PURWOKERTO – Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) 2026 telah sampai di hari keempat, sesi kali ini berada di panggung utama area outdoor Hetero Space Purwokerto, Minggu, (14/06/2026). Dengan kondisi cuaca yang cerah dan hembusan angin lembut, program Bincang Inspiratif bertajuk “Seeing Religion through Cultural Glasses” sukses mempertemukan nalar kritis masyarakat dengan dinamika kultural paling mutakhir.
Dipandu secara taktis oleh Saeful Huda (Huda) selaku moderator, serta Miranti Rohmanda (peneliti alumni S2 Ilmu Susastra Universitas Indonesia) untuk menguliti bagaimana agama hari ini tidak lagi dipandang secara kaku dan sebagai doktrin, melainkan hidup dan bernapas melalui kebudayaan populer serta media digital.
Acara ini memang dirancang untuk menantang cara pandang audiens agar melihat ekspresi religiusitas secara lebih luwes, inklusif, dan kontekstual di tengah pergeseran zaman.
Sesi talkshow interaktif dibuka dengan santai namun menukik tajam. Saeful Huda memantik ruang dengar penonton dengan membaca rekam jejak akademis Miranti yang sekilas tampak jauh dari urusan teologi. Lahir di Banyumas pada tahun 1998, Miranti merupakan lulusan S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang aktif di Teater Texas, sebelum akhirnya mendalami teori kritis kebudayaan di Universitas Indonesia.
“Dari rekam jejak akademisnya, hampir tidak ada yang berbau agama. Mengapa tiba-tiba Mbak Miranti mengkaji budaya yang berbau agama Islam?” tanya Huda.
Pertanyaan itu membuka ruang refleksi personal bagi Miranti. Ia kemudian membagikan kisah masa lalunya yang pernah mengecap pendidikan di jurusan Perbandingan Agama serta sempat menjadi santri mukim di sebuah pondok pesantren salaf di kawasan Gunung Lurah selama setahun. Baginya, mengkaji agama lewat kacamata budaya cultural glasses bukan untuk mengadili kesucian doktrinnya, melainkan untuk mengutak-atik agensi, yaitu perilaku manusia yang menghidupinya.
Memasuki sub-bahasan How About Religion Today?, diskusi mulai bergeser ke arah fenomena budaya penggemar berbasis spiritualitas, yakni fandom Shalawat atau fans Sholawatan. Saeful Huda yang mengaku sebagai bagian dari saksi sejarah perkembangan Syekhermania Purwokerto hingga Fadar Mania, membedah bagaimana konser sholawatan lapangan dengan panggung megah kini menjadi penyuplai dopamin atau ruang hiburan ekspresif bagi anak muda.
Namun, Miranti menyodorkan data riset lapangannya yang mencatat adanya penurunan eskalasi konser shalawat lapangan di Jawa Tengah. Penurunan ini tidak hanya dipicu oleh pergeseran tren remaja usia 14-15 tahun ke platform digital seperti game online Roblox, tetapi juga akibat hantaman konflik sosial religius yang dipantik oleh polemik Nasab Ba’alawi belakangan ini.
Ketegangan intelektual di Hetero Space memuncak ketika diskusi beralih ke topik We Are All the Celebrities, yang menyerempet sisi historisitas dan komodifikasi politik di balik “Hari Santri”. Miranti secara berani menyatakan bahwa perayaan tahunan ini kerap direduksi oleh negara sebagai instrumen penjinakan massa.
“Secara gamblang, arahnya memang kesana. Seremonial Hari Santri itu ibarat pemberian ‘kue’ dari pemerintah bagi kaum santri. Untuk apa? Ya untuk dimakan saja, agar setelah kenyang kita menjadi diam dan manut pada apapun kemauan pemegang otoritas dominan,” ujar Miranti Rohmanda
Kritik tersebut dipertegas oleh Huda yang menganggap fungsi anti-radikalisme dari perayaan Hari Santri baru tercapai sekitar 20% saja, sisanya habis menguap dalam upacara formalitas. Huda bahkan membandingkan komodifikasi simbolik ini dengan taktik totalitarianisme Orde Baru yang menggunakan Pancasila secara total sebagai alat pendisiplinan warga negara.

Menjelang akhir sesi, Miranti melontarkan sebuah premis futuristik yang menjadi ruh utama dari topik pergeseran otoritas digital. Ia menyebutkan bahwa lanskap teknologi hari ini telah melahirkan kondisi sosiologis di mana jagat digital bertindak sebagai ruang pertama, sementara ruang fisik beralih menjadi sebuah hak istimewa (privilege).
“Aku dan Mas Huda sama-sama seleb karena kita punya media yang sama. Apa bedanya aku dengan para Habib yang punya Instagram? Kita semua punya panggung digital,” cetus Miranti.
Pudarnya sekat struktural ini membuat kuantitas (seperti jumlah pengikut atau followersnya) kerap kali disalah artikan sebagai kompas kebenaran, sehingga mengaburkan batas antara yang sahih dan yang keliru.
“Bagaimana jika kebudayaan populer digital dan kehadiran AI (Artificial Intelligence) dibedah melalui kacamata agama tradisional?” Huda mengutip pakem klasik ormas keagamaan yang menganggap bahwa belajar agama secara mandiri lewat teks digital dan mesin pintar tanpa bimbingan guru fisik adalah tindakan fatal senada dengan tamsil kuno bahwa “siapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan”
“Ada tidak sih solusi dalam kacamata agama Mbak Miranti untuk menggeser otoritas media digital dan AI ini agar bisa balik lagi ke otoritas yang sebagaimana mestinya berjalan sebelumnya?” tanya Huda.
“Nggak ada solusi untuk mengembalikannya, karena kita pasti akan menjadi manusia yang baru dengan itu. AI itu kan juga machine learning, mereka bisa belajar dari jutaan data teks, tetapi mereka tidak bisa menciptakan esensi manusia. Di situlah batasnya,” tegas Miranti.
Bagi Miranti, ketika moralitas lama digunakan untuk menghakimi digitalisasi, kita hanya akan berputar-putar dalam kebingungan. Satu-satunya cara bagi manusia modern untuk tidak terombang-ambing oleh kaburnya kebenaran di ruang siber adalah dengan kembali menapak bumi, membangun komunitas kecil di ruang fisik, berjejaring tatap muka, dan merawat relasi yang nyata.
Huda kemudian memberikan ucapan penutup untuk menutup sesi Bincang Inspiratif pada siang hari ini.
“Semoga dengan adanya pembahasan kita kali ini membuka cakrawala baru. Kita tidak lagi memandang siapa yang benar dan siapa yang salah, karena memang kebenaran mutlak hanya milik Tuhan, bukan milik kita. Mungkin tugas kita di era digital ini bukan terburu-buru menghakimi melainkan terlebih dahulu memahami. Karena memahami adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan,” harapnya.



