi Indonesia saat ini, Aldy mengaku banyak gagasan dalam album Mimbar Jalanan lahir dari kegelisahannya terhadap situasi sosial dan politik yang sedang berlangsung.

“Kalau melihat Indonesia sekarang rasanya seperti kembali ke masa sebelum reformasi. Bedanya kalau dulu terang-terangan, sekarang lewat keheningan. Di luar dibuat tenang, di dalam juga dibuat tenang. Tidak ada yang bersuara,” ujarnya.

Menurut Aldy, album tersebut awalnya ditulis untuk lingkaran keluarganya sendiri yang memiliki latar belakang politik. Namun, pesan yang ia sampaikan ternyata juga dirasakan oleh banyak orang di luar lingkungan terdekatnya.

“Aku tidak punya tujuan membuat perubahan besar. Setidaknya ada sedikit pemantik bahwa ternyata kita bisa berbicara seperti ini dan tidak perlu takut,” katanya.

Nama Mimbar Jalanan sendiri memiliki cerita yang unik. Aldy mengaku mendapatkan ide tersebut ketika menghadiri shalat Jumat dan memperhatikan seorang khatib yang sedang menyampaikan ceramah di atas mimbar.

“Kalau jadi ustaz kan tidak mungkin. Akhirnya saya berpikir, ya sudah saya bikin saja album yang namanya Mimbar Jalanan. Makanya setiap tampil saya membawa mimbar ke atas panggung,” ungkapnya.

Dalam sesi sharing session, Aldy juga menjelaskan alasan di balik penyelenggaraan tur Mimbar Jalanan ke berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, sejumlah materi yang biasa ia bawakan di wilayah Jabodetabek sering kali mengalami pembatasan.

“Kalau di Jabodetabek banyak set yang sudah dicoret-coret. Makanya saya bikin tur Mimbar Jalanan ke berbagai daerah supaya orang bisa mendengar Aldy Amis versi non-filter,” jelasnya.

Purwokerto menjadi salah satu kota yang masuk dalam daftar tur berdasarkan data pendengar musiknya. Aldy mengungkapkan bahwa nama Purwokerto muncul dari analitik Spotify yang menunjukkan tingginya jumlah pendengar dari wilayah tersebut.

“Awalnya sebenarnya tidak mau ke sini karena jalurnya berbeda sendiri. Tapi saya belum pernah ke Purwokerto, akhirnya saya coba datang. Ternyata seru juga,” katanya.

Meski dikenal dengan lirik-lirik yang berani dan kerap menyinggung isu sensitif, Aldy mengaku sudah memahami berbagai konsekuensi yang mungkin muncul dari karya-karyanya. Bahkan, beberapa pengalaman tidak menyenangkan pernah ia alami secara langsung.

“Sudah terjadi semua. Pernah kena somasi, pernah juga manggung di Surabaya lalu dibubarkan. Di beberapa kota bahkan baru lagu keempat sudah diminta berhenti,” ungkapnya.

Ketika moderator menanyakan apakah dirinya lebih memilih disebut aktivis atau musisi, Aldy memberikan jawaban yang disambut tepuk tangan peserta.

Meski demikian, Aldy menegaskan bahwa musik tetap menjadi medium utama untuk menyampaikan gagasan dan keresahannya terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.

Tak hanya berbicara soal kritik sosial, Aldy juga menyampaikan pesan khusus bagi anak-anak muda yang sedang berjuang di dunia seni dan kreatif.

“Untuk teman-teman yang hidup untuk seni, jangan pernah berhenti. Kita tidak pernah tahu kapan akan berhasil. Kalau kamu berhenti hari ini, siapa tahu sebenarnya kamu akan berhasil besok,” pesan Aldy.

Pesan dan gagasan yang dibawa Aldy ternyata mendapat respons positif dari para pengunjung BILFest yaitu Asmi dan Haikal.

“Ini kali pertama saya mendengarkan Aldy Amis. Sebelumnya belum pernah dengar, dan ini juga pertama kalinya saya melihat penampilannya secara langsung. Karya-karyanya bagus dan mengingatkan saya untuk tetap melawan,” ujar Asmi.

Menurut asmi, kehadiran Aldy Amis menjadi pengalaman yang menarik karena musik yang dibawakan tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pendengar untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

Ia juga mengapresiasi BIL Fest yang menghadirkan ruang literasi sekaligus ruang diskusi melalui musik.

“Bagus juga untuk BIL Fest karena bisa menyebarkan hasil literasi kepada lebih banyak orang dan meningkatkan minat literasi masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, haikal sendiri mengaku telah mengikuti karya Aldy Amis sejak lama. Baginya, kehadiran Aldy di BIL Fest terasa relevan dengan situasi Indonesia saat ini.

“Seru karena saya memang sudah cukup lama mendengarkan Aldy Amis. Apalagi Aldy hadir di BIL Fest pada masa-masa Indonesia seperti sekarang. Rasanya pas banget dengan kondisi yang sedang terjadi,” tuturnya.

Selain berbagi cerita tentang musik dan perlawanan, Aldy juga menyoroti pentingnya literasi di tengah perkembangan dunia digital. Menurutnya, akses informasi yang semakin mudah perlu diimbangi dengan budaya membaca yang kuat.

“Satu buku bisa memberikan seribu imajinasi. Semoga acara seperti BIL Fest semakin banyak karena ruang literasi seperti ini penting untuk terus dijaga,” ujarnya.

Menutup sesi kunjungannya di Purwokerto, Aldy berharap BIL Fest dapat terus berkembang dan menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat yang mencintai seni, musik, dan literasi.

Melalui tur album Mimbar Jalanan, Aldy Amis menunjukkan bahwa musik tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga medium refleksi dan keberanian untuk bersuara. Di hadapan peserta BIL Fest, ia membawa satu pesan sederhana: seni akan selalu menemukan jalannya untuk menyampaikan kebenaran, selama masih ada orang-orang yang berani mendengarkan.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaktur Wiwit Ayu Puspitasari

Jurnalis Official Banyumas International Literacy Festival 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *