Seni Pertunjukan Kontemporer Syakirinu, Geliatkan Literasi Anak di BIL Fest 2026

PURWOKERTO – Duet kreator Syakirinu, Danu dan Syakirina, menghidupkan ekosistem literasi anak lewat seni pertunjukan kontemporer dalam perhelatan Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) yang berlangsung di Hetero Space Banyumas, Purwokerto, Minggu, (13/06/2026). Festival akbar ini hadir sebagai respons kreatif untuk menjawab tantangan era digital abad 21 yang menggerus kebiasaan membaca buku serta ruang srawung anak di lingkungan keluarga.

Melalui medium seni peran teater, pantomim murni, dan narasi tutur yang kuat, mereka berupaya menstimulasi kognitif sekaligus mengaktifkan imajinasi di dalam kepala anak. Aksi panggung yang interaktif ini menjadi bagian dari gerakan redefinisi metode literasi konvensional agar menjadi ruang edukatif serta inklusif bagi masyarakat Banyumas.

Ketenangan dan keceriaan cerita disajikan semaksimal mungkin di atas permukaan air tanpa boleh ada riak panik yang bocor ke penonton. Sementara di bawah air, batin dan pikiran mereka mengayuh luar biasa cepat, menyelaraskan tektokan spontan, serta menahan gejolak emosi pribadi.

“Kami di Syakirinu diumpamakan seperti bebek berenang di atas tampak tenang tapi di kakinya sangat lincah berpikir keras membaca situasi,” ungkap Danu mengenai analogi visual dari jam terbang panggung mereka.

Chemistry jam terbang yang kuat ini terbukti efektif bertransformasi menjadi jaring penyelamat ketika mereka beraksi di atas panggung festival. Jika salah satu dari mereka sedang drop, partner panggungnya langsung tanggap mengambil alih porsi energi panggung lewat improvisasi yang lebih heboh.

Langkah taktis tersebut diambil agar beban panggung terpikul bersama tanpa sedikit pun disadari oleh seluruh penonton yang hadir. Keberhasilan menjaga atmosfer ini sangat penting karena bagi Syakirinu, keliaran imajinasi anak-anak adalah sebuah kemurnian yang kini sedang terancam punah oleh algoritma.

Anak-anak zaman sekarang menghadapi musuh terbesar berupa pudarnya kebiasaan-kebiasaan mendasar di dalam lingkungan keluarga mereka sendiri. Hal inilah yang membuat BIL Fest 2026 menjadi medan perang kreatif yang sangat krusial untuk merebut kembali jiwa-jiwa jujur anak.

“Ehm intinya dunia anak itu dunia yang bagiku harus dijaga baik-baik karena di jaman sekarang gempuran musuhnya banyak banget,” kata Danu menjelaskan.

Ia juga menambahkan bahwa problem tersebut tidak cuma masalah predator atau pendidikan yang belum merata, tetapi justru di internal sendiri bagaimana anak-anak tidak dibiasakan untuk serawung (bersosialisasi).

“Membaca itu punya kekayaan imajinasi kekayaan literasi dan literasi yang jauh lebih tinggi. Jadi monggo kita ngajak anak-anak untuk membaca bersama,” ujar Danu.

Dalam pementasan tersebut, Syakirinu menghidupkan mahakarya klasik dunia dongeng Indonesia berjudul “Pedagang Peci Kecurian” buah pena maestro Pak Raden. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan seorang pedagang peci yang lelah lalu memutuskan beristirahat dan tertidur di bawah sebatang pohon rindang.

Tanpa disadari oleh sang pedagang, pohon tempatnya melepas lelah tersebut merupakan tempat tinggal sekelompok monyet usil yang gemar meniru. Panggung BIL Fest mendadak riuh saat Danu memperagakan gestur monyet garuk-garuk kepala sambil memakai peci imajiner.

“Saat pedagang terbangun, ia terkejut setengah mati melihat seluruh peci di dalam bakulnya telah rahab,” tutur Syakirina saat menggambarkan puncak konflik dongeng klasik tersebut.

