Monolog untuk BIL Fest 2026 Niatan Selamet
Saya sering berpikir bahwa tidak semua peristiwa lahir hanya sebagai agenda. Ada yang datang seperti sebuah pertanda, seolah mengajak kita berhenti sejenak untuk melihat kembali ke mana arah langkah kita. Di tengah zaman yang begitu gaduh, ketika kita semakin sering berbicara tentang kemajuan tetapi semakin jarang mendengarkan suara alam, kehadiran Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) 2026 terasa seperti jeda yang penting. Sebuah ruang untuk membaca ulang diri sendiri, membaca tanah tempat kita berpijak, dan membaca masa depan yang sedang kita siapkan untuk generasi berikutnya.
Mungkin karena itu pula tema Niatan Selamet terasa begitu pas. Bagi saya, tema ini bukan sekadar slogan yang dipasang di baliho atau dicetak dalam buku acara. Ia lebih mirip sebuah doa. Doa yang diucapkan bersama-sama. Sebuah pengingat bahwa setiap ikhtiar besar selalu berawal dari niat yang baik. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa nilai sebuah amal tidak hanya ditentukan oleh hasilnya, tetapi juga oleh niat yang melandasinya. Maka ketika literasi bertemu dengan niat yang baik, ia tidak lagi sekadar menjadi kegiatan membaca dan menulis, melainkan jalan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Ketika berbicara tentang Banyumas, pikiran saya selalu tertuju pada Gunung Slamet. Gunung itu berdiri tenang di kejauhan, seolah menjadi saksi yang tak pernah lelah mengamati perjalanan waktu. Sudah berapa banyak generasi yang tumbuh di bawah naungannya? Sudah berapa banyak kehidupan yang bergantung pada air yang mengalir dari tubuhnya? Sungai-sungai yang menghidupi sawah dan kebun, hutan yang menjaga kesejukan, serta tanah yang memberi ruang bagi manusia untuk hidup dan berkembang.
Saya sering merasa bahwa Gunung Slamet adalah guru yang tidak banyak bicara. Ia mengajar tanpa kata-kata. Pelajarannya hadir melalui air yang mengalir, tanah yang subur, dan udara yang kita hirup setiap hari.
Karena itu, membaca Gunung Slamet sebenarnya sama dengan membaca sebuah kitab ekologis yang terbuka. Dari lerengnya kita belajar tentang keteguhan. Dari mata airnya kita belajar tentang memberi tanpa banyak meminta kembali. Dari hutannya kita belajar bahwa kehidupan selalu terhubung satu sama lain. Tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri. Semua saling menopang dalam sebuah jalinan yang kadang rapuh, tetapi justru karena itulah harus dijaga.
Di titik ini saya melihat BIL Fest 2026 memiliki makna yang lebih dalam. Festival ini bisa menjadi ruang untuk mengingat kembali apa yang saya sebut sebagai Sumbu Ekologis Gunung Slamet. Jika ada kota yang memiliki sumbu filosofis sebagai penanda arah kebudayaannya, maka Banyumas memiliki sumbu ekologis yang menghubungkan gunung, hutan, sungai, sawah, desa, dan manusia dalam satu kesatuan kehidupan. Gunung Slamet berada di pusat hubungan itu. Ia menjadi poros yang selama ini menopang kehidupan, meskipun sering kali keberadaannya dianggap biasa saja.
Padahal, sumbu itu perlahan mulai kabur dari kesadaran kita. Terlalu sering kita melihat pembangunan hanya dari angka-angka pertumbuhan ekonomi. Kita lebih mudah menghitung keuntungan daripada menghitung apa yang hilang. Kita lebih cepat melihat nilai pasar daripada nilai kehidupan. Tambang pasir yang terus bergerak naik ke lereng, eksploitasi ruang hidup, dan berbagai bentuk pengambilan sumber daya alam atas nama kemajuan menjadi tanda bahwa hubungan kita dengan alam sedang mengalami keretakan.

Di sinilah saya merasa literasi menjadi sangat penting. Literasi tidak sekadar soal kemampuan membaca buku. Literasi adalah kemampuan membaca kenyataan realitas. Kemampuan memahami hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Dengan literasi, kita bisa melihat bahwa kerusakan hutan di hulu tidak berhenti di sana; ia akan menjelma menjadi banjir di hilir. Kita bisa memahami bahwa hilangnya mata air bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah sosial, ekonomi, bahkan kebudayaan.
Karena itu, bagi saya BIL Fest 2026 bukan sekadar festival membaca dan menulis. Ia adalah ruang untuk menyalakan kembali kesadaran. Ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan dan tanggung jawab. Ruang yang mengingatkan bahwa pengetahuan seharusnya tidak berhenti sebagai informasi yang menumpuk di kepala, tetapi tumbuh menjadi kebijaksanaan yang membimbing tindakan.
Jika harus menggambarkannya dalam dua kata, saya melihat BIL Fest sebagai doa dan nyala api. Doa karena ia lahir dari harapan tentang masa depan yang lebih selamat, lebih adil, dan lebih beradab. Nyala api karena setiap gagasan yang lahir di dalamnya memiliki kemungkinan untuk menerangi dan menggerakkan. Bukan api yang membakar, melainkan api yang memberi cahaya. Bukan api yang menghancurkan, melainkan api yang menghidupkan.
Barangkali di situlah makna terdalam dari Niatan Selamet. Keselamatan tidak datang begitu saja. Ia tidak lahir dari kepasrahan yang pasif. Keselamatan lahir dari kesediaan untuk terus belajar, membaca, memahami, dan bertindak. Ia tumbuh dari hubungan yang sehat antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam yang menjadi rumah bersama.
Maka ketika para pegiat literasi, penulis, pembaca, peneliti, seniman, dan masyarakat berkumpul di BIL Fest 2026, saya merasa mereka sedang melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar menghadiri sebuah festival. Mereka sedang merawat sebuah hubungan. Mereka sedang menjaga agar ikatan antara ilmu, kebudayaan, dan alam tidak terputus oleh arus zaman.
Dan di bawah naungan Gunung Slamet yang tetap teguh berdiri, saya membayangkan BIL Fest 2026 sebagai sebuah pengingat sederhana, bahwa peradaban selalu dimulai dari hal-hal yang tampak kecil. Dari niat yang baik. Dari doa yang tulus. Dan dari nyala api kesadaran yang terus dijaga agar tidak pernah padam.



