Bersama Penulisnya, BIL Fest 2026 Bedah Novel “Rahasia Salinem” Sebagai Catatan Sejarah Indonesia

PURWOKERTO – Bincang Inspiratif yang membedah novel “Rahasia Salinem” karya Wisnu Suryaning Adji dan Brilliant Yotenega di Hetero Space Banyumas, Selasa, (16/06/2026). Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Banyumas International Literacy Festival 2026 ini menghadirkan langsung kedua penulis beserta penggerak literasi lokal, Hikmandari (Iik), sebagai penanggap utama dengan dipandu oleh moderator Ilham Rabbani.

Diskusi interaktif yang berlangsung selama seratus dua puluh menit tersebut mengupas tuntas perjalanan hidup tokoh Salinem sebagai representasi sejarah mikro masyarakat kecil. Melalui sudut pandang orang biasa, narasi besar sejarah bangsa Indonesia sejak era pendudukan Belanda hingga krisis moneter tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan berhasil dihadirkan kembali secara emosional.

Sesi bedah buku ini dibuka oleh penjelasan Brilliant Yotenega mengenai latar belakang penciptaan karya yang bersumber dari penelusuran sejarah keluarganya sendiri. Pria yang akrab disapa Ega tersebut menceritakan bahwa pencarian identitas mengenai sosok perempuan tua di keluarganya yang ternyata bukan nenek kandungnya menjadi pemantik awal riset.

Proses investigasi keluarga yang dimulai sejak tahun dua ribu tiga belas itu awalnya direncanakan untuk menyusun sebuah buku biografi tokoh domestik. Namun, keterbatasan data historis yang valid dan rigid membuat Ega memutuskan untuk mengubah format penulisan menjadi sebuah novel fiksi sejarah.

Langkah penulisan novel tersebut semakin mantap ketika Ega bertemu dengan Wisnu Suryaning Adji dalam sebuah ajang perlombaan cerita pendek tingkat nasional. Wisnu yang saat itu masih berstatus sebagai seorang pengusaha restoran akhirnya setuju untuk berkolaborasi dan memfokuskan dirinya menjadi penulis.

Dalam kesempatan yang sama, Wisnu memaparkan motivasi utamanya bersedia menuliskan kisah Salinem didorong oleh sensitivitas pribadinya terhadap dinamika konflik antarkelas sosial. Penulis tersebut melihat adanya sebuah fenomena unik yang jarang diangkat ke permukaan, yaitu bagaimana lingkaran masyarakat kelas bawah justru hadir menyelamatkan kehidupan kaum kelas atas.

“Kisah Salinem itu menarik karena membahas salah satunya mengenai fenomena antarkelas sosial. Di novel ini, digambarkan bahwa kelas bawah justru menyelamatkan kaum atas,” terang Wisnu.

Wisnu menegaskan bahwa fenomena sosial tersebut merupakan realitas yang sangat menarik sekaligus aneh di tengah struktur kemasyarakatan yang timpang. Pola penyelamatan kaum kaya oleh masyarakat miskin ini yang kemudian mendasari konstruksi plot utama di dalam buku “Rahasia Salinem”.

Terkait muatan ideologi dalam novel, Wisnu mengakui adanya muatan isu feminisme dan kesadaran gender yang disisipkan secara kuat di sepanjang narasi cerita. Ia sempat merasakan kekhawatiran dan keresahan personal mengenai kapasitas dirinya sebagai seorang pria yang harus menyuarakan isi kepala serta pengalaman ketubuhan seorang perempuan.

Penulis membeberkan tantangan intelektualnya dalam mengonstruksi pemikiran Salinem, terutama karena keterbatasan biologis seorang pria dalam memahami proses kehamilan hingga melahirkan. Berkat kepekaan tersebut, Wisnu memandang fenomena perjuangan Salinem berhasil mengubah total perspektif pribadinya terhadap sistem patriarki yang berlaku di masyarakat luas.

Sosok Salinem dikisahkan sebagai seorang perempuan yang dibuang oleh pihak keluarganya namun berhasil bertahan hidup melewati berbagai pergolakan zaman. Guna menghindari fenomena pernikahan anak yang marak terjadi pada masa itu, tokoh Salinem diceritakan mengambil keputusan besar untuk menikah pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh dua-an.

Dalam proses kreatifnya, Wisnu menyatakan bahwa ia tidak memandang genre fiksi murni sebagai sebuah karya seni visual yang bebas tanpa batas. Dirinya lebih memilih menggunakan pendekatan pola matematika yang terstruktur dengan meletakkan sudut pandang penceritaan secara presisi untuk menggambarkan realitas kelompok masyarakat bawah.

