PURWOKERTO — Rangkaian acara Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) 2026 kembali menyuguhkan ruang diskusi yang edukatif dan mendalam bagi publik. Tepat pukul 10.20 WIB, sesi diskusi bertajuk Bincang Inspiratif resmi dibuka di outdoor venue Hetero Space Purwokerto, Sabtu, (13/06/2026). Meski cuaca terpantau mendung, atmosfer di lokasi acara justru terbangun dengan syahdu dan khidmat.
Diskusi kali ini mengusung tema “Kearifan Lokal Banyumas Melalui Lensa Kebahasaan” dengan menerapkan format yang santai. Konsep ini sengaja dipilih untuk mencairkan sekat pembatas antara pembicara dan audiens yang hadir. Tercatat sekitar puluhan peserta duduk melingkar dengan lesehan mengikuti jalannya acara. Sesi edukatif ini menghadirkan peneliti kebahasaan, sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (FIB Unsoed) Gita Anggria Resticka, sebagai pemateri utama dengan dipandu oleh budayawan sekaligus penyair Banyumas, Wanto Tirta.
“Bahasa daerah memegang peran yang sangat penting dalam lensa kebangsaan. Bahasa lokal bukan sekadar instrumen komunikasi transaksional sehari-hari, melainkan sebuah ruang sakral yang menyimpan memori kolektif dan kearifan lokal suatu masyarakat,” ujar Gita.
Melalui pendekatan ilmiah kebahasaan, sebuah kosakata sederhana yang hidup di sekitar kita sebenarnya mampu mencerminkan pandangan hidup, nilai adat, hingga keterikatan emosional masyarakat setempat terhadap lingkungannya.
Gita mencontohkan bagaimana masyarakat agraris di wilayah Banyumas merawat hubungan spiritual mereka dengan alam.
Struktur kebudayaan tersebut dapat dibedah secara mendalam hanya dari satu unit leksikon atau kosakata saja. Wanto kemudian memperkuat argumen tersebut dengan menyodorkan fakta riil di pedesaan Banyumas. Ia menjelaskan bahwa lingkaran kehidupan masyarakat setempat selalu diikat oleh tradisi selamatan yang terekam kuat dalam istilah bahasa tutur mereka. Praktik ini meliputi siklus pertanian seperti mimiti (sebelum panen), ndaut (mencabut benih), dan nandur (menanam), hingga siklus lingkaran hidup manusia seperti meteng (kehamilan), mapati, dan mitoni (tujuh bulanan). Semua istilah kebahasaan ini membuktikan bahwa bahasa lokal berfungsi mengunci memori tradisi agar tidak lekang oleh zaman.
Diskusi di pelataran Hetero Space berkembang ketika salah satu audiens, Alvin, melayangkan pertanyaan mengenai garis demarkasi atau pembatas antara wilayah tradisi dan teologi agama. Alvin menyoroti fenomena Selamatan di akar rumput yang kerap memicu perdebatan mengenai batas akulturasi budaya dan dogma agama.
Kemudian Gita menyodorkan fakta sosiologis dari kantong-kantong masyarakat adat di Banyumas, seperti di kawasan Cikakak dan Tambaknegara. Melalui bukti sejarah keberadaan Masjid Saka Tunggal yang memiliki angka tahun 1288 di tiang utamanya, terekam jelas jejak transisi pengaruh Hindu ke Islam. Situs petilasan dan istilah sakral yang masih dirawat hingga hari ini menjadi bukti konkret bahwa akulturasi budaya di tanah Banyumas telah mengakar sejak lama. Diskusi mengenai batasan agama dan budaya ini pun ditutup secara damai lewat bait parikan Jawa yang mengingatkan audiens bahwa tradisi unik warisan leluhur tidak perlu dipertentangkan dengan keyakinan spiritual.
Atmosfer Bincang Inspiratif berubah menjadi lebih tajam saat Jufri, menyampaikan keresahan budayanya. Ia melayangkan gugatan kultural mengenai nasib dialek Banyumasan yang sering kali diberi stigma sebagai bahasa yang kasar dalam pergaulan sosial. Padahal, menurut Jufri, esensi utama dari dialek ngapak adalah manifestasi nilai kemanusiaan yang sangat egaliter, di mana semua manusia yang lahir memiliki derajat yang setara tanpa sekat kasta. Jufri juga mengkritik kurikulum Muatan Lokal (Mulok) di sekolah-sekolah wilayah Banyumas Raya yang diwajibkan mengajarkan standar dialek wetan (Solo-Jogja), sehingga dialek lokal kehilangan porsi di tanah kelahirannya sendiri.
