Mahasiswa Magister Psikologi UMP Gelar Pelatihan “Faith–Knowledge–Action” di Panti Asuhan Al-Maa’uun Wangon

WANGON. Mahasiswa Program Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Shinta Fadhillah Widriyani dan Azka Miftahudin, melaksanakan pelatihan psikologi bertajuk “Faith–Knowledge–Action: Program Penguatan Self-Regulation dan Karakter Moral Remaja Muslim” di Panti Asuhan Al-Maa’uun Wangon, Jl. Panti Asuhan No. 8, Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (4/10/2026).

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari implementasi pembelajaran mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK)/ Program Magister Psikologi UMP yang diampu oleh Assoc. Prof. Dr. Darodjat, M.Ag. Pelatihan mengintegrasikan pendekatan psikologi dengan nilai-nilai Islam untuk membantu remaja mengembangkan kemampuan mengatur diri sekaligus membangun karakter moral dalam kehidupan sehari-hari.

Tema Faith–Knowledge–Action dipilih untuk menggambarkan tiga unsur yang saling berkaitan dalam pembentukan perilaku remaja. Faith menempatkan iman sebagai kompas batin, knowledge membantu remaja memahami pikiran, emosi, serta konsekuensi dari pilihannya, sedangkan action mengarahkan pemahaman tersebut menjadi perilaku nyata yang dilakukan secara konsisten.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta dikenalkan dengan konsep self-regulation, yaitu kemampuan mengatur pikiran, emosi, dan tindakan agar tetap mengarah pada tujuan yang baik.  Materi disampaikan melalui contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti keinginan menyalin jawaban tugas dari teman, dorongan membalas pesan dengan kasar ketika marah, hingga kesulitan mempertahankan fokus belajar karena notifikasi, permainan, maupun media sosial.

Tidak hanya memperoleh materi, peserta juga diajak berdiskusi dan melakukan refleksi terhadap berbagai situasi yang mungkin mereka hadapi. Salah satu keterampilan praktis yang diberikan adalah “Rumus 5 Detik Sebelum Bertindak”, yaitu berhenti sejenak (stop), menarik napas, mengingat tujuan dan nilai yang ingin dijaga, memilih respons yang paling bertanggung jawab, kemudian melakukan pilihan tersebut.

Pelatihan juga mengintegrasikan regulasi diri dengan nilai-nilai karakter moral Islam, seperti muraqabah, sabr, ukhuwah, empati, adab, dan tanggung jawab. Peserta diajak memahami bahwa karakter tidak hanya tercermin dari apa yang dikatakan, tetapi terbentuk melalui pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara berulang dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Shinta, penguatan regulasi diri pada remaja menjadi semakin bermakna ketika tidak hanya berorientasi pada kemampuan mengendalikan perilaku, tetapi juga memiliki landasan nilai yang menjadi alasan mengapa seseorang memilih melakukan hal yang baik.

Melalui konsep Faith–Knowledge–Action, kami ingin mengajak remaja memahami bahwa mengatur diri bukan sekadar menahan keinginan atau menaati aturan karena ada yang mengawasi. Remaja perlu memiliki kesadaran dari dalam dirinya. Iman memberi arah, pengetahuan membantu memahami pilihan, dan tindakan menjadi bentuk nyata dari nilai yang diyakini,” ungkap Shinta.

Sementara itu, Azka menekankan pentingnya membawa konsep psikologi ke dalam aktivitas sederhana yang dekat dengan keseharian remaja.

Kami ingin materi self-regulation tidak berhenti sebagai konsep. Peserta diajak melihat situasi yang benar-benar mereka alami, kemudian belajar mengenali emosi, memberi jeda sebelum bereaksi, mempertimbangkan konsekuensi, dan menentukan tindakan yang lebih bertanggung jawab,” jelas Azka

Sebagai tindak lanjut, peserta diperkenalkan dengan “7 Hari Faith–Knowledge–Action Challenge”. Tantangan tersebut berisi kebiasaan sederhana, mulai dari menetapkan niat pada pagi hari, memberi jeda sebelum bereaksi, melakukan 30 menit aktivitas secara fokus, melakukan satu kebaikan secara diam-diam, menjaga lisan dan komunikasi di ruang digital, menahan satu godaan, hingga melakukan muhasabah.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Magister Psikologi UMP berharap ilmu psikologi dapat diimplementasikan secara kontekstual sekaligus terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Remaja tidak hanya diarahkan untuk mengetahui mana yang baik dan buruk, tetapi juga memiliki kemampuan psikologis untuk mengelola dirinya sehingga mampu mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab.

Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama. Peserta diajak mengenali hal-hal yang selama ini menjadi pemicu hilangnya kontrol diri serta menentukan satu tindakan nyata yang ingin mulai dilakukan setelah mengikuti pelatihan.

Pesan utama kegiatan tersebut terangkum dalam kalimat “Faith gives direction. Knowledge gives clarity. Action builds character” — iman memberi arah, ilmu memberi kejernihan, dan tindakan membentuk karakter.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tim Redaksi

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu ujian kesabaran pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *