PURWOKERTO — Hari pertama rangkaian Hetero Fest 2026, Jumat (2/10/2026), diisi dengan agenda bincang buku. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Inkubasi Penulis Banyumas yang diselenggarakan oleh BIL Fest. Setelah melalui proses panjang, buku Gang Damai karya Adenisa R.P. akhirnya resmi hadir di tangan pembaca. Adenisa merupakan mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Buku yang meraih penghargaan Ahmad Tohari Awards 2025 ini merupakan karya sastra berbentuk novel. Penulis memotret realitas di sebuah gang pinggiran kota dengan gaya bahasa yang santai serta mudah dicerna oleh berbagai kalangan. Beragam isu keseharian yang dekat dengan masyarakat menjadi sumber inspirasi utama karya ini.
Selaras dengan kemasan bukunya yang ringan, perbincangan buku pun dikemas dalam konsep yang santai. Tim BIL Fest menyajikan pendekatan baru dalam mendiskusikan buku—tidak kaku seperti seminar akademis atau bedah buku pada umumnya.
Konsep kali ini “menghidupkan” para tokoh novel keluar dari lembar teks melalui kemasan teatrikal. Pembahasan buku dibawakan langsung oleh Ngindana Aghists Zulfa sebagai pengulas yang berperan sebagai teman Adenisa R.P., menggambarkan suasana dua ibu muda yang sedang bercengkerama.
Sejumlah pemeran turut menghidupkan suasana panggung: Piton (Ketua Karang Taruna) bertindak sebagai moderator, Rahmi Wijaya (Founder BIL Fest) berperan sebagai Bu Lurah, Neo Amroni sebagai pengemudi ojek daring (ojol), serta Fikri Kuncen yang tampil sebagai hansip.
Gabungan antara diskusi dan pertunjukan teatrikal tersebut berhasil menjaga antusiasme peserta. Hadirin dari berbagai tingkatan usia tampak larut dalam suasana peluncuran novel yang diterbitkan oleh Omera Pustaka ini.
Selain mendengarkan pemaparan dari penulis dan pengulas, peserta diajak berinteraksi aktif melalui sesi tanya jawab dan berbagi cerita, baik mengenai isi novel maupun metode penulisannya. Sekitar 40 peserta yang hadir terkesan dengan konsep peluncuran yang segar tersebut. Pendekatan ini tidak hanya relevan bagi generasi Z, tetapi juga memberi inspirasi bahwa kegiatan literasi dapat dikemas secara dramatis dan menyenangkan tanpa kehilangan bobot maknanya.