Melalui trik kecerdikan spontan dengan melempar peci ke tanah, sang pedagang akhirnya berhasil mendapatkan seluruh dagangannya kembali karena ditiru kawanan monyet. Pertunjukan menghibur ini secara tidak langsung mengajarkan anak-anak tentang pentingnya ketenangan serta kecerdikan dalam menyelesaikan masalah tak terduga.

Setelah karya lokal selesai, Syakirinu membawa penonton masuk ke narasi modern bertaraf internasional lewat dongeng kedua berjudul “Cats and Dogs”. Cerita multimedia ini merupakan hasil adaptasi kreatif dari buku digital gratis yang tersedia di aplikasi literasi global Let’s Read.

Secara garis besar, dongeng modern tersebut menyoroti dinamika relasi dan petualangan antara kelompok kucing dan anjing yang sering dianggap tidak pernah akur. Fokus cerita dikemas segar dengan mengeksplorasi tema seputar persahabatan, cara mengelola perbedaan rasa, hingga keindahan berkolaborasi di lingkungan baru.

“Keunikan dongeng kedua ini terletak pada keliaran improvisasi kami yang meruntuhkan batasan skrip asli,” jelas Syakirina.

Mereka bahkan mengajak anak-anak ikut menentukan pilihan nasib sang karakter lewat goresan warna-warni krayon imajiner seperti adegan melukis pelangi. Buku yang awalnya berupa teks digital di layar gawai berhasil disuapkan menjadi pengalaman panggung yang merangsang anak membuka aplikasi membaca di rumah.

Perhelatan ini dinilai sukses menjelma menjadi ruang inklusif yang mempertemukan berbagai pelaku literasi, penerbit indie, dan komunitas kreatif untuk saling srawung. Syakirina mengaku sangat tersentuh melihat antusiasme para ayah dan ibu di Purwokerto yang mau meluangkan waktu khusus mendampingi anak mereka.

Bagi mereka, pemandangan orang tua yang duduk bersama menikmati pertunjukan dongeng adalah momen berharga di tengah sibuknya era digital. Selain itu, mereka juga terkesan melihat perkembangan industri buku anak saat ini yang sudah jauh lebih keren, profesional, dan berbobot.

Buku anak masa kini tidak lagi digarap seadanya melainkan melibatkan ilustrator andal dengan tema kaya mulai kesehatan mental hingga pengelolaan emosi.

“Hal inilah yang membuat buku anak masa kini juga sangat relevan dan asyik dinikmati oleh orang dewasa,” ucap Syakirina.

Harapan terbesar dari Syakirinu adalah agar Banyumas International Literacy Festival ini tidak berhenti sebagai gerakan sesaat melainkan konsisten diadakan setiap tahun. Festival tahunan ini dinilai sangat krusial untuk terus memberikan ruang bagi masyarakat Banyumas dalam mengakses literasi yang menyenangkan.

Ke depan, mereka berharap BIL Fest bisa melahirkan inovasi ruang diskusi bebas salah satunya melalui sesi menonton karya seni bersama.

“Sesi menonton bersama baik seni pertunjukan, tari, teater anak, maupun film lalu dibedah bisa menjadi medium literasi alternatif yang ampuh,” papar Danu terkait usulan inovasi program di masa depan.

Inovasi tersebut dipercaya dapat menarik minat masyarakat luas yang mungkin selama ini belum sepenuhnya akrab dengan dunia buku fisik. Selain inovasi ruang diskusi, mereka juga berharap pihak penyelenggara dapat mengundang lebih banyak lagi pegiat literasi anak tingkat nasional.

Langkah merangkul penerbit buku anak independen yang progresif, seperti komunitas dari Yogyakarta, dinilai akan membuat ekosistem literasi Banyumas semakin maju. Kolaborasi budaya ini diharapkan mampu meletakkan pondasi berharga agar anak-anak berani menanggalkan gawai sejenak dan kembali memeluk buku erat-erat.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Rdedaktur Dwi Puspitasari

Jurnalis Official BIL Fest 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *