Diskusi Mendalam di BIL Fest 2026: Alvin Qodri Lazuardy Mengajak Peserta Bincang Inspiratif Memahami Risalah Ekologis

PURWOKERTO – Gelombang kesadaran hijau di kalangan generasi muda muslim kembali menemukan pemantiknya. Sebuah ruang diskusi kritis bertajuk Bincang Inspiratif “Risalah Ekologis II: Selamet-kan Alam! Nyala Perlawanan Memulai dengan Jale Pikiran” sukses digelar, membedah secara radikal krisis lingkungan modern melalui pisau analisis teologi, sejarah, dan filsafat epistemologis di BIL Fest 2026, Selasa, (16/06/2026).

Menghadirkan Alvin Qodri Lazuardy, acara ini menempatkan risalah ekologi bukan lagi sekadar sebagai wacana hijau yang pasif, melainkan sebuah agenda besar sebuah maklumat perlawanan yang terstruktur terhadap ketamakan korporasi dan kebijakan culas perusak bentala bumi.

Frasa “Selamet-kan Alam” yang diusung dalam tajuk diskusi ini membawa dua resonansi kuat. Di satu sisi, ia adalah seruan darurat untuk menyelamatkan bumi. Di sisi lain, ia adalah refleksi spiritual yang puitis: seperti halnya seseorang yang memasuki hutan dengan niatan keselamatan (selamet), maka menjaga alam adalah buah yang harus dipanen bersama untuk dinikmati sebagai bekal perlawanan terhadap kesewenang-wenangan.

Diskusi ini menyoroti bagaimana alam hari ini telah dipaksa tunduk pada paradigma Egosentris di mana manusia merasa berada di puncak piramida dan berhak mengeksploitasi segalanya tanpa batas. Pemanfaatan lahan monokultur secara ugal-ugalan seperti gurita industri sawit dinilai sebagai bentuk nyata dari tanam paksa gaya baru.

“Dulu di sepanjang jalan Daendels, bumi dipaksa untuk satu komoditas demi ekonomi penjajah. Hari ini, polanya berulang. Hutan heterogen dihancurkan, biodiversity lenyap, rakyat lokal menanggung bencana banjir, dan ironisnya mimbar-mimbar agama justru sering kali meninabobokan umat dengan narasi ‘sabar’ yang keliru,” ungkap Alvin.

Sub-tema “Nyala Perlawanan Memulai dengan Jale Pikiran” menjadi tesis utama dalam pergerakan ini. Diskusi menegaskan bahwa krisis lingkungan hari ini pada hakikatnya berakar dari krisis berpikir dan hilangnya adab (the loss of adab).

Adab didefinisikan ulang bukan sekadar sebagai tata krama fisik personal, melainkan sebuah tindakan yang tepat (right action) untuk meletakkan segala sesuatu secara proporsional (Al-Adlu) sesuai fitrah penciptaan Allah.

Perlawanan ekologis tidak bisa dimulai dengan otot semata, melainkan harus diawali dengan “Jale Pikiran” menjajajaki, menjahit, dan meretas kembali jalan pikiran kita. Dari yang awalnya egosentris, didekonstruksi menuju cara pandang Ekosentris yang selaras dengan alam. Perangkat berpikir inilah yang diwadahi oleh Ar-Ruh dan digerakkan oleh Al-Aqlu (akal) sebagai modal terbesar manusia yang membedakannya dengan makhluk purba perusak masa lalu.

Bincang Inspiratif ini juga menjadi jembatan transmisi ilmu yang mengais kembali ijtihad-ijtihad raksasa para ulama, mulai dari Fikih Sosial gagasan Kiai Ali Yafie, panduan Fikih Al-Bi’ah Syekh Yusuf Al-Qaradawi, hingga produk hukum kontemporer seperti Fikih Transisi Energi Berkeadilan. Forum mendorong agar pilar hukum Islam (Maqashid asy-Syari’ah) diperluas secara eksplisit untuk memasukkan unsur keenam: Hifzh al-Bi’ah (Menjaga Lingkungan).

Sebagai manifestasi nyata di lapangan, forum juga membagikan keberhasilan praktik Ekoliterasi, perkawinan antara literasi buku berbasis khazanah klasik seperti Kitab al-Filaha dengan aksi kultivasi bumi di tingkat akar rumput (seperti budidaya pisang Cavendish), serta mengapresiasi mulai tumbuhnya gerakan Eco-Pesantren di berbagai daerah.

Acara yang menyasar para pemuka agama, ustaz muda, serta young muslim ini ditutup dengan sebuah komitmen Bersama yakni, menghentikan kemandekan suara masjid dan mengubah Toa pengajian agar mulai berani menyuarakan keadilan ekologis. Nyala perlawanan telah dimulai dari isi kepala, dan siap mewujud menjadi aksi gerilya menjaga kelestarian bumi

Sesi bincang publik ini semakin hangat saat memasuki ruang diskusi interaktif. Beberapa peserta, yang mayoritas merupakan representasi gerakan young muslim, santri, dan akademisi lintas disiplin, melayangkan kegelisahan yang sama. Mengapa jika khazanah ekologi Islam begitu kaya, gaungnya hampir tidak terdengar di tingkat tapak pedesaan?

