Kegiatan workshop kepenulisan reportase dalam rangkaian Banjoemas Heritage Week 2026 sukses menyulap suasana eks Keresidenan Banyumas yang bersejarah menjadi wadah kreatif yang hidup dan relevan bagi generasi muda.
PURWOKERTO. Kisah pilu dari bangunan tua yang terbengkalai sudah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Orang tak lagi heran ketika melihat bangunan tua yang hampir roboh dimakan waktu. Seakan menjadi hal yang lumrah untuk melihatnya perlahan merebah pada tanah. Semua yang lalu akan tergantikan bila ia tak lagi relevan dengan zaman.
Tapi tak sepenuhnya anggapan itu benar. Tercermin dari hidupnya bangunan eks Keresidenan Banyumas atau yang kini dikenal dengan Hetero Space Banyumas. Bangunan tersebut terletak di Jalan Jend. Gatot Subroto No.75, Dusun Sitapen, Kelurahan Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Melalui pelaksanaan kegiatan workshop kepenulisan reportase yang mengangkat tema “Mengarsipkan Peristiwa Menjadi Berita” yang diadakan di sana. Workshop ini merupakan satu dari sekian rangkaian kegiatan Banjoemas Heritage Week 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 September 2026. Pelaksanaannya diikuti oleh belasan peserta dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Tak mengherankan bila banyak orang yang mengikuti karena acaranya gratis dan terbuka untuk umum. Apalagi informasi workshop-nya dapat diakses dengan mudah melalui media sosial, sehingga tidak eksklusif tertuju pada kalangan tertentu saja.
Sesi Materi dan Tidak Sekadar Teori
Pemateri pada sesi pertama diisi oleh Rahmi Wijayanti selaku pendiri & direktur Omera Pustaka. Ia mengingatkan agar seseorang melakukan sesuatu pada apa yang ia suka. Jangan sampai apa yang dikerjakan ternyata bertentangan dengan diri kita sendiri. Seperti halnya pada saat seseorang menjadi jurnalis. Sejatinya menjadi jurnalis berangkat dari pembahasan apa yang disukai dan diminati. Kedua, jurnalis berarti menjadi induk yang dapat melahirkan gagasan-gagasan lain. Ketiga, menjadi jurnalis adalah seni membaca dan mengemas suatu hal agar dapat disajikan kepada orang lain.
Sesi kedua diisi oleh Fikri Kuncen selaku pimpinan redaksi bilfest.id. Materi yang dibawakan mengenai pentingnya konsep 5W+1H dalam pembuatan berita, termasuk reportase. 5W+1H yakni who (siapa), where (di mana), when (kapan), what (apa), why (mengapa), dan how (bagaimana). Konsep ini menjadi fondasi penting yang tak boleh terlewat dalam pembuatan reportase.
Apalagi konsep 5W+1H ini dikuatkan dengan pendalaman pembacaan berita lama. Sebuah berita TEMPO edisi 12 Agustus 1989 berjudul “Antara Martabat dan Ngojek” yang diunggah oleh Tempo. Para peserta diajak untuk membedah berita tersebut dengan konsep 5W+1H. Sehingga peserta bisa praktik menganalisis bagaimana pengemasan berita yang dimuat media massa.
Kesan Bangunan dan Harapan di Dalamnya
Secara keseluruhan, pelaksanaan acara dapat berjalan dengan lancar. Apalagi hal ini juga didukung dengan kondisi ruangan acara yang nyaman. Tidak ada satu pun kesan bangunan tua seperti bangunan terbengkalai, cat dinding yang mengelupas, debu yang memenuhi ruangan, dan lain sebagainya. Malahan ruangan tersebut dikemas dengan rapi, bersih, tertata, dan nyaman digunakan.
Sehingga bisa dikatakan, kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam rangka revitalisasi bangunan tua. Menghidupkan bangunan dengan sebuah kegiatan yang membawa kebermanfaatan bagi sekitar. Hetero Space Banyumas bukanlah sebuah tempat untuk mengubur memori-memori dari zaman yang telah lalu. Tetapi bangunan tersebut tetap relevan dengan generasi sekarang dan tak lekang oleh zaman.