“Langkah taktis dan struktural yang telah ditempuh para pegiat budaya. Sejak tahun 2016, upaya revitalisasi terus digodok bersama Balai Bahasa Jawa Tengah hingga akhirnya sejak tahun 2022, dialek Banyumasan resmi masuk ke dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI),” terang Wanto.

Selain itu, tokoh budaya setempat juga sepakat menggunakan istilah Bahasa Panginyongan untuk memayungi wilayah tutur dari Brebes hingga Kebumen guna mengikis stigma negatif kata ngapak. Tim kurikulum bahkan telah menerbitkan buku panduan muatan lokal sekolah berjudul “Inyong Sapa, Rika Sapa” sebagai media pembelajaran formal, meskipun penetrasinya ke tingkat SMP dan SMA masih menemui kendala keterbatasan tenaga pengajar asli daerah.
Melihat dari lensa kebahasaan, Gita menegaskan kembali bahwa secara literatur ilmiah dialek Banyumasan merupakan turunan langsung yang dekat dengan Bahasa Jawa Kuno. Berdasarkan data sekunder dari Kamus Suk Mulder, penutur asli Jawa Kuno menggunakan kata “Ingong” untuk menyebut kata ganti orang pertama (aku). Struktur purba inilah yang dipertahankan menjadi kata “Inyong” oleh masyarakat Banyumas, sementara di wilayah lain penuturnya sudah punah. Secara fonologi, karakteristik ngapak sendiri muncul akibat konsonan hambat di akhir kata diucapkan secara tegas dan jelas, seperti pada kata endog (telur) atau keset.
Melalui riset dialektologi menggunakan instrumen 200 kosakata Swadesh dan 800 kosakata budaya dasar, tim peneliti berhasil memetakan kantong bahasa di Banyumas bagian selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah dengan mobilitas penduduk rendah justru sukses mempertahankan kosakata kuno yang memiliki variasi leksikon sangat kaya, termasuk ragam variasi kata makna.
Menariknya, Wanto Tirta selaku moderator memilih untuk tidak menarik kesimpulan formal di akhir sesi. Menurutnya, kesimpulan yang kaku justru akan mengunci ruang pemikiran kreatif. Ia memilih membiarkan seluruh gagasan mengenai kearifan lokal tersebut tetap mengalir bebas dan tumbuh di dalam sanubari ke-36 peserta yang hadir.
Sebagai gantinya, Kang Wanto menutup sesi dengan membacakan sebuah geguritan:
“Banyumas butah getih inyong.
Rol ikur Februari ngemu sejarah wigati.
Ya kuwe dinamadhege Banyumas tumekasih,
Raden Jaka Kaiman sing kapisan jumeneng bupati.
Satria sejati luhur budi tumindak tulus bakti nagari.
Inyong rika wong cablak blakas uga,
Ngucap apa sing ada lan tuwacok.
A diwaca a, O diwaca o, cetha wela-wela tegas.
Ora kedingali-aling ngetokna gagah.
Tresna maring utah getih bumi pertiwi dibelani,
Sedumuk batuk senyari bumi tanpa wates lan pamrih.
Urip guyub najan beda suku, ras, agama, kapercayaan,
Pada-pada ngajeni bebarengan ing urip bebrayan.
Sapa bae ngganggu kamardikan negara bakal inyong tendang lan tak cincang,
Rawe-rawe rantas malang-malang putung.
Lemah subur kadang tani rajin tetandur,
Warga seneng nyambut gawe manggon,
Sing penting halal ora wedi kesel bisa isel.
Gotong royong sugih mlarat dadi siji bangun desa.
Maneka warna seni, budaya, lan panganan dadi klangenan wong-wong plesiran,
Sesawangan alam sing endah gawe wisatawan betah.
Matur nuwun.”
Pembacaan geguritan tersebut disambut oleh tepuk tangan riuh dari seluruh peserta, sekaligus mengunci komitmen kolektif di BIL Fest 2026 untuk terus merawat bahasa ibu dan bangga terhadap identitas Panginyongan di tanah kelahiran sendiri.