Pendekatan teknis tersebut diaplikasikan agar pembaca dapat melihat dunia secara objektif dari kacamata kaum marginal yang sering kali tereduksi dalam buku sejarah formal. Wisnu berargumen bahwa penempatan sudut pandang yang tepat akan membawa nilai kemanusiaan universal serta meruntuhkan batasan peran manusia yang diciptakan oleh sekat-sekat kelas.

Penggerak literasi Purwokerto, Hikmandari, memberikan tanggapan bahwa seluruh pembahasan dalam buku tersebut sangat relevan dengan realitas sosiopolitik kehidupan modern saat ini. Perempuan yang akrab disapa Iik itu menjelaskan bahwa aspek sejarah dalam novel ini merekatkan jiwa-jiwa individu yang hidup melintasi tiga zaman krusial.

Periodisasi sejarah yang mengikat emosi pembaca dimulai dari masa sebelum kemerdekaan seribu sembilan ratus empat puluh lima-an, pascakemerdekaan, hingga tragedi kemanusiaan seribu sembilan ratus enam puluh lima-an. Iik juga memuji pola penulisan Wisnu dalam novel “Rahasia Salinem”, di mana bab ganjil memuat penceritaan sejarah masa lalu sedangkan bab genap mengulas kehidupan pasca-kematian Salinem.

Iik menambahkan bahwa novel ini menguraikan situasi pelik perempuan yang dihadapkan pada pilihan antara memperjuangkan hak atau menerima nasib secara pasrah. Tokoh Salinem digambarkan secara apik sebagai representasi perempuan kuat yang menolak menyerah dan selalu bertanggung jawab penuh atas segala keputusan hidup yang diambilnya.

“Pada novel in ikan perempuan dihadapkan hanya pada dua pilihan, yakni, antara memperjuangkan haknya atau menerima nasib secara pasrah dengan kehidupan tradisional,” ujar Hikmandari.

Melalui persahabatan tiga tokoh perempuan yaitu Salinem, Suratmi, dan Kartinah, pembaca diperlihatkan kontras yang tajam mengenai kepemimpinan perempuan antar-kelas. Suratmi dan Kartinah yang berasal dari kalangan elite aristokrat justru hidup dalam kekangan tradisi feodal, sementara Salinem yang miskin memiliki kebebasan membentuk jiwa kepemimpinan.

Meskipun demikian, Iik memberikan kritik bahwa karakter Salinem terkadang digambarkan terlalu kuat dan idealis sehingga terkesan tidak memiliki celah kesulitan hidup. Menanggapi kritik tersebut, Wisnu menegaskan bahwa sejak awal dirinya menolak keras memosisikan perempuan sebagai korban ketidakadilan zaman yang lemah tanpa daya.

Penulis ingin menepis stigma kelemahan tersebut dengan menunjukkan bahwa perempuan mampu hidup mandiri mengandalkan kekuatan internal yang mereka miliki sendiri. Harapan utama dari penulisan novel ini adalah memberikan edukasi gender kepada pembaca pria serta menyuarakan nilai kemanusiaan yang melampaui sekat dikotomi kelas sosial.

Ketika moderator menanyakan alasan ketiadaan tokoh antagonis mutlak dalam buku, Brilliant Yotenega memberikan jawaban filosofis yang menutup sesi diskusi malam itu. Ega menjelaskan bahwa satu-satunya entitas jahat dalam struktur cerita fiksi sejarah ini adalah jeratan keadaan nasib tragis yang tidak dapat dilawan oleh manusia.

Pada akhir acara, Wisnu menyampaikan pesan terakhir yang mengajak seluruh audiens untuk membiasakan diri menulis demi menyatukan berbagai kebenaran dunia yang berserakan. Novel “Rahasia Salinem” ini diproduksi dengan bahasa yang sederhana agar isu perbedaan kelas dapat dipahami oleh generasi muda sejak dini.

“Biasakan untuk menulis dan tidak perlu menjadi penulis, karena dunia dapat dipandang dengan benar jika semuanya menulis. Setelahnya semua tulisan dapat disatukan yang akan menghasilkan sebuah kesimpulan yang benar,” pungkas Wisnu.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaktur Novandi Ali Akbar

Jurnalis Official Banyumas International Literacy Festival 2026. Instagram @novandiali_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *