Komunitas Yuk Ngaji Purwokerto hadir pada gelaran BIL Fest 2026, Talkshow inspiratif tersebut bertajuk “Mencari Makna di Setiap Kata”, Selasa, (16/06/2026). Guna memperkuat budaya literasi dan semangat transformasi diri di kalangan pemuda Muslim setempat.
Agenda ini berlangsung atraktif dan dihadiri oleh puluhan audiens mulai dari remaja hingga dewasa. Yuk Ngaji Purwokerto dengan pembicaranya, Azmir dan Alif dipandu langsung oleh Budi selaku moderator.
Acara intelektual yang berlangsung interaktif ini diawali dengan penampilan senandung musik akustik yang dibawakan secara syahdu oleh dua musisi muda, Aldi dan Faris. Setelah sesi tersebut, moderator langsung mengambil alih panggung dengan memberikan permainan ringan untuk mengasah konsentrasi peserta guna mencairkan suasana.
Memasuki materi pertama mengenai literasi dalam perspektif Islam, Azmir membuka sesinya dengan mengajak seluruh audiens melafalkan kalimat hamdallah bersama-sama sebagai wujud syukur. Dokter yang cukup aktif dalam dunia literasi ini membagikan kisah perjalanan literasi pribadinya melalui pendekatan diskusi santai yang dirancang sangat relevan dengan realita kehidupan anak muda modern.
Meskipun mengaku bukan seorang pembaca maniak yang sanggup melahap puluhan buku dalam sekejap, ia menegaskan bahwa hakikat sejati dari literasi adalah tidak pernah berhenti belajar. Ia juga membawa properti buku novel fiksi “Negeri 5 Menara” yang dibacanya saat duduk di bangku SMP sekitar tahun 2010 sebagai pemantik awal motivasi belajarnya dalam merantau.
“Literasi menurut saya adalah tidak dengan berhenti belajar, walaupun saya bukan pembaca maniak yang dapat menghabiskan banyak buku. Buku pertama yang menemani jalan literasi saya adalah novel Negeri 5 Menara ketika saya masih duduk di bangku SMP tahun 2010,” ujar Azmir.
Menurutnya tokoh Alif dalam novel fiksi Negeri 5 Menara menginspirasinya untuk merantau tanpa takut batasan ruang dan waktu. Ia memaparkan bahwa dalam hal membaca, kita harus memulainya dari jenis buku yang disukai terlebih dahulu untuk menjaga stabilitas minat baca sebelum meningkat ke bacaan serius.
Aktivitas membaca fiksi tersebut mendorong Azmir aktif menulis karya puisi yang banyak terinspirasi dari tulisan-tulisan legendaris milik sastrawan besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Menurut pandangannya, konsistensi membaca harus dirawat dengan memulainya dari jenis buku fiksi yang disukai seperti karya Tere Liye sebelum melangkah ke topik yang lebih serius.
Bahan bacaan yang dikonsumsi secara berkelanjutan akan membentuk dasar pemikiran, tindakan nyata, hingga akhirnya mengkristal menjadi sebuah identitas diri yang kuat bagi seorang manusia. Ia mencontohkan perintah “Iqra” sebagai instruksi bagi pemuda Muslim untuk memiliki kepekaan sosial dalam menyaring informasi berdasarkan pandangan hidup berlandaskan nilai Islam.
“Ayat pertama yang turun adalah Iqra yang berarti membaca hal-hal di sekeliling kita untuk kemudian dikembalikan ke perspektif Islam. Karena manusia memiliki keterbatasan dalam literasi dan ilmu pengetahuan, maka jalan paling baik adalah menyandarkan ilmu kita kepada wahyu Sang Pencipta,” terangnya.
Mengingat manusia memiliki keterbatasan pikiran (character of mind) dalam menyerap informasi, jalan terbaik adalah dengan senantiasa menyandarkan seluruh ilmu pengetahuan kepada wahyu Ilahi. Sikap teguh berlandaskan wahyu agama Islam ini dinilai menjadi solusi paling sederhana bagi pemuda agar berani bertindak sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Alif Indura yang mengawali pembicaraan dengan menyapa peserta di tengah kondisi cuaca kota Purwokerto yang belakangan ini sering diguyur hujan. Ia menjelaskan latar belakang pendidikan formalnya sebagai seorang ekonom, meskipun sejak kecil ia justru memiliki ketertarikan dan minat besar pada buku-buku sejarah.
“Latar belakang saya sebenarnya adalah seorang ekonom, namun buku pertama yang saya baca justru sejarah,” ungkap Alif Indura.
Memanfaatkan momentum hari pelaksanaan yang bertepatan dengan satu Muharram, Alif mengupas tuntas sejarah perumusan sistem kalender Hijriyah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Penanggalan Islam tersebut disepakati para sahabat dihitung sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW karena merupakan momen krusial saat dakwah Islam mulai diterima luas oleh publik Madinah.
Alif menerangkan bahwa momentum tahun baru Hijriyah ini harus dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri (muhasabah) serta meningkatkan ketakwaan demi menghadapi hari esok di akhirat. Ia turut mengutip nasihat teologis dari ulama besar Imam Al-Ghazali yang mengingatkan manusia bahwa Allah SWT akan selalu ada mengawasi kita dalam kehidupan maupun kematian.
“Imam Al-Ghazali pernah menuturkan bahwa Allah itu akan selalu ada ketika kamu berada di dalam rumah atau di luar rumah. Teman dan seluruh keluarga pada akhirnya akan hilang berpisah, tetapi Allah SWT akan terus ada di sisi kita dalam kondisi hidup maupun mati,” tegas Alif.
Saat sesi tanya jawab interaktif dibuka, seorang peserta bernama Fikri mengajukan pertanyaan mengenai rahasia kekuatan komunal dari eksistensi gerakan Yuk Ngaji Purwokerto. Azmir menjelaskan bahwa komunitas ini berakar pada interaksi positif dan proses belajar bersama yang konsisten ia ikuti sejak masa kuliah tahun 2018 hingga tahun 2026 ini.
Alif kemudian menambahkan bahwa Yuk Ngaji mengadopsi konsep teman hijrah yang memandang setara setiap anggota tanpa melihat aspek ketokohan melainkan nilai kemanfaatan forum. Ia menganalogikan konsistensi pasca-hijrah atau istiqomah seperti sebuah pohon kokoh yang membutuhkan lingkungan pertemanan (circle) baik agar tidak mudah goyang oleh godaan.
Visi besar dari gerakan Yuk Ngaji Purwokerto sendiri berfokus pada upaya menggalang seluruh potensi kebaikan umat menuju kebangkitan peradaban yang mulia. Pada akhir acara, Budi selaku moderator menyimpulkan bahwa literasi berfungsi membentuk identitas Muslim sedangkan hijrah mencakup aspek transformasi non-fisik.