“Kita punya sumber ilmu yang luar biasa dari para kiai dan pesantren. Namun, transmisi itu sering kali disrupted, patah di tengah jalan. Forum dan risalah ini hadir untuk menjadi ‘penyambung kabel’ yang putus itu. Kita menerjemahkan bahasa fikih yang berat menjadi narasi perlawanan populer yang taktis bagi anak muda,” tegas Alvin.

Tidak ingin sekadar menjadi ajang retorika semata, Bincang Inspiratif Risalah Ekologis II ini merumuskan tiga poin rekomendasi aksi konkret yang disebut sebagai “Ikhtiar Mengais Sarung Kiai” yakni, sebuah analogi kultural untuk menghidupkan kembali nyala api perjuangan para ulama terdahulu.

Pertama adalah Restrukturisasi Kurikulum Dakwah Populer mendorong para dai muda dan ustaz di tingkat hulu untuk merekonstruksi materi khotbah Jumat dan pengajian majelis taklim dengan memasukkan analogi kezaliman ekologis lokal (seperti pencemaran sungai domestik, krisis sampah, dan monopoli lahan).

Kedua, Sinergi Interdisipliner (Sains, Hukum, dan Teologi), Membuka ruang-ruang tadabur seminal, di mana data-data kerusakan ekosistem dari ilmu biologi dan kehutanan dijembatani secara elastis dengan instrumen hukum Islam (qiyas) untuk menetapkan status hukum dosa yang eksplisit bagi pelaku perusakan alam.

Yang terakhir yakni, Replikasi Model Ekoliterasi, Mendesak komunitas pemuda muslim dan pesantren-pesantren untuk mereplikasi gerakan hybrid (gabungan literasi dan kultivasi). Meniru pola pengolahan sampah mandiri, pembentukan unit usaha hijau (ecobiz), hingga pemanfaatan khazanah literatur pertanian klasik untuk ketahanan pangan lokal.

Acara yang berlangsung secara hibrida ini ditutup dengan sesi refleksi filosofis yang mendalam di sela-sela tegukan kopi para peserta. Di penghujung acara, ditegaskan kembali bahwa perjuangan menjaga bumi bukanlah opsi sekunder dalam berislam, melainkan manifestasi mutlak dari sifat Ihsan itu sendiri, ihsan kepada Allah, sesama manusia, dan alam sekitar.

“Ingat pesan Rasulullah, jika esok hari kiamat dan di tanganmu masih ada sebutir biji tanaman, maka tetap tanamlah! Optimisme ekologis ini yang harus kita bawa. Ketika kita melangkah ke luar dari ruangan ini, jale pikiran kita sudah teretas, adab kita sudah direkonstruksi. Sekarang saatnya memanen buah pikiran ini menjadi bekal perlawanan nyata di lapangan. Selamet-kan alam, hidup young muslim!” terang Alvin.

Diskusi berakhir seiring gemuruh tepuk tangan peserta, meninggalkan nyala api kesadaran baru yang siap membakar kemapanan paradigma egosentris yang selama ini merusak bentala dan belantara nusantara

Dampak dari Bincang Inspiratif Risalah Ekologis II ini diproyeksikan tidak akan berhenti di dalam ruang diskusi. Panitia penyelenggara menyatakan bahwa risalah yang dihasilkan dalam pertemuan ini akan segera disusun menjadi sebuah dokumen manifesto digital yang dapat diakses oleh publik secara luas. Dokumen ini diharapkan menjadi panduan taktis bagi gerakan mahasiswa lintas sektoral dan organisasi kepemudaan Islam dalam melakukan advokasi kebijakan publik yang berbasis keadilan lingkungan.

Perwakilan dari beberapa komunitas literasi dan penggerak lingkungan yang hadir juga menyatakan komitmennya untuk segera mengintegrasikan isu ekosentris ini ke dalam program kerja mereka di daerah masing-masing.

“Ini adalah momentum yang sangat krusial. Selama ini kami bergerak di bidang literasi secara umum, namun setelah mendengarkan urgensi the loss of adab terhadap alam, kami sadar bahwa mengawinkan ekologi dan literasi (ekoliterasi) adalah langkah konkret untuk menyelamatkan generasi mendatang dari kebutaan ekologis,” ungkap salah satu penggerak rumah baca komunitas yang hadir sebagai peserta.

Sebelum forum resmi ditutup, seluruh elemen yang hadir mulai dari akademisi, santri, mahasiswa, hingga aktivis lingkungan berdiri bersama melakukan ikrar simbolik. Dengan tangan mengepal ke udara, mereka menegaskan kembali mandat manusia sebagai pemikul amanah besar di bumi (Khalifah fil Ardh), yang dibekali oleh perpaduan antara Ar-Ruh (roh) dan Al-Aqlu (akal) yang aktif.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Rdedaktur Dwi Puspitasari

Jurnalis Official BIL Fest 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *